“Apabila shakhkhah (suara yang memekakkan telinga) telah tiba. Pada hari itu seorang manusia lari dari saudaranya dan dari ibu serta ayahnya. Juga dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang mengganggunya (sehingga tidak sempat memikirkan urusan orang lain).” (QS Abasa: 33-37)

eramuslim – Tsunami yang melanda Aceh sudah hampir beberapa bulan berlalu. Ratusan ribu nyawa terenggut dalam sekejap. Masih segar dalam ingatan mayat-mayat itu berderet tanpa ampun sebelum kemudian dikuburkan secara massal. Belum hilang dari benak, wajah tanah rencong yang berduka, duka teramat dalam. Tak akan segera pupus ingatan ini akan ujud bumi serambi Makkah yang porak-poranda seperti habis terhempas. Saat itu semua benak mempertanyakan, peringatan Allah kah ini? Murkakah Allah atas manusia? Ataukah sebuah ujian sehingga manusia mampu mengambil banyak hikmah dan pelajaran?

Dan, kabar serupa datang kembali, Nias dan Simeuleu, diguncang gempa. Korban manusia kembali berderet dalam sejumlah angka. Tidak sedikit. Alam seolah ingin berkabar tentang banyak hal kepada manusia yang masih diberi porsi usia. Kembali kita lihat wajah-wajah penuh gundah menerima realita kehilangan keluarga, musnahnya tempat tinggal dan trauma psikologis akibat bencana. Dan kembali kita mempertanyakan, apakah ini? Mengapa bencana seolah bertubi?

Belum, belum berhenti, masih ada musibah lain, gunung Talang di Padang meletus dan memuntahkan abu dari kepundannya dan gempa terjadi lagi, ribuan manusia mengungsi dari sejumlah nagari. Saat ini, media massa memberitakan sejumlah gunung berapi dinyatakan status waspada dan sewaktu-waktu bisa saja meletus dan menimbulkan bencana yang lebih parah lagi.

Mengenai fenomena ini, kemarin beberapa rekan kerja di kantor membincangkan bahwa mungkin saja kiamat sudah dekat. Bukankah salah satu pertanda kedatangannya adalah bencana demi bencana terjadi? Saya hanya menyimak. Yah, bisa jadi demikian, siapa pun tidak ada yang tahu kapan hari itu datang. Sebagai muslim, mempercayai kedatangannya adalah merupakan keimanan. Hari kiamat adalah perkara ghaib. Duh, jika kiamat sudah sedemikian dekat, apa jadinya saya?

Dan malam tadi, seolah lelap itu sangat jauh. Saya teringat tentang obrolan rekan-rekan kerja di kantor. Hari kiamat mungkin sudah dekat. Saya mengingat utuh beberapa malam yang telah lewat saya bermimpi tentang kejadian hari kiamat. Sebuah mimpi yang begitu teguh berada dalam ingatan. Mimpi yang kemudian menjadikan seharian itu saya hening dan tak bertenaga. Mimpi yang mudah-mudahan bukan hanya sekedar bunga tidur tetapi sebuah peringatan ampuh bagi kelalaian saya. Sebelum terjaga, saya masih mengingat penghujungnya. Sesosok laki-laki berteriak lantang, “Kiamat bukan hari ini, masih ada adzan terdengar”. Mata saya terbuka. Bulir keringat membasah. Dan dunia berada di depan mata.

Lalu, bagaimana dengan mu sahabat? Apa kabarnya? Ingatkah engkau tentang hari itu? semoga Allah selalu menganugerahi kehidupan terbaik untukmu. Semoga saat ini, engkau masih berada dalam kenikmatan tertinggi, menjadi seorang muslim. Mudah-mudahan hari ini, sehatmu ditunaikan untuk sebaik-baik amalan. Porsi usiamu tak terlampaui dengan tersia. Senyummu ibadah, gerak kerjamu ibadah, uluran tangan untuk anak-anak jalanan adalah helai ikhlasmu. Belaian tulus untuk buah hatimu tercatat sebagai kebaikan. Sujud heningmu bukanlah riya.

Bersyukurlah, berbahagialah, karena hari ini, kita masih menjumpa dunia. Kita diperkenankan Allah melahap jeda demi jeda. Kemarin, tak mungkin engkau raih kembali. Ia sudah tercecer di belakang sana, mustahil engkau memunguti hamburan waktu itu meski hanya sedetik saja. Besok, sebuah waktu yang masih belum pasti tertapaki. Ia adalah masa depan yang hanya karena karunia Allah saja kita memasukinya. Kita hanya punya saat ini. Saat terbaik. Saat yang paling nyata untuk memperbaiki. Hingga saat ini menjadi masa lalu yang indah, dan berikhtiar mewujudkan kenyataan menyenangkan di kelak kemudian hari. Syukuri keberadaan mu hari ini. Sebelum hari itu tiba.

Ya, hari itu. Sebuah hari yang sudah pasti kedatangannya. Hari yang tak mungkin dapat kau bayangkan walau itu secuil saja. Seperti Allah berfirman bahwa kejadian pada saat itu sungguh sebuah kejadian yang sangat dahsyat.

“Sesungguhnya keguncangan pada saat hari kiamat adalah suatu hal yang dahsyat sekali.” (Q.S. Al-Hajj:1)

“Jika waqi’ah (peristiwa dahsyat) telah tiba. Tidak seorang pun dapat mendustakan terjadinya itu. Ada golongan yang direndahkan (yakni kaum kafirin) dan ada pula golongan yang ditinggikan (yakni kaum mukminin).” (Q.S. Al-Waqi’ah:1-3)

Sahabat, sesungguhnya jika Allah mau, mudah saja bagi Nya, menjadikan sebentar lagi, besok, lusa, seminggu, setahun yang akan datang, kapanpun, menjadikan bumi ini hancur sehancur-hancurnya, menjadikan matahari terbit dari barat.

Sesungguhnya pertanda demi pertanda itu sudah dengan nyata singgah di depan mata. Adakah kita sadar dan dengan segenap jiwa memperbaik diri. Adakah bencana demi bencana yang terjadi hanya sepintas lalu saja. Adakah dunia begitu mengalihkan perhatian kita hingga kita hanya mengingat bagaimana menyelesaikan deadline pekerjaan, hanya berkutat dengan target-target yang ditetapkan perusahaan. Kita lupa dengan target tilawah, kalah oleh penat untuk tegak di sepertiga malam, bahkan shalat wajib itu dikerjakan mendekati akhir. Astagfirullah.

“Tetapi kamu semua lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan di akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (Q.S. Al-A’la:16-17)

Hari ini, sebelum hari itu tiba, mari bersegera memperbaiki diri dan ‘kembali’, karena sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat.

Wallahu a’lam bish-shawab