Ada orang yang mengatakan tentang perubahan, “Jika Anda ingin mengubah bangsa ini, maka ubahlah terlebih dahulu masyarakat di sekeliling Anda. Jika ingin mengubah masyarakat, ubahlah terlebih dahulu keluarga Anda. Jika ingin mengubah keluarga Anda, ubahlah dulu manusianya. Dan jika Anda ingin mengubah manusia, maka ubahlah terlebih dahulu hati dan pikirannya”.

Titik tolak perubahan adalah “mau atau tidak masing-masing pribadi kita untuk berubah”

Bagaimana perubahan menurut Al-Quran?

Al Quran banyak menguraikan tentang perubahan, diantaranya Quran Surat Ar-Rad ayat 13 : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. 13:11), dan juga dalam Surat Ibrahim Ayat 1 : “Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.(QS. 14:1). Sehingga Al Quran merupakan kitab dan buku pertama yang menjelaskan tentang hukum-hukum kemasyarakatan.

Kita lihat dalam Quran Surat Ar-Ra’d ayat 11 : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. 13:11).

Apa yang memang harus diubah dalam diri manusia?

Nilai-nilai yang dianut dan diyakini. Kita banyak menganut nilai-nilai sebagai pegangan dan pedoman hidup. Nilai ekonomi, nilai-nilai akhlak, nilai-nilai moral dan lain sebagainya menentukan pola pikir dan pola hidup kita. Jika tidak seimbang seperti kita terlalu mementingkan nilai ekonomi maka segalanya hanya akan diukur dari tingginya nilai ekonomi yang kita miliki. Harga diri dan penghargaan kepada orang lainpun diukur hanya dari kemapanan ekonomi seseorang.

Nilai paling tinggi adalah tauhid. Manusia pada dasarnya mengakui adanya fakta bahwa Tuhan itu satu dan manusia berada pada satu kesatuan yang sama, sederajat. Apabila berbeda dalam derajat ketakwaan, itu di mata Allah. Oleh karena itu, Nabi pun menghormati seorang Yahudi yang meninggal dan beliau berdiri ketika jenazah Yahudi tersebut melintas di depannya. Nabi mengakui bahwa yang meninggal adalah manusia seperti dirinya. Tauhid diibaratkan seperti matahari yang menghidupkan alam semesta ini termasuk manusia. Matahari mati maka kehidupan di muka bumi akan punah. Nilai-nilai tauhid (keesaan dan kesatuan) ini mati maka musnahlah bangsa ini. Ya, kita sudah menyadari akan hal ini, bayangkan saja apabila bangsa Indonesia tidak lagi mempunyai rasa nilai kesatuan, pastilah tercerai berai dan bubar.

Kehendak atau tekad. Nilai saja belum cukup untuk mengubah hidup seseorang, perlu adanya kehendak atau tekad yang bulat. Seseorang yang akan bepergian ke luar kota dengan pesawat tidak cukup hanya membutuhkan tiket pesawat tapi juga tekad yang kuat untuk berangkat. Oleh karena itu, tekad yang bulat dan kuat dibutuhkan untuk perubahan. Tekad yang setengah-setengah tidak akan bisa membuat seseorang berubah. Orang yang ingin berhenti merokok tapi tidak mempunyai tekad yang bulat atau setengah-setengah, tidak akan mampu membuat orang tersebut berhenti untuk merokok. Perokok umumnya sudah mengetahui nilai bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan dirinya. Semakin kuat tekad seseorang maka semakin mudah dia untuk berkorban.

Jika suatu kaum atau bangsa ingin berubah maka diperlukan kehendak atau tekad tidak hanya 1 atau 2 orang saja, atau hanya tekad dari seorang pemimpin saja, melainkan perlu adanya tekad dari semua diri dalam masyarakat itu. Tidak bisa Negara dan bangsa akan berubah apabila hanya tekad dari seorang presiden saja, atau presiden dengan 2 orang menterinya saja.

Selama ini ada anggapan bahwa mengubah Negara harus dimulai dari pemimpin. Yang lebih benar adalah untuk mengubah kondisi Negara dan bangsa perlu adanya tekad tidak hanya dimulai dari seorang pemimpin tapi dimulai dari tekad masing-masing orang dari sejak rakyat sampai pada pemimpinnya. Berapa banyak Nabi yang dibunuh oleh umatnya seperti Nabi Zakaria, Nabi Yahya dan lain-lain. Kalau dalam konteks ini, maka nabi tersebut gagal dalam melakukan perubahan pada umatnya.

Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu mempengaruhi orang lain untuk dapat mengikutinya. Tekad masyarakat kemudian akan dibimbing oleh pemimpin ini ke jalan yang tepat untuk berubah.

Kemampuan, baik fisik dan non-fisik

Tiket pesawat sudah ada di tangan, tekadpun sudah bulat tapi tidak ada kemampuan fisik ke bandara karena sakit (tidak mampu secara fisik), maka kita tidak akan jadi pergi.

Bangsa yang ingin berubah maka diperlukan SDM (Sumber Daya Manusia) yang handal. SDM yang handal harus memiliki daya diantaranya :

  1. Daya fisik yang kuat, sehingga mampu menggerakkan apa yang menjadi langkahnya.
  2. Daya pikir yang cemerlang dan excellent, sehingga mampu menghasilkan metode-metode ilmiah yang jitu, ilmu pengetahuan dan juga teknik-teknik yang tepat atau teknologi yang handal. Daya qalbu yang sehat sehingga mampu menghasilkan daya imaginasi yang dahsyat, akhlaq yang mulia dan kepekaan yang tinggi terhadap situasi dan kondisi di sekitarnya.
  3. Daya hidup yang tangguh, sehingga mampu melahirkan semangat di setiap langkah dan kerjanya.

Itulah 3 point pokok yang saling terkait apabila ingin merubah diri, masyarakat dan bangsa menuju kea rah yang lebih baik.

Kesimpulan :

Kalau ingin adanya perubahan maka yang pertama-tama perlu dilakukan adalah mengubah pola pikir yang benar. Begitu juga dengan adanya keinginan perubahan bangsa, perlu adanya perubahan pola pikir masyarakatnya. Perubahan yang dimaksud dalam QS. 13:11 adalah bukan perubahan manusia, tapi perubahan pada apa yang ada dalam diri manusia. Bangsa tidak akan berubah walaupun pemimpinnya diganti beribu kali tapi dengan pola pikir yang sama.

Dalam perubahan bangsa, maka diperlukan kehendak yang kuat dari atas sampai bawah, dari pemimpinnya sampai rakyatnya.

Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu mempengaruhi rakyatnya sehingga pola pikir rakyatnya berubah, mampu menciptakan kehendak dan tekad yang kuat dari rakyat juga bisa membuat rakyatnya mampu berbuat dan memiliki daya yang kuat untuk perubahan.

sumber:pustaka islam