MENJELANG Ujian Nasional (UN) sebagian besar siswa, orangtua dan guru, diliputi perasaan waswas dan tegang. Apalagi hasil try out baru-baru tadi, banyak yang nilainya jeblok. Padahal, mereka sudah ikut bimbingan belajar dan pengayaan materi di sekolah.

Dari beberapa pengalaman terdahulu, bahkan anak yang sering dapat ranking kelas pun ada yang tidak lulus UN. Ternyata kecerdasan otak (IQ) saja belum merupakan jaminan sukses UN. Untuk mencapai keberhasilan perlu pula ditopang dengan kejernihan hati (SQ).

Seperti di SMP dan SMA Islam Terpadu Qardhan Hasanah Banjarbaru, tiga tahun terakhir ini siswanya lulus UN 100 persen. Rupanya, di samping mengasah otak, mereka juga menggunakan metode pendekatan agama.

“Rajin salat, membaca Alquran, zikir, dan puasa waktu ujian, serta mengucapkan selawat saat melingkari kunci jawaban, itulah yang membuat siswa hebat,” ujar Ketua Yayasan Qardhan Hasana, Ir H Ahmad Gazali.

Menurutnya, metode tersebut bukanlah karangan manusia, melainkan sesuai sunah Rasulullah.

Dengan pencerahan hati, lanjut Gazali, siswa menjadi tenang dan itu berpengaruh pada kecerdasan otak mereka. “Kecerdasan otak yang didorong oleh kebersihan hati akan memudahkan dapat petunjuk langsung dari Allah,” tegasnya.

Berdasarkan pengalaman, banyak siswa yang semula lupa, kemudian menjadi pulih ingatan mereka, sehingga dengan mudah mampu menyelesaikan semua soal. Itulah keajaiban hati yang cerah dan selalu dekat dengan Allah SWT.

Gazali menyarankan, belajar yang efektif dan dirahmati Allah adalah pada waktu otak segar dan didahului dengan membaca Alquran. Hindari belajar pada waktu sedang mengantuk.

“Kalau mengantuk segera tidur, namun harus distel HP untuk bangun kembali. Bila sudah agak payah belajar, selingi dengan istirahat,” imbuhnya.

Minimal dua bulan sebelum UN, kata Gazali, perlu mengadakan perubahan pola tidur dan waktu belajar. Dianjurkan tidur jam 21.00 dan bangun lagi jam 03.00 (tidur enam jam bermutu) terus mandi. Kemudian dirikan Tahajud dan Salat Hajat.

“Belajar dengan didahului membaca Alquran sampai waktu Salat Subuh. Bila agak payah belajar atau agak mengantuk, selingi dengan mengaji untuk mendapat obat yang sehat dan petunjuk Allah SWT,” lanjutnya.

Nurliana, mahasiswi Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari, mengaku sukses UN tahun lalu. Di samping giat berikhtiar dengan belajar jauh-jauh hari, waktu itu ia juga tak lupa meningkatkan sisi spiritual.

“Sebelum UN saya sering Tahajud dan salat Hajat. Tidak lupa selalu berdoa memohon kepada Allah agar diberi petunjuk. Menjelang hari pelaksanaan UN saya juga minta ampun pada orangtua dan saudara, sekaligus minta didoakan,” ujarnya.

Dengan meningkatkan kadar ibadah, kata Nurliana, ia merasa lebih pede dan tenang. Walaupun agak gugup, tapi tidak sampai menggangu konsentrasi. “Alhamdulillah nilai UN saya memuaskan, sehingga bisa masuk perguruan tinggi tanpa tes,” akunya.

(ali)

sumber: http://www.banjarmasin.co.id