by Wisnu Aryo Setio

Sebenernya, apa sih hal yang selalu kita impikan?

Jaman kecil dulu aku pasti punya sesuatu hal yang membuat aku kepingin bangun besok pagi. Ah, aku inget! Filosofi ini muncul saat jamannya Nokia 3310. Jadi, sebelum tidur aku selalu membayangkan bahwa someday aku pasti bisa beli HP itu. Dulu aku emang seorang handphone-freaks. Tanya aja sama orang-orang di sekelilingku, bener ga tuh? Nah, setelah HP itu bisa terbeli, pas malem-malem aku jadi ngga semangat lagi. Seolah di dunia ini udah ngga ada lagi tujuan. Okay, konsep ini emang keliatan bodoh banget, tapi kadang-kadang hal ini ada benernya juga loh. Pernah suatu saat aku baca di majalahnya Papi bahwa konsep ini bisa diibaratkan seperti ilustrasi di bawah ini.

“Seekor keledai pada hari itu tidak mau berjalan. Baru sebentar saja berjalan, ia beranjak diam lagi. Sang pemilik kebingungan, padahal ia butuh untuk bepergian. Akhirnya ia ikatkan sebatang wortel menggunakan kayu dan tali, dan ia letakkan beberapa sentimeter dari wajah si keledai. Si keledai akhirnya mau juga berjalan untuk mengejar wortel tersebut, karena ia lapar. Tapi setiap kali si keledai akan maju untuk menggigit wortel tersebut, si pemilik memajukan wortelnya beberapa senti lagi, sehingga si keledai terus berjalan mengejar wortel tersebut. Jika si keledai berhasil mendapat wortel tersebut, maka berakhirlah. Ia tidak punya tujuan lagi untuk berjalan. Sampai pada saatnya sang pemilik memiliki umpan baru lagi untuk digantung di depan wajah keledai itu.”

Begitulah, manusia seperti kita juga pasti punya mimpi. Anak TK bermimpi dibelikan mainan. Anak SD bermimpi dibelikan game. Anak SMP bermimpi dibelikan gadgets. Anak SMA bermimpi dibelikan motor. Anak kuliahan bermimpi punya mobil. Masuk kerja bermimpi punya istri. Udah punya istri bermimpi punya anak. Udah punya anak mimpi punya rumah. Udah punya rumah mimpi punya mobil mewah. Udah punya mobil mewah mimpi punya motor gede. Pokoknya teruus aja ngga ada habisnya.

Tapi buat aku, inilah yang bisa bikin kita hidup. Hidup dalam artian “hidup” yang sebenarnya. A passionate life. Kalau manusia udah nggak punya mimpi lagi, berarti udah saatnya dia buat pergi ke tingkat selanjutnya. Well, mungkin tipe orang seperti Soe Hok Gie-lah yang sedikit kurang beruntung. Karena saat dia masih punya banyak mimpi yang bergelora, malah saat itu juga ia pergi ke tingkat selanjutnya, meninggalkan mimpi-mimpinya menjadi mimpi-mimpi yang tak pernah terwujudkan.

Nah, moral of the story-nya adalah, wujudkan mimpi-mimpi kamu sebelum terlambat. Daripada misalnya mimpi pengen kawin tapi keburu mati, ntar kita bisa jadi arwah penasaran lagi, hiiy! Pokoknya sebisa mungkin lakukan apa yang kita bisa sebelum terlambat.

sumbar: simplyiyo.com