Dalam salah satu ayatNya, kira-kira Allah mengatakan begini :” Aku ciptakan engkau berbangsa-bangsa, bersuku-suku supaya saling mengenal, dan saling berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan”.

Pada Kenyataan riil, manusia hanya menuruti perintah Allah sesuai ayat diatas hanya sebagian saja, artinya dipenggal-penggal , atau tidak tahu dan tidak mengerti kalau ayat ini ada, dan kemungkinan lainnnya adalah, tidak mengerti dan memahami aplikasi ayat ini dalam dunia yang nyata.

Marilah kita tinjau dari salah satu sudut pandang; Kita diciptakan sesuai Sunatullah berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, atau bahasa populernya memang sudah dari “sononya” seperti itu, harus berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dan tidak punya hak pilih untuk lahir dari bangsa apa atau suku mana, sudah takdir, ……… namun apa kenyataan yang terjadi?….. orang beda suku, beda bangsa , saling bertikai, saling mencemooh, saling curiga, dan lebih parah lagi saling berperang dan saling membunuh,….. dan bersorak gembira kalau suku atau bangsa yang menjadi musuhnya celaka, atau dibuat celaka, perang yang membunuh menjadi tontonan ……. hal inilah yang menimbulkan semangat kebangsaan dan menimbulkan semangat kesukuan yang sempit , atau bahasa kerennya adalah semangat nasionalisme yang semula dianggap baik namun ternyata merupakan kurungan yang sempit dan berasal dari Ego kelompok, ……… padahal berdasarkan ayat diatas , semangat ego kelompok itu adalah semangat yang menentang ayat Allah dan keliru…. namun tidak disadari, ….. hasilnya adalah perang dan permusuhan yang tiada henti seperti Israel dan Palestina, atau India dan Pakistan….., atau banyak contoh-contoh yang lain yang bisa ditambahkan sendiri oleh sidang pembaca.

Perintah ayat selanjutnya bahwa penciptaan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku itu, agar kita saling mengenal, ……… dalam kehidupan sehari-hari kita memang sudah saling mengenal, baik itu sebagai tetangga, teman sekolah, teman kerja, teman partai, dan dalam pergaulan Internasionalpun telah terbangun lembaga diplomatik dan lembaga Persatuan Bangsa Bangsa (PBB), ……. tetapi fakta yang terjadi kita hanya saling mengenal titik…….. tidak ada perkenalan yang betul-betul ikhlas, biasanya hanya faktor basa-basi yang tidak murni dasarnya hanya kepentingan, hanya formalitas dan kepatutan saja yang palsu dan penuh selubung dan tabir, atau hanya bersifat jual beli saja, ……..sehingga yang terasa dan tampak pada pandangan nurani adalah tidak peduli, saling mendahulukan kepentingan diri sendiri, kalau masih belum jelas lihatlah “wajah” lalu lintas kita,……. karena disitulah nampak jelas praktek ego pribadi, ego keluarga, ego kelompok, ego golongan….. ego Bangsa, sehingga yang ada adalah hubungan yang formalitas, bukan hubungan yang saling tulus, saling menolong-menolong. Sehingga masyarakat warga (Civil Society) mempunyai ikatan yang lemah… karena sarat dengan kepentingan dan sarat dengan kurungan Ego……… sudah lazim diketahui bahwa para diplomat itu adalah utusan intelejen yang berbaju resmi diplomat , baik itu intelejen politik, ekonomi, maupun intelejen yang lain.

PBB menjadi mandul dan hanya formalitas untuk kepantasan dan kelengkapan budaya modern, namun efektifitasnya patut dipersoalkan, dan menjadi legitimasi kelompok tertentu saja….. lihatlah ketika ketidak adilan diciptakan oleh Amerika dan Israel beserta konco2nya, maka PBB tidak bisa berbuat maksimal…… negara-negara yang punya hati nurani dan masih percaya bahawa PBB bisa berbuat sesuatu, selalu kalah dengan Veto dari Pihak Amerika dan para sekutunya , dan kalaupun Resolusi yang merupakan hasil kerja keras para negarawan sudah dicanangkan dan resmi dikeluarkan, dalam prakteknya tidak digubris…….., seolah dibuang dalam tong sampah.

Kelanjutan ayat itu adalah ……. saling berlomba-lomba, manusia hanya berhenti sampai disini saja , lihatlah perlombaan-perlombaan disegala bidang kehidupan , dan gairah berlomba-lomba makin menggila terkadang menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan, ….. memang dalam salah satu sisi perlombaan akan memacu semangat adrenalin, mempunyai hal positif, dan menimbulkan kreatifitas…. namun coba kita evaluasi dengan adanya perlombaan yang tiada henti ini, dan persaingan terus menerus,……… yang tenjadi adalah penghancuran si Kuat pada si Lemah dengan sistematis, karena persaingan yang tidak adil. Ibarat pertandingan tinju para Borjuis yang berkelas berat lawan si Miskin yang berkelas nyamuk, maka sekali pukul saja akan KO, atau pertandingan sepakbola antara kesebalan Brasil yang lima kali juara Dunia lawan kesebelasan Indonesia yang tak pernah juara. Dengan situasi pertandingan dan persaingan yang tidak fair ini hasilnya bisa diduga dengan gamblang bahwa si borju yang kaya akan semakin kaya, dan simiskin akan semakin miskin dan jumlahnya akan selalu bertambah.

Penghancuran alam dan pencemaran lingkungan akibat eksplorasi sumber energy dan limbah pabrik yang beracun, menimbulkan malapetaka di mana-mana,….. seperti fenomena Global warming, yang menyebabkan gelombang laut makin menggila, hujan makin deras sehingga menimbulkan bencana longsor dan banjir, kekeringan yang panjang ketika kemarau datang, ……. perubahan iklim ini akan makin memburuk kalau tidak kita cegah bersama-sama……. ini wujud dari perlombaan itu….. seperti halnya sistem kapitalis yang menghendaki pasar bebas dan sistem ini punya rumah ideal yaitu Demokrasi Liberal yang diagungkan oleh sebagian besar orang itu namun punya cacat lahir itu, dan bersifat ambigu.

Namun perintah Allah secara jernih berakhir pada berlomba-lombalah untuk berbuat kebaikan, ……. perintah ini sangat jelas dan tegas, perlombaan akan menjadi baik dan produktif, tidak saling menghancurkan, tidak saling membunuh, tidak saling mencederai…… tidak merusak lingkungan,……. kalau perlombaan itu untuk kebaikan…… memang pada dasarnya manusia itu selalu merugi dan menganiaya diri sendiri…… pintu taubat masih terbuka, dan taubat boleh dilakukan rame-rame secara jamaah, dengan fenomena Global warming, bencana finansial Global,…. orang miskin semakin bertambah….. penyakit seperti aids dan kanker yang makin ganas…… seharusnya menyadarkan manusia akan hasil perbuatan rame-rame dan kolektif yang salah itu…….. sudah waktunya dan sekaranglah waktunya walaupun agak terlambat untuk kembali ……. kembali untuk memenuhi perintah Allah yaitu berlomba-lomba berbuat kebaikan….. mulailah dari sendiri, kemudian keluarga, teman sekantor, teman se RT, RW, kelurahan , kecamatan, kabupaten, propinsi , ….Nasional, …Benua kemudian warga Dunia….. sadarlah dan……… mulailah dari sekarang!!!,…… berlomba-lombalah untuk kebaikan , semoga Allah tersenyum bila perlombaan itu sesuai dengan perintahNya.

sumber: merdeka2.blogspot.com