Oleh    : Saryanto (alumnus SMKN 2 Klaten tahun 2009)

Hardikanas tahun ini mungkin berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena tahun ini hardiknas seirirng dengan diumumkannya hasil UN untuk setingkat SMA/MA/SMK hanya selisih kurang lebih satu minggu.ditahun-tahun sebelumnya biasanya bulan mei adalah bulan dimana akan dilaksanakan UN. Sehingga tepatlah kalau hardikanas kali ini kita jadikan moment untuk mengevaluasi pendidikan kita.

Tahun ini tingkt kelulusan peserta un menurun dibandingkan tahun lalu dengan presentase kelulusan tahun ini 89%. Yang lebih parah adalah dimana tahun ini sekolah yang di kota pun ada yang tidak lulus 100%. Lalu dimanakah wajah dunia pendidikan bangsa kita?

Sebenarnya kalau kita mau mengevaluasi pendidikan kita, perlu kita perjelas lagi apa tujuan pendidikan yang dicanangkan di negeri kita? Inilah pertanyaan yang sederhana namun jarang sekali kita tanyakan pada bangsa ini. Benarkah tujuan pendidikan kita seperti yang tertuang dalam pembukan UUD 1945 yaitu mencerdaskan bangsa? Sedangkan kita dapatkan dilapangan tujuan para pelajar belajar hanyalah semata untuk mendapatkan pekerjaan, title atau bahkan semata memenuhi tuntutan wajib belajar 9 tahun yang dicanagkan pemerintah.

Sehingga pantas saja kalau kita dapatkan anak-anak negeri ini belajar untuk ujian bukannya ujian untuk belajar. Dengan demikian tidak salahlah kalau UN justru menjadi momok bagi siswa dan kekhawatiran bagi para guru disetiap sekolahan. Dengan standar kelulusan yang dipukul rata untuk seluruh wilayah di Indonesia sebenarnya tidaklah seimbang dengan input ilmu yang mereka dapatkan di sekolah yang berbeda daerah termasuk tenaga pengajar dan fasilitas yang jauh berbeda pula, meskipun ada keuntungan tidak adanya diskriminasi sekolahan daerah terpencil dengan sekolah di kotanamun tetaplah sama esensinya, tingkat kelulusan daerah terpencilpun parah.

Dengan tujuan yang tidak jelas ini pulalah kita dapatkan out put dari lembaga pendidikan pun akhirnya menjadi budak di negeri sendiri. Lalu sampai kapankah ekonomi kita akan dijajah oleh orang asing jika mental pendidikan kita adalah mental-mental budak.

Sebenarnya anak bangsa ini banyak yang cerdas dan menjadi cendekiawan namun bangsa kita tidak memenfaatkannya untuk kemajuan Negara ini. Entah karena tidak mampu membiayai operasional mereka atau alasan- alasan lain. Banyak anak-anak negeri ini yang akhirnya justru betah bekerja diluar negri, tidak sedikit anak-anak bangsa ini yang bekerja di lembaga-lembaga riset yang berskala besar.

Sebut sajalah salah satu tokoh kita BJ Habibie, beliau dikenal oleh seluruh orang sebagai ahli perancang pesawat terbang. Namun yang menjadi miris adalah beliau tidak dimanfaatkan Negara ini untuk membangun industry pesawat terbang sehingga beliau pun akhirnya dimanfaatkan oleh bangsa asing. Bahkan ketika beliau hendak kembali ke Indonesia salah seorang asing berkata “jika bapak tidak dimanfaatkan oleh Negara bapak, kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk anda kembali kesini”. Inilah yang menjadikan bangsa kita tak maju-maju karena cendekiawan kita justru tak pernah kita manfaatkan untuk kemajuan bangsa.

Oleh karena mari kita wujudkan semangat hari pendidikan nasional kali ini dengan evaluasi pendidikan guna pemanfaatan cendekiawan kita yang merupakan agen of change (agen perubahan) bangsa serta perombakan sisitem pendidikan yang lebih baik.

Untuk menghasilkan bibit yang unggul paling tidak ada empat aspek pendidikan yang harus diterapkan di semua lini lembaga pendidikan baik dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Empat aspek itu adalah: pertama, pendidikan agama. Pendidikan ini sangatlah penting karena hal inilah yang akan mengantar peserta didik kedunia tanpa batas setelah mati yaitu akherat. Bruce Larson pun berkata “orang yang terus mengumpulkan untukkehidupan dunia ini saja, tanpa memikirkan apalagi berinvestasi untuk kekekalan adalah ibarat orang yang menjaring angin dan tolol untuk selamanya”.

Sebenarnya perlu juga agar pedidikan agama ikut disertakan sebagai salah satu at pelajaran dalam UN sehingga siswa mempunyai integritas yang tinggi. Mereka kan selalu takut kepada sang pencipta dan jika hal demikian mampu terwujud maka tak akan lagi ada istilah contek mencontek maupun kebocoran soal UN sebagaimana yang terjadi selama ini. Ketika siswa lulus pun tidak terjadi coret-coteran dan pawai dijalan namun yang terjadi adalah ucapan syukur mereka atas kesuksesannya dalam menempuh ujiannya. Bahkan ketika mereka menjadi pimpinan bangsa ini mereka pun takut untuk melakukan korupsi yang merupakan kebudayaan pemimpin di negeri ini.

Kedua, pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak sangatlh urgen. Jika pendidikan akhlak tak dilaksanakna maka akan kita dapati anak yang cerdas namun tak bermoral layaknya anak-anak barat. “Ilmu dan predikat yang disandang sebenarnya tidak memiliki arti apa-apa jika tidak diwarnai kesabaran dan kebesaran hati” begitulah kata seorang penulis buku fullfiling life, Andri Wongso halaman 72. Penentu akhlak dari seorang anak didik tergantung kepada tiga tempat yaitu keluarga, sekolah dan lingkungan yang dikenal sebagai trilogi pendidikan. Jika pendidikan dalam tiga tempat ini sukses maka akhlak anak didik pasti terjamin mulia.

Ketiga, pendidikan intelektual. Pendidikan intelektual di negeri ini sudah cukup baik namun perlu dibenahi sehingga mampu menghasilkan out put yang perfect. Diantaranya yang perlu dibenahi adalah kurangnya kemampuan siswa dalam menulis dan praktek. Selama ini pendidikan kita hanylah berupa teori-teori yang diberikan guru kepada peserta didik dengan praktek yang sedikit sehingga buyar di benak siswa dan tak mampu untuk difahami sepenuhnya. Akhirnya yang ada sdi otak kita adalah kumpulan-kumpulan teori yang kita tak tahu penerapannya dan manfaatnya.

Keempat, pendidikan skill. Inilah yang jarang diterapkan di lembanga pendidikan di negeri kita padahal pendidikan inilah yang sangat penting. Selama ini pendidikan skill hanya bisa didapatkan di sekolah-sekolah kejuruan sedangkan untuk siswa-siswa disekolahan menegah atas tak diajarkan pendidikan ini. Wajarlah kalau banyak peseta didik yang nganggur setelah lulus dari sekolah menengah atas dan akhirnya justru menambah angka penganggura di negeri kita. Oleh karena itulah perlu diterapkan pendidikan skill di sekolah menengah atas sebagai bekal peserta didik setelah menyelesaikan jenjang pendidikanya di sekolah menegah.

Jika empat aspek pendidikan ini diterapakan maka akan menghasilkan out put yang benar-benar perfect dan mempunyai integritas yang tinggi dan mampu memimpin bangsa ini menjadi bangsa yang maju. Mulailah detik ini di Hari Pendidikan Nasional.