Ternyata, waktu seminggu terlalu lama. Betul sekali. Menunggu adalah aktivitas yang paling membosankan.  Apalagi yang ditunggu adalah sesuatu yang mendebarkan seperti ini. Kucoba mengalihkan pikiranku pada hal-hal yang lebih bermanfaat. O iya, Kampanye Jilbab sebentar lagi, acaranya tanggal 5 Februari, sekarang sudah 25 januari. Proposal sudah selesai diprint, tinggal disebar.

”Dodo, kamu sebar ke Bank ini ya, kemarin akh Fauzan, amir kita yang keren itu, sudah masukin  ke rektorat, lumayan dapat satu juta dua ratus.” Dodo mengangguk.

”Dimas,” sepertinya Dodo mau membuka pembicaraan baru.

”Sekarang Sinta berjilbab, lho” lanjutnya sambil membubuhkan stempel pada halaman rekomendasi proposal.

”Alhamdulillah, emang kenapa?” mataku masih terfokus pada surat menyurat di depanku. Sebuah surat kulipat, kemudian kumasukkan kedalam amplop.

”Kayaknya sih gara-gara kamu”

”Kok bisa?” kuhentikan aktivitasku sebentar. Mataku mengejar mata Dodo.

”Masih ingat cewek dan kue nggak?”

”Yang mana? O…yang itu, iya. Tapi mana mungkin Cuma gara-gara itu,” aku merendah.

“Ya…yang namanya hidayah, Dim,”  ucapnya, masih sambil membubuhkan stempel.

“Berarti kan emang di tangan Allah, ga ada campur tanganku”.

Aku berdiri, menekan tombol on pada kipas angin. Siang ini panas sekali.

Sambil menyelesaikan kelengkapan proposal lainnya. Kami membicarakan Sinta. Bukan untuk dinikmati, tetapi ada hal yang memang diperlukan. Kata Dodo, pacar Sinta kaget dengan perubahan Sinta. Sinta bilang ke pacarnya, bahwa aku yang membuat dia begitu. Sampai di sana sebenarnya dia masih bis terima perubahan Sinta. Tapi ketika Sinta dengan tegas memutuskan hubungan mereka, pacarnya jadi dendam sama aku. Katanya sih dia nantangin aku berantem. Aku males meladeni.

”Do, udah zhuhur, kamu yang adzan ya, aku mau ke WC dulu” sebelum Dodo setuju, aku langsung berjalan ke WC, sudah tidak tahan. Tak lama, kudengar dari speaker outdoor suara Dodo mengalun dengan merdu, meski ada sedikit falesnya juga. Logat hulu sungainya tidak kedengaran ketika adzan.

Usai shalat. Aku pulang ke kos. Mau tidur sebentar, tadi malam begadang menyelesaikan beberapa surat sponsorship. Aku tertidur sekitar lima belas menit, lumayan untuk mengumpulkan energi baru. Kebiasaanku setiap bangun tidur adalah ngecek HP, siapa tahu ada miss call atau SMS yang masuk. Ternyata benar. Ada SMS, dari nomer yang tidak kukenal.

” Sok alim! Klo kmu jg sk sm Snta, yg jntan dnk, jgn main blkg. Pkkny klo Sinta g mau balik lg sm aku, awas kmu!”

Ngapain diladenin. Masalah ummat Islam masih banyak yang belum diselesaikan. Mending mikirin ummat. Kayak ga ada kerjaan aja.

***

Hari yang dijanjikan telah tiba. Hari ini, tepat seminggu setelah aku menyatakan niatku pada Linda. Jantung semakin berdebar, debarnya lebih kencang dibanding saat menyatakan. Ini adalah saat penentuan, apakah proses ta’aruf akan dilanjutkan, atau terhenti. Sebenarnya aku optimis, karena kutahu Linda pernah mencintaiku. Namun, di sisi lain aku pesimis, justeru karena kami pernah bersama, dia jadi malu padaku. Ah…, ini adalah niat baik, semoga Allah memudahkan urusan ini. Kalau diterima Alhamdulillah, kalau ditolak, Allahuakbar. Kalau diterima, berarti proses berlanjut, dan aku bisa mendapatkan pahala yang lebih besar lagi. Kalau ditolak, bukankah aku sudah berniat? Niat baik kan diganjar satu pahala dari Allah SWT.

Bismillahi tawakkaltu alaika, Ya Allah.

Kucari nama Linda Hafizha dari phonebook HP-ku. Kutekan panggil. Terdengar suara tut…tut…beberapa kali. Debar semakin kencang. Jantung memompa darah lebih cepat dari biasanya. Ya Allah, gugup sekali. Dan…tersambung! dia mengucap salam. Kujawab salamnya. Kutanyakan kabar. Baik katanya. Aku bingung membuka pembicaraan. Dia bertanya ada apa?

”eng…ng….” kenapa sulit sekali kalimat itu terucap?

”ada apa akhi?” tanyanya, aku semakin gugup. Kalimat pendek itu seperti tertahan di kerongkonganku. Ya Allah, fasihkan lisanku, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku. Amin.

”Mau nanya jawaban saya ya?”  dia menebak tujuanku. Tepat sekali. Aku mengiyakan. Setelah itu ia berbicara panjang lebar, sepertinya ia berusaha membangun pemahaman, agar aku tidak salah paham ketika mendengar keputusannya. Seandainya keputusannya tidak bersedia, mungkin dia berharap aku tidak terlalu sakit hati. Seandainya keputusannya bersedia, bisa jadi dia harap aku tetap bisa jaga hati.

Dia bercerita tentang istikharahnya setiap malam selama seminggu ini. Dia juga bercerita tentang konsultasinya pada ustadzahnya. Dari penjelasannya, kutangkap ada tanggapan negatif dari ustadzahnya. Katanya kami masih terlalu muda. Ah, menurutku wajar. Karena ustadzah yang dimaksudnya jauh lebih tua, sampai sekarang belum menikah juga. Menurutku itu perasaan yang manusiawi dari seorang wanita dewasa yang belum menikah.

“Kalo ukhti sendiri, keputusannya bagaimana?” tanyaku denan suara bergetar tipis.

”Antum siap menerima segala keputusan saya kan?”

”Insya Allah, ukhti, apapun keputusannya” jawabku lesu.

”Seandainya saya tidak bersedia melanjutkan proses ini, antum juga siap kan?” dia memancing rasa penasaranku.

”Begini akhi, saya mempunyai standar khusus untuk menerima ikhwan sebagai suami saya. Ikhwan itu harus shalih, itu sudah tentu. Yang kedua, memiliki pemikiran yang jernih, artinya tidak sekedar shalih, tapi bisa membedakan mana yang benar mana yang salah dengan sangat jelas. Saya juga ingin ikhwan itu siap menikah, bukan sekedar pengen menikah. Insya Allah antum menerti maksud saya,” dari seberang sana, sepertinya gadis itu ingin terus memancing penasaranku.

”Lalu?” suaraku masih bergetar.

”Dan menurut saya, antum memenuhi kualifikasi itu” jawabnya mantap. Mungkin dia sedang tersenyum. Aku masih penasaran, memang aku merasa ada lampu kuning, tapi belum tentu ikhwan yang lulus kualifikasi itu pasti diterima.

”Maksud Anti?” tanyaku penasaran, keringat dingin mengucur.

”Ya, proses ini bisa dilanjutkan”

Alhamdulillah. Ya Allah, tarima kasih telah memudahkan urusanku. Hamdan wa syukran Alaika Ya Allah.

Debar yang tadi mengganggu kini telah pergi. Yang tersisa hanya nyanyian-nyanyian riang di hatiku. Siapa yang tidak gembira ketika gayungnya bersambut? Tak terkecuali aku, seorang Dimas Alfiannor yang lemah ini.

Kami lalu membicarakan hal-hal lainnya. Dia menanyakan kapan aku menemui ayahnya. Aku bertanya balik padanya, kapan dia bisa. Dia bilang secepatnya. Kami lalu membicarakan rencana-rencana lainnya. Tentang rumah, tentang kriteria, tentang jurus menghadapi orangtuanya. Dia bertanya kerjaku dimana. Aku jawab seadanya, aku belum bekerja. Dia bertanya lagi, dengan apa aku menghidupinya. Aku bilang dengan rizqi dari Allah. Dia bertanya, rizqi darimana kalau aku belum bekerja?. Aku jawab, dari hasil menulis cerpen di koran dan di majalah. Aku juga beritahu dia, sebentar lagi novelku terbit. Insya  Allah, hasilnya cukup untuk menghidupi dia. Setelah ngobrol cukup panjang. Aku mengucap salam. Dia jawab salamku. Lalu tepon kututup.

Kutempelkan dahiku di lantai. Subhanallah, walhamdu lillah, walaailaaha illallah, wallahu akbar. Aku lalu bangkit dari sujud syukurku. Senyum cemerlang menghias wajahku. Menatap masa depan yang cerah. Bayangan wajahnya kembali berkelebat di depan mataku. Ah, kamu.