Suatu ketika datanglah seseorang membawa manisan (permen atau sejenisnya), kemudian ia letakkan permen itu diatas meja yang ada seekor semut diatasnya. Sang semut melihat-lihat manisan itu lalu ia memanggil teman-temannya dengan menggerak-gerakkan dua rambut (antenna) yan gada diatas kepalanya sambil bertkata; “wahai teman-temanku aku melihat makanan disana, ku lihat ada sebutir permen!”. Teman-temannya datang bergrombol mendatanginya lalu mengikuti arah yang ia tunjukan diamana permen itu berada.

Sebelum semut-semut itu sampai,orang tersebut mengambil permennya. Ketika mereka sampai dan tidak mendapatkan permen tersebut mereka berkata ; “hai kawan, mana permen itu ?”. ia pun menyahut pertanyaan teman-temannya; “sungguh tadi aku melihatnya disana”. Dengan penuh rasa kecewa teman-temannya pun kemudian kembali ketempat sarang mereka.

Sang semut pun pergi meninggalkan tempat itu perlahan  sambil berpikir hingga mengerutkan dahinya. ia pun terus merenung dan bertanya tanya dalam dirinya; “kenapa permen itu bisa menghilang, padahal jelas-jelas aku tadi meihatnya!”. kemudian orang tadi meletakkan permennya lagi. Ketika sang semut melihat tempat tadi ia pun melihat permen itu lalu ia kembali memanggil teman-temannya dan meyakinkan mereka bahwa permen itu memang ada. Tatkala mereka hendak mendatangi tempat tadi orang tersebut mengambil permennya lagi. Tatkala mereka sampai dan tidak melihat adanya permen ditempat itu mereka meninggalkan tempat tersebut sambil mengejek/menghina/menuduh sang semut tadi bahwa ia pembohong.

Sang semut pun kecewa dan hampir putus asa. Kemudian orang tadi meletakkan kembali permennya. Ketika sang semut melihatnya lagi ia pun berusaha mengecek kemudian ia kembali memanggil teman-temannya dengan penuh rasa yakin bahwa kali ini ia akan membuktikan bahwa dirinya benar-benar melihat dan telah mengecek pemen tersebut. Sebelum para semut datang ketempat tesebut orang tadi mengambil lagi permennya.

Ketika mereka sampai ketempat tersebut dan tidak mendapatkan permen tersebut mereka mul dongkol lalu mereka mengeroyok sang semut tersebut dan menghajarnya sampai ia mati.

Disunting dari kitad miftahu darrus sa’adah karangan ibnul qoyim.

Dari sini kita dapat mengambil ibrah wahai kawan, ternyata semut lebih unggul dari manusia. Ketika ia mendapatkan sesuatu yang membuat ia senang maka ia akan mengajak teman-teman sejawatnya untuk bisa menikamati juga. Seolah mereka adalah makhluk yang bersosial tinggi dan jauh dari sifat serakah. Lalu bagaiman dengan kita? Allah telah memberikan kesempurnaan penciptaan kepada manusia maka tentunya kita harus lebih bermanfaat bagi orang lain.

Iangatlah wahai sobat, sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang ia bermanfaat bagi orang lain.