Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun sedang berjalan dengan ceria. Rambutnya dikepang dua, cantik dan lucu. Pipinya membulat, matanya bersinar cemerlang, jernih. Tak ada beban di hatinya. Dengan ceria, dilangkahkannya kakinya setengah menari.

“Linda…!”

Teriak seorang anak lelaki yang berlari di belakangnya. Tas punggungnya yang bergambar doraemon bergoyang-goyang karena terguncang.

“Tunggu aku dong” anak lelaki berteriak lagi, kali ini dengan jarak yang lebih dekat.

“Ada apa Dim?” gadis kecil bernama Linda itu memainkan kepang rambutnya.

“Kita ke sungai yuk,” anak lelaki bernama Dimas itu mengajaknya bermain.

“Ngapain?” wajah si gadis kecil tetap ceria, semburat di pipinya nampak kemerahan.

“Cari udang” jawab Dimas seraya menyambar tangan gadis itu, menariknya berlari ke pinggir sungai.

Sepasang merpati kecil itu segera berlarian di pinggir sungai yang landai. Ibu-ibu yang sedang mencuci di lanting meneriaki mereka.  “Dimas, Linda, hati-hati…”

Tapi dunia mereka berbeda. Dunia anak kecil tak bisa disamakan dengan dunia orang dewasa. Mereka punya alam sendiri, alam bermain. Sepasang merpati kecil itu terus saja berlarian, lempar-lemparan kerikil, tertawa riang, tanpa beban.

Di tepi yang paling landai, sepasang merpati kecil itu kemudian menghentikan larinya. Dimas meletakkan tas punggung doraemonnya di rerumputan yang basah, kemudian diatasnya ditaruhnya tas Linda. Keduanya duduk berselonjor, lalu menyandarkan punggungnya di pohon besar yang tumbuh di pinggir sungai.

”Dimas, kamu berasal dari mana sih?” Linda kecil mengambil beberapa batu kecil, kemudian melemparkannya ke air. Ceplung!

”Kata bu guru, kita berasal dari kasih sayang ayah ibu” dimas mencoba menjelaskan, tangannya juga mengambil batu kecil, kemudian melemparkannya ke air, lemparannya lebih jauh dari Linda.

”Trus?” pipi tembem gadis kecil itu semakin membulat, dahinya mengkerut.

”Terus, jadi zigot, setelah sembilan bulan, baru aku keluar dari perut ibu” Dimas menjelaskan panjang lebar. Batu-batu kecil masih saja berjatuhan ke air sungai yang mengalir cukup deras itu.

”O..gitu ya, kemarin, Titin aku tanya Titin darimana asalnya, dia bilang, dia dari Bandung, ternyata kamu dari zigot ya?!” gadis kecil itu tertawa geli. Mata Dimas kecil melotot ke arahnya. Seketika, tangan-tangan jahilnya mulai menggelitiki perut teman kecilnya itu, membuat  gadis kecil itu tertawa ngakak. Kemudian sepasang merpati kecil itu kembali berlarian menyusuri tepi sungai.

”Awas kamu ya…!” Dimas mengejar teman kecilnya, tangannya menjinjing sepasang sepatu birunya.

“Ayo kejar kalo bisa, we……” Linda kecil menjulurkan lidahnya.

Mereka terus berlarian dengan riang gembira. Sesekali lemparan kerikil kecil tepat mengenai pantat Linda.

Dunia anak kecil memang dunia yang berbeda. Dunia bermain, dunia hiburan, dunia tertawa, dunia keceriaan, dunia canda, dunia berlari, itulah dunia mereka.

”Aw…!!!”

Linda berteriak. Dari belakang, Dimas melihat kaki merpati kecilnya itu terpeleset, seketika gadis kecil itu sudah timbul tenggelam hanyut dibawa arus.

”Dimas, tolongin aku” teriak Linda.

Sekuat tenaga Dimas berlari mengejar Linda dari tepi sungai. Linda masih mengecipakkan tangannya di air yang bermuncratan kesana kemari. Arus sungai cukup deras, sehingga Dimas harus berlari lebih kencang lagi untuk bisa mengejar Linda. Tak ada yang dipikirkannya saat itu, selain Linda.

Sekitar lima menit setelah itu,

Byur!!!

Dimas menceburkan badannya mengejar merpati kecilnya. Dia lupa tidak bisa berenang, sehingga sebelum sempat menyelamatkan Linda, dia ikut terbawa arus sungai yang deras. Keduanya kemudian berteriak kencang, sesekali terlihat, sesekali tenggelam. Ya Allah…

Seorang Bapak yang sedang memancing di jukung melihat kejadian itu. Segera dia menceburkan diri untuk menyelamatkan kedua anak itu. Gerakan tangan dan kakinya yang lincah mampu mengejar kedua anak yang hanyut terbawa arus itu. Setelah berhasil menggapai badan Dimas, bapak itu kemudian mengejar Linda sambil terus memeluk Dimas di tangan kirinya.

Beberapa detik kemudian, kedua anak kecil itu sudah berada dalam pelukan tangannya. Perlahan dia berenang menuju jukungnya yang ditambatkan dengan sauh di tengah sungai. Setelah memasukkan kedua anak kecil itu ke dalam jukungnya, tangan kekarnya mengayuh jukung ke pinggir sungai, di sana sudah menunggu Bu Dewi, ibu Dimas dan Bu Jaya, ibu Linda.

Air mata berderai dari kedua ibu itu. Keduanya berteriak histeris melihat anak mereka. “Dimas…Linda…!” bergantian mereka memanggil kedua nama itu, bersahut-sahutan.

Segera mereka memeluk anak masing-masing. Air mata masih berderai dari keduanya, sesenggukan dan teriakan histeris masih terdengar. Sementara ibu-ibu lain yang juga sedang mencuci di sungai hanya bisa terpana. Mungkin mereka membayangkan seandainya kejadian itu terjadi pada anak mereka.

Sepasang merpati kecil itu masih ngos-ngosan. Baju sekolahnya basah kuyup, membuat kondisi mereka semakin mengiris hati. Sesekali terdengar batuk-batuk dari kedua anak kecil itu.

***

”Makanya, ibu bilang juga apa, jangan main-main di sungai” Bu Dewi marah-marah.

”Kalau ga ada pak Amin gimana?” mata Ibu masih melotot. Dimas kecil hanya bisa tertunduk, mukanya masih pucat ketakutan. Begitupun Linda.

”Bu, Dimas mau nolongin Linda, Bu” Linda membela merpatinya.

“Tapi kamu kan ga bisa berenang” mata ibu memelototi Dimas.

“Tapi Dimas ga mau Linda mati, Bu” Dimas membuka suara.

Bu Dewi terdiam. Dipeluknya Linda dan anaknya yang masih pucat ketakutan. Ada sorot bangga di matanya. Senyumnya menyungging di kedua ujung bibirnya.