Pendidikan adalah sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan manusia, khususnya pada hari ini, dimana umat Islam membutuhkan para pemimpin yang mampu merubah keadaan umat yang sedang cerai berai kehilangan pegangan di dalam hidupnya.

I .MUQADDIMAH

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt, Kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya.  Kami berlindung kepada Allah swt dari kejahatan diri kami, dan kejelekan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, sebaliknya barang siapa yang disesatkan oleh Allah swt, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.

Aku bersaksi tidak ada Ilah – yang berhak diibadahi dengan benar- kecuali Allah swt, tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Nya.

Pendidikan adalah sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan manusia, khususnya pada hari ini, dimana umat Islam membutuhkan para pemimpin yang mampu merubah keadaan umat yang sedang cerai berai kehilangan pegangan di dalam hidupnya. Pendidikan Nasional yang dicanangkan Pemerintah tidaklah mampu menghasilkan generasi yang berkwalitas yang mampu diharapkan untuk mengemban amanat umat, sebaliknya malah menghasilkan insan-insan yang korup dan sekuler. Hal seperti itu tidaklah aneh, karena landasan yang digunakan bukanlah wahyu yang diturunkan oleh Sang Pencipta manusia itu sendiri, Yang Mengetahui seluk beluk ciptaan-Nya, Mengetahui bagaimana cara mengatasi dan mendidik manusia ini sehingga menjadi manusia yang berkwalitas. Hal itu terbukti, ketika Rosulullah saw, utusan Allah yang paling akhir, dengan bekal wahyu, beliau mampu mendidik dan merubah segerombolan manusia yang hidup ditengah padang pasir dan jauh dari pusat peradaban dan kemajuan manusia, menjadi kelompok manusia yang paling unggul dan mampu menguasai seperti dunia dengan peradaban yang baru hanya dalam tempo singkat.

Walaupun begitu, masih banyak dari Umat Islam ini yang belum mampu atau bahkan sebagian dari mereka tidak mau memahami hakekat Pendidikan Islam, karena pengaruh sekulirasasi pendidikan yang terus digencarkan oleh musuh –musuh Islam. Dalam tulisan yang singkat ini, akan dijelaskan tentang pengertian Pendidikan Islam, landasan dan tujuannya walaupun secara sekilas, berikut ciri-ciri pendidikan unggul yang disarikan dari Al Qur’an dan Sunnah serta beberapa tulisan para pakar Pendidikan Islam. Mudah-mudahan yang sedikit dan belum sempurna ini bisa bermanfaat, paling tidak memberikan gambaran tentang Pendidikan Islam yang diinginkan oleh umat Islam, semoga.

II.  PENGERTIAN PENDIDIKAN

Pendidikan secara bahasa diambil dari kata “ Tarbiyah “<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> yang mengandung paling tidak lima makna :

  1. Tarbiyah berarti perbaikan.<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>

Dalam hal ini pendidikan berarti melakukan perbaikan terhadap anak didik  Perbaikan ini kadang tidak memerlukan tambahan, karena bisa dengan merubah atau mengurangi.

  1. Tarbiyah berarti pengembangan dan penambahan.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>

Dalam hal ini pendidikan berarti mengembangkan dan menambah potensi, ilmu, cara berpikir, fisik, daya nalar dan segala sesuatu yang berhubungan dengan anak didik. Ini sesuai dengan firman Allah swt :

Dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di   atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. ( Qs Al Hajj : 5 )

  1. Tarbiyah berarti merawat dan mengatur serta membimbing. .<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>

Dalam hal ini pendidikan berarti merawat dan mengatur serta membimbing anak didik agar sesuai dengan yang dicita-citakan para pendidik. Dan Allah swt adalah pendidik yang berarti memili, merawat dan mengatur serta membimbing semua yang ada di alam semesta ini, sebagaimana firman-Nya :

“ Segala puji bagi Allah, Rabb  semesta alam.” ( Qs Al fatihah : 2 )

  1. Tarbiyah berarti membuat sesuatu secara bertahap sehingga selesai.<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>

Dalam hal ini pendidikan berarti membentuk akhlak dan karakter serta membekali ilmu kepada anak didik secara pelan-pelan dan bertahap sehingga menjadi matang dan menjadi orang yang bermanfaat. Ini sesusai dengan firman Allah swt :

“ Akan tetapi (dia berkata) : “ Hendaknya kamu menjadi orang-orang Robbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap  mempelajarinya “ ( Qs Ali Imran : 79 )

  1. Tarbiyah berarti mengajar .

Dalam hal ini pendidikan adalah mengajarkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan anak didik di dalam menggapai cita-citanya.

Adapun pengertian pendidikan secara istilah adalah rangkuman dan gabungan dari pengertian pendidikan secara bahasa, yaitu merubah anak didik dari satu keadaan kepada keadaan yang lebih baik, dengan cara bertahap, yaitu dengan merawat, mengatur dan membimbing serta mengajarinya sesuatu yang bermanfaat di dalam kehidupannya.

Ini pengertian pendidikan secara umum, adapun pengertian pendidikan dalam Islam atau lebih dikenal dengan Pendidikan Islam adalah :

“ Usaha untuk merubah anak didik dari satu keadaan kepada keadaan yang lebih baik dalam segala bidang , dengan cara bertahap, yaitu dengan merawat, mengatur dan membimbing serta mengajarinya sesuatu yang bermanfaat agar bisa hidup bahagia dunia dan akherat sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Allah swt.”

III. TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan Islam mempunyai beberapa tujuan, diantaranya adalah tujuan umum, tujuan pribadi dan tujuan kemasyarakatan.

<!–[if !supportLists]–>A. <!–[endif]–>Tujuan Umum

Tujuan Pendidikan Islam secara umum adalah mengantarkan anak didik supaya menjadi hamba Allah yang taat. Ini sesuai dengan firman Allah swt :

“ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku “ ( Qs Adz Dzariyat : 56 )

“  Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus “ ( Qs Al Bayyinah : 5 )

Adapun pengertian Ibadah adalah :

“ Setiap perbuatan dhohir maupun batin yang dicintai dan ridhoi oleh Allah swt dan sesuai dengan petunjuk Rosulullah saw. “ <!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>

B. <!–[endif]–>Tujuan Pribadi

Maksudnya adalah tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang dari pendidikan, yang mencakup : aqidah, ilmiyah, jasmaniyah, fikriyah, siyasiyah dan lain-lainnya.

C. <!–[endif]–>Tujuan Kemasyrakatan .

Tujuan pendidikan yang bersifat kemasyarakatan adalah membentuk sebuah masyarakat yang beramar ma’ruf  dan nahi mungkar, sebagaimana firman Allah swt :

“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” ( Qs Ali Imran : 110 )

Untuk menuju ke tujuan yang agung tersebut, tentunya Umat Islam harus mempunyai bekal dan kemampuan yang cukup dalam segala bidang. Untuk memperjelas masalah ini, maka bisa katakan bahwa tujuan Pendidikan Islam dalam bentuk kemasyarakatan adalah membentuk sebuah umat yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

  • Umat  yang hanya beribadat kepada Allah swt
  • Umat yang menyebarkan Islam dan berdakwah kepadanya
  • Umat yang menerapkan hukum Allah swt
  • Umat yang selalu bekerjasama dalam menegakan kebaikan dan ketaqwaan<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>
  • Umat yang mampu memperhatikan peradaban manusia , yang diaplikasikan dalam beberapa bentuk di bawah ini :
    1. Berusaha untuk menguasai bidang ekonomi
    2. Berusaha untuk menguasai bidang teknologi
    3. Berusaha untuk menguasai bidang management
    4. Selalu memperhatikan pembangunan infrasruktur
    5. Selalu memperhatikan bidang akhlaq.

IV. CIRI-CIRI PENDIDIKAN UNGGUL

Salah satu ciri lembaga pendidikan unggul adalah adanya perhatian pada sisi hafalan, praktek mengajar sebagai penunjang hafalan dan pengembangan dari ilmu yang pernah di dapat, proses belajarnya dilakukan secara bertahap dan dalam waktu yang cukup dan memadai, metode yang dipakai harus dengan cara pengulangan secara terus menerus metode pengajarannya membekas dalam diri pelajar, perhatian terhadap pendidikan ruhaniyah, fikriyah, jismiyah, nafsiyah. Untuk memperjelas masalah – masalah di atas, kita rinci sebagai berikut :

1. Memperhatikan Hafalan dan Pengulangan  :

Banyak orang mengira bahwa mengulang dan menghafal pelajaran akan membuat otak tidak berkembang dan tumpul, karena tidak dilatih untuk berpikir. Pernyataan tersebut tidaklah benar, karena sejarah membuktikan bahwa hafalan dan pengulangan ternyata mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Hal ini telah diakui para ahli, sebut saja Negara Jepang yang terkenal dengan kemajuan teknologinya. Orang-orang besar mereka di dalam mendidik anak buahnya ternyata menggunakan teori pengulangan dan hafalan. Teori pengulangan tersebut dikenal dengan teori ( Repetitive Magec Power ) yang berarti kekuatan ajaib dalam pengulangan. Di Jepang pola ini diterapkan, di mana para instruktur mewajibkan para siswa eksekutifnya untuk mengucapkan kalimat ‘ saya juara “ seratus kali dalam sehari selama masa latihan. Dan ini dimaksudkan untuk menjaga energi agar tidak hilang. <!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>

Rahasia keberhasilan PT Matsushita Kotobuki Elektronik Indonesia , cabang dari PT Matsushita di Jepang yang di pimpin oleh pendirinya Konosuke Matsushita yang telah menginfakkan dari uang saku pribadinya sebanyak 291 Juta USD dan 99 Juta USD dari kas perusahaanya untuk kemanusiaan. Perusahan ini mempunyai karyawan yang berjumlah 6000 orang. Ketika apel pagi, mereka semua diwajibkan untuk selalu membaca dan mengulang-ulang tujuh prinsip, yaitu :

1. Untuk selalu berbakti kepada Negara melalui industri.

2. Untuk selalu berlaku jujur , terpercaya dan adil

3. Untuk selalu bekerjasama dengan keselarasan

4. Untuk selalu ramah tamah dan kesatria

5. Untuk selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

6. Untuk selalu bersyukur dan berterimakasih.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>
Stephen R. Covey penah mengatakan tentang fungsi kebiasan dan mengulang-ulang suatu perbuatan :

“ Taburlah gagasan , petiklah perbuatan, taburlah perbuatan petiklah kebiasaan, taburlah kebiasaan , petiklah karakter, taburlah karakter, petiklah nasib . <!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>

William James, seorang ahli psikologi Amerika mengatakan bahwa apa saja yang anda lakukan 45 kali berturut-turut, maka akan menjadi kebiasaan. Menurut Doug Hooper Angka 45 tersebut sangatlah logis. Begitu juga para guru dari Timur telah menjelaskan kebiasaan dengan cara sbb : Kesinambungan suatu pemikiran atau tindakan dalam suatu jangka waktu akan menyebabkan terbentunya sebuah alur, atau saluran di dalam otak. Orang mengatakan bahwa otak itu mirip tanah liat, tempat suatu alur mudah terbentuk. Begitu hal itu terjadi, pemikiran seseorang secara alami akan terus mengalir melalui arah tersebut, sebab hal itu merupakan garis dengan perlawanan yang paling kecil. Tindakannya dilakukan mengikuti bawah sadar atau otomatis. Setelah anda keluar dari “ alur “ atau “ saluran “ lama , maka pikiran anda secara alami akan mengalir melaului saluran yang baru, sementara saluran yang lama berangsung- angsur hilang.<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>

Para santri yang terbiasa belajar dengan cara menghafal dan mengulang-ulang, bahkan kadang secara marathon dan sungguh –sungguh,  ketika lulus dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ternyata tidak ketinggalan juga. Bahkan dalam mengikuti Ujian yang bertaraf nasionalpun mereka mampu bersaing dengan alumnus-alumnus lembaga pendidikan non pesantren. Pada Ujian Nasional Pendidikan Kesataraan ( UNPK ) tahun 2006/2007 ternyata para santri – yang notabenenya terbiasa dengan menghafal tersebut-  tidak mendapatkan kesulitan yang berarti di dalam menjawab soal-soal yang disediakan. Disebutkan dalam Harian Republika bahwa : “ Tercatat pada UNPK tahun lalu kelulusan para santri ponpes mencapai angka lulus lebih dari 80 %.“<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> Bahkan  Direktur Pendidikan Diniyah dan Peantren Depag, Amin Haedar mengatakan : “ Di pesantren itu semangat belajar telah terbentuk , rata-rata mereka cerdas karena mampu menghafal Al Qur’an 30 juz , jadi tak masalah jika harus mengikuti UNPK  “ <!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>

Menurut teori belajar Herbart ( 1776-1841 ), inti belajar, di samping pemebrian tanggapan yang jelas, ialah pengulangan yang bertujuan untuk memasukkan sesering mungkin ke dalam kesadaran. <!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>

Pentingnya kebiasaan mengulang suatu pelajaran, akan terlihat jelas juga, ketika anda belajar menyetir mobil atau mengendarai sepeda motor untuk pertama kalinya. Barangkali anda sudah tahu tentang teorinya, hanya karena anda tidak pernah mengulangnya kembali, atau tidak membiasakan diri untuk memakainya, maka anda akan terasa canggung dan asing, ketika mencobanya kembali.Dalam suatu hadits disebutkan :

Diriwayatkan dari Anas ra, bahwasanya Rosulullah saw jika berbicara suatu masalah diulanginya sampai tiga kali, agar bisa dipahami. “  ( HR Bukhari, no : 95 )

Berikut ini adalah perkataan beberapa ulama tentang hafalan dan pengulangannya :

1/ Imam Zuhri dan Hasan Basri berkata : “ Ilmu itu menjadi hilang karena lupa dan tidak pernah diulang-ulang. “

2/ Abdurrahman ibnu Abi Laila berkata : “ Sesungguhnya cara menghidupkan hadist adalah dengan selalu mengulangi-ulanginya kembali. “

3/ Al-Ashma’I pernah ditanya tentang hafalannya yang kuat, padahal teman-temannya sudah lupa, beliau menjawab : “ Ya, karena saya sering mengulangi-ulanginya, sedang mereka tidak mau mengulang-ulanginya kembali. “ <!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–>

4/ السبق حرف والتكرار ألف))

“ Membaca cepat sama bagikan membaca satu huruf, sedang mengulang-ulang sama dengan membaca seribu huruf. “

5/( حفظ حرفين خير من سماع وِقْرَيْن ، وفهم حرفين خير من حفظ سطرين)

“ Menghafal dua huruf lebih baik dari mendengar dua gendongan buku, memahami dua huruf lebih baik dari menghafal dua baris “ <!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>

Berapa banyak orang yang pernah menghafal Al Qur’an dan mendapatkan Ijazah sebagai sorang hafidh atau hafidhah, karena tidak diulang-ulang kembali, ditambah dengan kesibukannya pada urusan lain, akhirnya Al Qur’an kembali menjadi asing baginya, seakan-akan dia belum pernah menghafalnya sama sekali.

Diantara fungsi hafalan adalah sebagai berikut :

1. Pengetahuan yang dihafal, akan tetap berada dalam otak kita.

2. Mampu mengeluarkan hafalannya setiap saat dengan mudah.

3. Bisa memanfaatkan waktu untuk belajar ilmu lain, selain yang sudah dihafal. Hal ini sangat terlihat jelas, ketika seorang penuntut ilmu sedang menghadapi ujian. Ketika dia sudah hafal Al Qur’an umpamanya, maka waktu yang tersisa bisa untuk belajar atau menghafal pelajaran yang lain. Berapa banyak dari pelajar ketika ujian waktunya habis untuk mempersiapkan hafalan Al Qur’an atau bait-bait syi’ir, seandainya dia sudah hafal sebelumnya, tentunya akan banyak membantu dalam memahami pelajaran lain.

4. Manfaat hafalan juga akan terlihat dengan jelas, ketika bukunya hilang, atau lampunya tiba-tiba mati pada malam hari, atau tiba-tiba ia buta. <!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>

5. Bisa memanfaatkan waktu dengan mengulangi hafalannya dimanapun ia berada, ketika sedang menyetir mobil, naik kendaran, sedang di atas pesawat, atau sedang menunggu orang di tengah jalan, bahkan ketika sedang berdiri dalam antrian yang panjang.
Rosulullah saw sendiri menganjurkan siapa saja yang sudah menghafal Al Qur’an agar selalu mengulangi-ulangi terus .

تعاهدوا هذا القرآن ، فو الذي نفس محمد بيده لهو أشد تفلتا من الإبل في عقلها

“ Teruslah mengulangi ulang hafalan Al Qur’an, demi Dzat Yang jiwaku di tangan-Nya , hafalan Al Qur’an itu lebih mudah lepas daripada unta yang diikat. ( HR Bukhari dan Muslim )

إنما مثل صاحب القرآن كمثل الإبل المعلقة إن عاهد عليها أمسكها وإن أطلقها ذهبت

Sesungguhnya perumpamaan orang yanghafal Al Qur’an bagaikan orang yang mempunyai unta yang terikat. Jika dia selalu menjaganya, niscaya tidak akan lari, sebaliknya jika dibiarkan, takayal unta itu akan hilang. ( HR Bukhari dan Muslim)

Makanan yang menguatkan hafalan :

Diantara makanan atau minuman yang bisa menguatkan hafalan adalah :

1. Kurma

2. Zabib ( anggur yang sudah dikeringkan ), sebaiknya dimakan waktu pagi<!–[if !supportFootnotes]–>[13]<!–[endif]–>

3. Ikan.

Prioritas Hafalan :

1.Al Qur’an . Dalam hal ini Imam Nawawi mengatakan :

“ Yang paling pertama adalah menghafal Al Quran, karena dia adalah ilmu yang terpenting, bahkan para salaf tidak mengajarkan Al Hadits dan Fiqih kecuali bagi siapa yang telah hafal Al Quran , Kalau sudah hafal Al Quran jangan sekali- kali menyibukan diri dengan hadits dan fikih tau yang lainnya sehingga menyebabkabn hilangnya sebagian hafalan Al Quran atau hilangnya hafalan secara keseluruhan.<!–[if !supportFootnotes]–>[14]<!–[endif]–>

2. Hadist

3. Matan dari setiap ilmu. Yang dimaksud matan di sini adalah buku asli yang ditulis di dalamnya point-point penting dalam setiap bidang keilmuan atau ringkasan dari setiap bidang keilmuan.

Tentang Hafalan Al Qur’an

Kenapa Al Qur’an diprioritaskan sebagai sesuatu yang harus dihafal ? Selain yang telah diungkap oleh Imam Nawawi di atas, disana ada faktor lain, diantaranya adalah :

a. Al Qur’an Sebagai Dasar Utama Pendidikan .

  1. Al Qur’an telah mampu merubah generasi sahabat dalam waktu singkat menjadi generasi yang mampu merubah dunia dalam waktu yang sangat singkat .
  2. Tokoh-tokoh Quraisy yang masih musyrikpun terpengaruh dengan Al Qur’an .
  3. Para Ahli Kitab yang jujur juga berderai air matanya ketika mendengar Al Qur’an.

b.Al-Qur’an Sebagi Sumber Ilmu Pengetahuan

  1. Al Qur’an selalu mengajak manusia untuk memperhatikan alam sekitarnya, bahkan tidak ada satu surat di dalam Al Qur’an, terutama yang diturunkan di Mekkah ( Al Makkiyah ) kecuali berbicara tentang alam, tentang makhluq yang ada dunia ini, kemudian berpindah kepada pembicaraan kepada Kholiq ( Sang Pencipta ). <!–[if !supportFootnotes]–>[15]<!–[endif]–>
  2. Al Qur’an mengingatkan manusia bahwa ia adalah bagian kecil dari alam yang sangat luas ini, agar dia selalu melihat dan mengamati alam tersebut untuk mengetahui rahasia-rahasia yang tersimpan di dalamnya .

“  Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”  ( Qs Al Mukmin : 57 )

  1. Al Qur’an telah menjelaskan bahwa alam ini telah ditundukkan Allah untuk keperluan manusia, agar bisa beribadat kepada Allah secara lebih sempurna.

“ Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (  Qs Al Baqarah : 29 )

“ 32. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.

33. dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.

34. dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” . ( Qs Ibrahim 32- 34 )

2. Praktek Mengajar dan Menulis

Salah satu ciri pendidikan unggul adalah perhatian terhadap kemampuan anak didik di dalam menyampaikan apa yang didapat  kepada orang lain . Dengan disampaikan kepada orang lain, suatu ilmu akan lebih mudah untuk dihafal dan dikembangkan , dalam hal ini Ibrahim An-Nakh’I pernah berkata :

من سره أن يحفظ الحديث ، فليحدث به ، ولو أن يحدث به من لا يشتهيه ، فإنه إذا فعل ذلك كان كالكتاب في صدره

“ Barangsiapa yang ingin menghafal hadist, hendaknya dia sampaikan kepada orang lain, walaupun dia menyampaikan kepada orang yang tidak menyukainya, karena kalau dia telah melakukan hal itu, maka perbuatan itu seperti menaruh buku dalam dadanya “<!–[if !supportFootnotes]–>[16]<!–[endif]–>

Menyampaikan ilmu kepada orang lain bisa melalui dua cara : mengajar dan menulis .

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sejarah dan turast yang sampai kepada kita, yang dengannya kita mengetahui peradaban suatu bangsa dan umat, hampir semuanya melalui tulisan. Iya, mereka membangun peradaban bangsa dengan menorehkan pikiran dan ilmu mereka dalam bentuk tulisan. Sebagaimana firman Alalh swt :

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran pena <!–[if !supportFootnotes]–>[17]<!–[endif]–>

Dalam ayat tersebut, Allah swt menyatakan bahwa Dia-lah Yang mengajarkan manusia dengan pena. Hal ini mengisyaratkan bahwa :

Kita sebagai generasi masa kini telah diajarkan berbagai jenis ilmu dan pengetahuan serta hikmah-hikmah melalui hasil goresan pena orang-orang sebelum kita, yaitu dengan adanya buku-buku turast.

Dan kita-pun akan mengajarkan ilmu pengetahuan dan hikmah kepada generasi sesudah kita dengan goresan pena.

Kemudian kita harus mengetahui bahwa tulisan-tulisan yang telah digoreskan oleh para ulama tersebut adalah hasil perenungan dan bacaan terhadap buku dan lingkungan sekitar. Dari sini membaca dibagi menjadi dua :

  1. Membaca tulisan yang merupakan karya manusia.
  2. Membaca alam yang diciptakan Allah untuk kepentingan manusia itu sendiri.

Maka pada ayat sebelumnya, yaitu ayat pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw adalah perinta untuk membaca :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.<!–[if !supportFootnotes]–>[18]<!–[endif]–>


Ayat di atas adalah perintah Allah swt untuk membaca dan mempelajari fenomena  alam dengan nama Allah, membaca fenomena alam untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Sehingga bisa kita simpulkan bahwa konsep ilmu dalam Islam adalah :

1/ Bahwa semua ilmu , baik yang berupa tulisan dalam berbagai disiplin ilmu, maupun non tulisan ( fenomena alam ) jika bisa mendekatkan diri kepada Allah swt , maka wajib bagi setiap muslim untuk menuntut dan mempelajarinya.

2/ Bahwa kehidupan dunia dengan lingkungan dan alam yang ada ini adalah ilmu yang disediakan Allah agar kita membaca dan mempelajarinya.

3/ Hal ini dikuatkan dengan apa yang disebutkan dalam Al Qur’an tentang definisi Ulul Albab ( cendekiawan ) menurut Al Qur’an, yaitu dalam firman Allah swt :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal  <!–[if !supportFootnotes]–>[19]<!–[endif]–>

Ulil Albab ( cendekiawan ) menurut ayat di atas adalah orang yang mampu membaca alam sekitarnya dan mengolahnya dalam pikirannya, kemudian menjadikannya bekal untuk mengarungi kehidupan dunia ini. Selain itu, hasil pembacaan tadi digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan menegakkan ajaran-ajaran-Nya di muka bumi ini.

Kesimpulannya dalam permasalahan ini, bahwa turast yang kita warisi dari nenek moyang kita, khususnya para ulama adalah hasil dari proses pembacaan terhadap buku dan alam sekelilingnya kemudian digoreskan dalam bentuk tulisan. Maka, jika kita hendak meninggalkan turast kepada generasi selanjutnya, harus mengikuti proses pembacaan dan penulisan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para pendahulu kita. <!–[if !supportFootnotes]–>[20]<!–[endif]–>

(bersambung)


sumber: ahmadzain.com