Menuntut ilmu adaalah suatu kewajiban yang mulia di dalam islam. Hal ini ditegaskan ddi dalaam Al-Qu’an dan hadits Naabi saw. Bahkaan ilmu landasan berpijak bagi seorang muslim sebelum melangkah pada tahap amaal.

“ketahuilah bahwasannya tiada Ilah (yang haq) melainkan hanya Allaah.” (Muhammad : 19).

Begitu urgennya prihal ilmu ini sampai-sampai Imam Syafi’i Rahimahullah berkata:

“menuntut ilmu itu lebih afdlal daripada melakukan sholat sunnah.” (Syarafu Ashabi’l-Hadits, Khatib Al-Baghdadi : 193)

Pernyataan beliau ini berdasarkan hadits Rasulullah  saw. Yang berbunyi:

“keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah dan sebail-baik dienmu adalah wara’.” (Shahih Jami’ Ash-Shaghir No : 4214)

Wahab bin Munabbih (114 H) berkata:

“lantaran ilmu orang yang hina menjada mulia, yang rendah menjadi terhormat, yang jauh menjadi dekat, yang miskin menjadi kaya, dan yang tadinya diremehkan menjadi berwibawa,” (Tadzkiratu’s-Sami’ wa’l-Mutakallim, Ibnu Jama’ah : 34)

ILMU YANG BERMANFAAT

Imam Al-Auza’i berkata:

“yang dinamakan ilmu adalah apa-apa yang dating dari para sahabat Nabi saw. Adpun yang seeelain itu bukanlah ilmu.” (Fadlu Ilmi’s-Salaf ‘ala’l-Kholaf, Ibnu Rajab : 30).

Sofyan Ats-Tsauri berkata: “sesungguhnya ilmu itu adalah yang dapat menimbulkan rasa takut kepada Allah,” (Al-Amru bi’l-Ittiba’, As-Suyuthi : 309)

Imam Syafi’i berkata:

“bukanlah ilmu ilmu itu segala apa yang dapat dihafal, akan tetapi ilmu itu adalah apa-apa yang bermanfaat.” (Hilyatu’l-Aulia’, 9 / 123)

Beliau juga mengatakan:

Ilmu itu adalah yang ada didalamnya perkataan hadatsana (telah berkata kepadaku [yakni hadits Rasulullah saw), adapun yang selainnya hanyalah godaan Syaithon belaka.”

Demikian pula halnya dengan Ibnul Al-Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah, beliau mengatakan:

“yang dimaksud dengan ilmu ialah yang terkandung dalam firman Allah swt. Sabda Rasulullah saw. Dan perkataan para sahabat. Bukan perkataan selainnya (orang yang setelahnya).”

Perkataan Ibnul Qayyim tersebut memberikan pengertian bahwa segala persoalang yang kita hadapi hendaknya dikembalikan kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Atsar sahabat. Sebab pada masa mereka dienul islam ini telah sempurna sebagaimana disebut dalam surat Al-Maidah ayat 3:

“pada hari ini telah aku sempurnakan bagi kalian dien kalian (islam)……”

Abu Dzar menggambarkan tenteng kesempurnaan islam ini pada masanya dengan mengatakan:

“ketika Rasulullah saw, meninggalkan kami, tidaklah se-ekor burungpun yang mengepakkn sayapnya di langit kecuali beliau sampaikan ilmunya kapada kami. Ia (Abu Dzar) berkata: “Rasulullah saw, brsabda: “tidak tersisa sesuatupun yang dapat mendekatkan ke surga dan dapat menjauhkan dari neraka melainkan telas dijelaskan kepada kalian”. (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir II / 166 dengan sanad shahih)

menurutIbnu Rojab Al-Hanbali, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu-ilmu tentang nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pemahaman kandungan maknanya dengan mengacupada atsar para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin, demikian pula tentang permasalaha halal dan haram (lihat Fadlu Ilmi’s-Salaf ‘ala’l-Kholaf, Ibnu Rajab :32)

seorang tokoh salaf yaitu Muhammad Ibnu Siirin berkata:

“selamaseseorang itu berpegang kepada atsar maka ia berada diatas jalan yang lurus.” (Sunan Ad-Darimi, 1 / 66).

Oleh karena itu imam Asy-Sya’bi tatkala menasehati Ibnu Abjur, beliau berkata:

“apa-apa yang diceritakan orang kepadamu  kalau itu bersumber dari sahabat Rasulullah saw, maka ambilah, tetapi kalau mereka mengatakannya darin pikiran mereka maka kencingilah (maksutnya camoakkanlah ilmu tersebut).” (Syarafu Ashabul Hadits, 139)

KEBENARAN ILMU DIBUKTIKAN DENGAN AMAL

Ilmu yang hakiki tidak hanya tebatas pada apa yang diucapkan oleh bibir, apa yang ditulis diatas kertas atau apa yang disimpan dalam otak, namun ilmu yang hakiki adalah ilmu yang diterjemahkan oleh pemiliknya dalam bentuk amal.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata:

“seorang alim itu masih tetap dikataksn jahil dengan apa yang ia ketahui, sehingga ia mengamalkan ilmunya, jika ia telah mengamalkannya baru dikatakan ‘alim.” (Iqtidhau’l-Ilmi Al-Amal, Khatib Al-Baghdadi : 37).

Ibnu Arobi berkata:

“seorang ‘alim belum dapat dikatakan Robbani sehingga ia menjadi seorang ‘alim yang mengajarkan sekaligus mengamalkan ilmunya.” (Fathu’l-Baari, Ibnu hajar : 1 / 218).

Seorang sahabat yang dijuluki Rasulullah saw, sebagai orang yangb paling tahu tentang halal dan haram yaitu Muadz bin Jabal, ia berkata:

“beramalah sekehendakmu setelah kamu berilmu, karena Allah tidak akan memberi ganjaran atas ilmu sehingga kamu mengamalkannya.” (Sunan Ad-Darimi :1 / 93).

Oleh karena itu Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah benar-benar konsekuen dengan hal ini sebagaimana beliau katakan pada Al-Marrudzy: “didaklah aku menulis sebuah haditspun melainkan aku telah mengamalkannya, hingga akusam[pai pada sebuah hadits: bahwasanya Nabi saw, berbekam dan memberikan satu dinar kepada Abu Thayyibah.” Maka ketika aku berbekam maka akupun memberikan satu dinar kepada tukangnya,” (Siyar A’lam Nubala’, Adz-Dzahabi : 11/ 213)

Pada suatu ketika Abu Qilabah berkata kepada Ayyub As-Sikhtiyani:

“wahai Ayyub! Jika Allah menganugerahkan suatu ilmu, maka amalkanlah sebagai bukti pengabdianmu kepada Allah dan jannganlah keyakinanmu semata-mata menyampaikan ilmu tersebut kepada manusia.” (Iqtidha’ul-‘Ilmi Al-Amal : 35)

IKHLAS NIAT, HINDARKAN MAKSIAT!

Ibrahim An-Nakha’I Rahimahullah berkata:

“barang siapa yang menuntut ilmu semata-mata karena Allah, niscaya Allah akan memberikan kepadanya apa-apa yang mencukupinya.” (Kitabu’l-Ilmi, Al-Khaitsamah An-Nasa’i : 9).

Adh-Dhahhak bin muzahim berkata:

“tidaklah seseorang itu mempelajari Al-Qur’an kemudian ia lupa melainkan karena dosa yang ia perbuat.” (Az-Zuhud, Abdullah bin Mubarak : 85)

Yahya bin yahya berkata:

“seseorang bertanya kepada Malik bin Anas, hai Abu Abdillah! Adakah hal yang dapat membuat baik hafalan ? beliau lantas menjawab: ada, yaitu meninggalkan maksiat.” (Al-Hats-tsu ‘ala Hifdzil Hadits, Khatib Al-Baghdadi : 8)

Seorang tokoh tabiin Hasan Al-Bashry berkata:

“tidaklah sah suatu perkataan kecuali dengan amal, dan tidak sah perkataan dan amal kecuali dengan niat, dan tidak sah pula perkataan, amal dan niat, kecuali dengan mengikuti sunnah.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahli’s-Sunnah, Al-Laa lika’i : 1/ 63)

Abu Abdillah Ar Rodzabary berkata:

“ilmu itu tergantung kepada amal, dan amal itu tergantung pada kaikhlasan, dan dengan ikhlas karena Allah itulah yang akan mewariskan kepahaman (dien) Allah.” (I’tiqadla’u’l-Ilmi Al-Amal :32)

(Syarafu Ashabul Hadits,

(Sunan Ad-Darimi,

(Hilyatu’l-Aulia’,

(Syarafu Ashabi’l-Hadits, Khatib Al-Baghdadi :

(Tadzkiratu’s-Sami’ wa’l-Mutakallim, Ibnu Jama’ah :

(Al-Amru bi’l-Ittiba’, As-Suyuthi :

(Fadlu Ilmi’s-Salaf ‘ala’l-Kholaf, Ibnu Rajab :

(Siyar A’lam Nubala’, Adz-Dzahabi :

(Syarh Ushul I’tiqad Ahli’s-Sunnah, Al-Laa lika’i : 1/ 63

(Al-Hats-tsu ‘ala Hifdzil Hadits, Khatib Al-Baghdadi :

(Kitabu’l-Ilmi, Al-Khaitsamah

(I’tiqadla’u’l-Ilmi Al-Amal :32)