eramuslim – Parno, begitu kami biasa memanggilnya, tetangga saya waktu kecil dulu. Dia lahir di tengah-tengah keluarga yang sangat sederhana. Anak ke empat dari enam bersaudara. Seperti kebanyakan anak-anak lain, hidupnya biasa-biasa saja. Sekolah dan bermain dilalui dengan suka cita bersama teman-teman sebayanya. Selepas pulang sekolah, bersama teman-temannya pula dia membantu orang tua mencari rumput di lapangan desa untuk seekor lembu yang dipelihara keluarganya. Setelah itu dia bermain bola atau layang-layang kesukaannya sampai sore.

Seingat saya dia anak yang tidak pernah absen pergi ke masjid sebelum adzan Magrib berkumandang dengan atributnya yang khas, sarung batik sedikit kedodoran dan peci yang agak kebesaran. Pulang selepas Isya. Waktu antara Magrib dan Isya dilaluinya untuk belajar membaca Al quran atau hanya dihabiskan dengan bermain petak umpet di halaman masjid yang luas.

Malang tak dapat di tolak untung tak dapat diraih. Jika Allah sudah berkehendak tak ada satupun manusia yang bisa berdalih. Hidupnya jadi luar biasa ketika tiba-tiba sebuah musibah menghampirinya. Umurnya 12 tahun waktu itu. Pada suatu malam di bulan Ramadhan telapak tangan kanannya hancur karena petasan yang dinyalakannya. Dengan berbekal uang seadanya segera dia dilarikan oleh kakak tertua dan bapaknya ke rumah sakit di kota.

Satu bulan, dua bulan lukanya tak kunjung mambaik. Bau yang menyengat menandakan lukanya sudah mulai membusuk. Seiring dengan berjalannya waktu, pembusukan mulai merambat ke atas. Teman-temannya mulai mengejeknya dengan memanggilnya si bacin yang dalam bahasa Indonesia berarti busuk, bahkan ada yang tidak mau bermain lagi bersamanya. Beberapa kali saya melihat dia berlari sekancang-kencangnya ketika hinaan temannya sudah kelewatan. Dia selalu berusaha untuk tidak menumpahkan mendung di matanya di depan teman-teman yang mengejeknya. Hingga pada akhirnya dia sama sekali tidak mau sekolah lagi kerena merasa malu meskipun guru dan kepala sekolahnya berkali-kali datang membujuk.

Diantara keterbatasan akan biaya, untuk menghindari semakin meluasnya pembusukan di tangannya, akhirnya orang tuanya setuju dilakukan amputasi sebatas siku. Sedih sekali ketika dia tahu satu tangannya telah hilang. Bahkan dia sempat mengamuk meminta tangannya dikembalikan seperti semula. Dengan perlahan orang-orang di sekitarnya membesarkan hatinya yang terguncang hingga akhirnya dia bisa menerima keadaan meskipun terpaksa.

Setelah sembuh, dia kembali lagi bersekolah karena usaha keras dari orang-tua, saudara, guru dan teman-teman yang berusaha membujuknya. Terbayang bagaimana dia berusaha mengoperasikan tangan kirinya untuk mengerjakan semua tugas tangan kanannya yang sudah hilang. Menulis, makan, menyabit rumput dan lain sebagainya. Terbayang bagaimana dia pertama kalinya melangkahkan kaki ke sekolah hanya dengan satu tangan, hampir semua mata memandang satu tangannya yang telah hilang. Dan bagaimana dia menyiapkan hati untuk mendengar ejekan teman-temannya.

Seiring dengan berjalannya waktu, dia berusaha bangkit kembali membangun rasa percaya diri yang terkoyak oleh keadaan. Ejekan teman-temannya yang memanggil namanya dengan buntungpun tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan berusaha. Prestasi akademisnya tidak berubah, masih tetap ranking satu di kelasnya hingga tamat SD.

Seperti kakak-kakaknya yang lain, setelah tamat SD diapun tidak berencana melanjutkan sekolah ke SMP karena keterbatasan biaya. Namun salah satu guru SD-nya yang bisa membaca potensi yang ada dalam dirinya meminta ijin kepada orang tuanya untuk membiayai sekolahnya di kota. Dia juga dikirim ke Rehabilitation center (RC), yang menangani anak-anak cacat, di kota Solo. Di RC itulah dia menemukan dunia baru, keluarga, orang tua, guru, saudara dan teman-teman senasib. Bermain, belajar, olahraga dilakukan dalam kebersamaan. Saling membantu dan menguatkan disaat masalah melanda dan ketika krisis percaya diri menghampiri.

Ejekan, cemoohan, cibiran dan pandangan sinis akan kecacatan dirinya menjadi santapan sehari-hari, yang semakin mencambuk semangatnya untuk terus berusaha. Terbukti rangking pertama di sekolah masih terus dipegangnya.

Masalah serius timbul ketika kelas satu SMA di akhir semester pertama. Entah karena apa, orang yang selama ini manopang hidupnya tidak bersedia lagi membantunya. Otomastis setelah itu tidak ada lagi yang membiayai hidupnya. Dia berencana bekerja sepulang sekolah. Keluar masuk toko, bengkel dan restoran mulai dijalaninya untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi mana ada orang yang percaya dengan hasil kerja seorang anak bertubuh kurus yang hanya mempunyai tangan satu seperti dirinya. Semua menjawab “Sedang tidak butuh tambahan tenaga” atau “Tidak ada lowongan kerja”. Untuk minta pada orang tuanya tak mungkin dilakukan. Sawah satu petak yang dijadikan tumpuan harapan hidup sekeluarga sudah terjual separohnya untuk biaya amputasi tangan kanannya.

Dalam kepasrahan, pada Yang Kuasa dia berdoa. Mohon diberikan jalan untuk mengatasi persoalan hidupnya. Di batas ambang putus asa, dia bercerita pada seorang teman baiknya di sekolah, mengutarakan niatnya untuk pulang ke kampung kembali kepada orang tua dan saudara-saudara yang dicintainya, meninggalkan sekolahnya. Dia ceritakan juga masalah yang sedang menghimpitnya.

Sungguh Allah Maha Pengatur atas segalanya. Hanya selisih tiga jam sejak dia bercerita, tiba-tiba temannya tadi datang menemuinya di rumah kos, tidak jauh dari RC. Mengikuti langkahnya seorang laki-laki setengah tua berbadan tegap yang akhirnya diketahui sebagai penyelamat masa depannya. Seorang pengusaha kaya yang tidak lain adalah bapak dari sahabatnya itu. Sujud syukur tanpa ditunda dilakukannya. Tak kuasa menahan haru di hatinya hingga butir-butir bening menetes dari kedua sudut matanya. Segera dia jabat dan cium tangan kedua laki-laki di hadapannya. Tak ketinggalan dia sampaikan rasa terimakasih yang teramat sangat atas kebaikannya.

Begitulah. Hingga akhirnya dia lulus dari SMA dengan nilai yang sangat memuaskan. Masuk perguruan tinggi negeri favorit di kota Yogykarta tanpa tes. Proses untuk mendapatkan gelar sarjana dilaluinya dengan lancar, hampir tidak ada hambatan yang berarti. Cemoohan, ejekan dan cibiran berganti dengan decak kagum akan prestasi yang diraihnya.

Selepas kuliah, setelah melewati jalan yang berliku, akhirnya dia diterima bekerja di salah satu perusahan swasta di kota kami. Sekarang dia tahu kenapa Allah mengambil kembali tangan kanannya hingga dia bertemu orang-orang dermawan yang menghantarkan langkahnya mengejar masa depan. Sudah saatnya dia menikmati buah atas penderitaan dan usaha kerasnya selama ini. Memetik hikmah atas musibah yang telah menimpanya.

Kini dia menjadi tumpuan hidup keluarga, Bapak, ibu, adik-adik dan seorang kakaknya yang sudah menjanda beserta anak tunggalnya. Dia juga yang menanggung biaya sekolah adik-adik dan keponakannya. Ada satu keinginan yang belum didapatkannya, anak yang banyak dari istri yang setahun lalu dinikahinya. Kepada mereka akan diajarkan bagaimana cara bersyukur, menghargai dan menghormati orang lain tanpa melihat status sosial dan juga kelengkapan fisik. Bukankan Allah Yang Maha Penyayang tidak pernah membeda-bedakan umatnya hanya karena hal tersebut. Hanya iman di dadalah yang membedakan kita di mataNya.

sumber: pustaka islam