Sembahlah Tuhanmu sampai datang suatu keyakinan kepadamu.” (Al-Hijr : 99)

Saudaraku, coba kita ingat dikala kita memilki sebuah baju baru yang merek dan modelnya belum ada yang menggunakannya selain kita, ada sedikit bangga bahkan sangat bangga yang kita rasakan, karena kita mampu tampil beda dan lebih baik dari orang lain. Terasa sakit hati ini bila tidak ada yang memperhatikan atau menanyakan harganya. Lama kelamaan baju seperti yang kita miliki itu juga digunakan oleh orang lain, hati kita sudah mulai biasa-biasa karena memang baju kita sudah mulai buram, sudah kena tinta dikantongnya, kerahnya sudah banyak kata-kata mutiaranya atau kancingnya sudah ada yang lepas.

Kita mulai menyadari diri kita bahwa bukan kita saja yang bisa membelinya. Akhirnya setiap hari kita menggunakan baju tersebut dengan perasaan yang biasa-biasa, sudah kita anggap sebagai suatu kebutuhan bukan alat pamer lagi. Di lain waktu hasrat untuk membeli yang baru muncul lagi. Begitulah seterusnya.

Gambaran diatas hanyalah sebuah contoh bagaimana kita beramal. Di saat kita mulai mencoba sebuah amalan dari ilmu yang kita dapatkan, diri ini juga turut sibuk untuk dipuji atas amal yang kita lakukan. Saat pertama menemukan titik balik kehidupan, sudah bisa shalat teratur, puasa senin kamis atau bisa bersedekah, belum puas rasanya kalau tidak ada orang yang melihat dan menilai tingkat ketaqwaannya.

Disisi lain dia yakin Allah Maha Pengawas dan tidak patut untuk disekutukan, tapi gejolak rindu sanjungan masih terus menggoda dihati. Saudaraku, bila muncul perasaan begini jangan pernah berhenti untuk beramal. Inilah hidayah, jaga hidayah itu! Allah akan mengajarkan kita ilmuNya yang lain disaat setiap kali kita mengamalkan ilmunya. Jangan karena takut riya kita berhenti beramal! Syaitan akan bertepuk tangan kegirangan karena kita berhenti beramal. Toh mereka juga tidak akan bertanggung jawab atas kelalaian kita di akhirat kelak.

Semakin hari, kita semakin sadar bahwa amal akan sia-sia bila kita barengi dengan sikap pamer dan bangga diri. Tapi rasa tersebut tetap saja ada di relung qolbu kita. Memang teras begitu rumit, tapi bagi orang yang meyakini dengan ilmu yang lain justru inilah ilmu yang sedang diajarkan oleh Allah kepada kita.

Dalam surah As-syamsi Allah menegaskan “Fa’al hamaha fujuraha wataqwaha”. Allah telah menginstal kedalam qolbu kita kejahatan dan ketaqwaan. Lintasan-lintasan pikiran yang buruk memang sangat mengganggu sekali, padahal kita tidak pernah merencanakan. Saat kita melihat orang yang lebih baik dari kita, pikiran langsung merespon hal yang negative dan positif tergantung magnet mana yang paling kuat dalam jiwa kita.

Itulah sebabnya Rasulullah mengajarkan kita tentang 7 sunnah yang baik diamalkan, yang salah satunya adalah memperhebat istighfar. Benar-benar lintasan pikiran jahat akan menjadi ladang istighfar bila kita mengetahuinya. Semoga Allah mengganti keburukan pikiran kita dengan kebaikan yang berlipat-lipat ganda banyaknya.

Saudaraku yang Budiman, jangan menyangka bahwa dengan mengirimkan artikel ini menunjukkan saya lebih mulia dari anda semua. Sama sekali tidak. Saya hanya seorang perajut perca-perca ilmu yang berserakan yang Allah tebar dimuka bumi ini. Semakin sadar bahwa hanya Allahlah pemilik ilmu Maha Luas. “Ah, ternyata saya jago juga menulis ya,..Alhamdulillah email saya ada yang merespon,… syukurlah saya bisa berhikmah dan menampakkan keilmuan saya,” demikianlah lintasan-lintasan bisikan dalam hati ini yang ingin sekali saya hapus. Inilah yang bisa membuat kita menangis disaat seusai shalat.

Kita Harus banyak beristighfar dan bertaubat. Karena Allah ini benar-benar berbuat menurut Kehendaknya. Suka-Sukanya. Tapi suka-suka Dia beda dengan suka-suka kita, Kalau kita suka-suka karena nafsu kita, tapi Allah suka-suka dengan KebijaksanaanNya. Kalau tidak pandai dalam menyikapi lintasan ini maka kita akan berada dalam kehinaan dan kegagalan hidup. Jatuh bangun aku mengejarmu…demikian syair sebuah lagu dangdut. Karena inilah hidup.

Rasulullah SAW menggambarkan Qolbu kita seperti sehelai bulu ayam di tengah lapangan yang diterpa angin, mudah sekali terbolak-balik karena makna Qolb itu sendiri adalah terbolak balik, sehingga walau di Manajemen Qolbu bagaimanapun dia akan terbolak-balik, tapi bukan berarti kita harus menyerah begitu saja, berhenti shalat sunnat rawatib, berhenti sedekah, berhenti tahajud, berhenti puasa. Jangan saudaraku,..jangan…teruskan saja. Itulah sebabnya Rasulullah SAW sampai 70 kali beristighfar kepada Allah dalam sehari semalam.

Hati ini benar-benar rahasia Allah dan diri kita sendiri saja yang tahu. Bahkan para Malaikat yang mencatat amal kita tidak tahu niatan dalam hati kita. Jangan heran bila kita pernah mendengar bagaimana Allah melempar amalan seorang hamba yang dibawa oleh Malaikat karena amalannya tidak ikhlas.

Saudaraku, inti ibadah adalah Do’a. Otak Ibadah adalah Do’a. Senjata umat islam adalah do’a. Inilah beberapa sabda Rasulullah yang patut diamalkan seiring dengan amalan kita yang lainnya. Perbanyak berdo’;a agar hati kita tidak dicondongkan kepada kefujuran (keburukan), amalan kita bukan jaminan untuk memasukkan kita dalam jannahNya, amalan kita buat kebaikan kita sendiri, sebagai rahmatan lil alamin, Pengampunan Allah-lah yang justru kita harus gembor-gemborkan.

Nah, kenapa kita berhenti beramal? Kenapa kita sudah puas dengan amalan kita saat ini? Coba-terus, inovasi terus amal kita. Orang yang bernaluri inovasi akan selalu rindu syariat. Iringi terus dengan istighfar agar pakaian amal kita sudah menjadi kebutuhan bagi diri kita. Bukan untuk pamer lagi. Shalat yang duu kita pamer-pamerkan kini sudah menjadi sebuah kebutuhan rohani kita lagi. Terasa berat bila ditinggalkan. Karena kita semakin sadar bahwa kita bukan apa-apa didunia ini.

Ilmu kita yang kian banyak dari setiap amalan kita harus mampu mencapai hakikatnya, yakni kesadaran diri. Seorang ahli komputer setinggi apapun ilmunya harus bisa menyadri dirinya bahwa ia bukanlah apa-apa bila dibanding Penciptanya. Awaluddin Ma’rifatullah, Ma’rifatullah Ma’rifatunanfs. Awal agama adalah mengenal Allah, Untuk Mengenal Allah maka kenalilah diri sendiri (nafs).

Astaghfirullahal ‘Adzhiem.

Ikhwan