Untuk dijadikan renungan bagi siapa saja

Kebanyakan orang tua menjadi kambing hitam atas segala problema kehidupan oleh kaum muda. Saya sering mendengar pemuda berkata “Saya seperti ini karena ayah dan ibu saya…” atau “Orang tua saya tidak menyiapkan kehidupan untuk saya”. Yang lain lagi berkata “Saya seperti ini karena saya tidak jauh beda dengan ayah saya”.

Suatu hal yang mudah melemparkan dan melimpahkan kesalahan hidupmu kepada bahu orang lain. Tetapi apakah ini selalu adil untuk dilakukan? Bukankah ini adalah sesuatu untuk menunjukkan kedewasaanmu dalam menyikapi dan mengambil tindakan? Apa yang dirasakan ayahmu dan ibumu jika mendengar ucapanmu itu? Andai kamu menjadi seorang ayah atau ibu, apa yang kamu rasakan dalam hatimu, jika anakmu berkata seperti itu?

Kamu sering mendengar orang-orang mengatakan bahwa mereka lari dari problema kehidupan mereka karena didikan orang tuanya, atau karena masa kecil tidak bahagia, atau mungkin karena mereka sering di marahi semasa sekolah, dan lan-lain. Saya tidak pernah berpikir bahwa mengatasi masalah seperti itu adalah sepele, tidak sama sekali!

Tampaknya kamu yakin bahwa masa kecilmu yang tidak bahagia dapat benar-benar membuat hidupmu sangat sulit, karena kamu memiliki kekurangan (cacat) dalam hidupmu, namun bukan berarti bahwa nasibmu memang sudah buruk. Banyak orang yang berusaha mengalahkan kesulitan dan tantangan besar yang muncul dengan kekuatan pribadinya, membina kekuatan ukhuwah, dan senantiasa merencanakan langkah-langkah menuju keberhasilan.

Sekarang siapa yang memiliki masa kanak-kanak yang sempurna?
Siapa yang memiliki orang tua yang sempurna?
Siapa yang memiliki kehidupan yang sempurna?
Semuanya tercakup di sini: Apa sebenarnya hidup ini?
Apakah kita mengharapkan segalanya sempurna di dunia yang berisi dengan manusia yang secara terus menerus berubah-ubah antara kebaikan dan kejahatan?

Kita harus memahami mulai dini, bahwa bukan hanya kita yang selalu di kelilingi problema dan kesulitan yang disebabkan kelakuan buruk orang lain, tetapi kita juga lahir dengan membawa kemampuan untuk maju dalam hidup.

Kesulitan yang menimpa kita bisa jadi secara fisik, emosional, atau lingkungan. Sebagian orang dilahirkan dalam kondisi yang sulit, beberapa yang lain dalam kondisi teraniaya sehingga selalu mendapati ketakutan sepanjang hidupnya, dan beberapa yang lain menderita suatu penyakit.

Bencana yang terjadi pada diri kita bisa jadi adalah peperangan, kelaparan, perselisihan politik, ketidakadilan, buta huruf, kemiskinan, dan lain-lain. Jiwa/ruh manusia yang berada di dalam raga menanggung beban paling berat kehidupan kita. Memelihara jiwa yang baik dan kuat, berani dan tegas, dan senantiasa penuh harapan adalah salah satu langkah yang benar untuk meraih hidup yang sukses.

Ketika berbagai kesulitan kehidupan dibiarkan (oleh kamu sendiri) mempengaruhi jiwa menuju jalan yang salah – membuat kamu merasa putus-asa/sedih, sesat, bahkan dengki dan dendam – kemudian kehidupanmu terperosok ke dalam jurang kehancuran yang berkepanjangan. Demikian ini kamu sudah terjerumus ke dalam lingkaran kejahatan dimana kamu sebagai peran utama, dan kamu menerima pengaruh buruk itu lagi, demikian seterusnya kamu selamanya dalam kejahatan dan kehancuran.

Hanya jika kamu dapat menata untuk mendekati hidup dan tantangan itu, mengisinya dengan jalan yang benar dan kebajikan, maka kamu benar-benar dapat berkembang dan membangun pengalaman buruk kehidupanmu, dan tidak akan pernah menemukan kehancuran. Tetapi bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

Kunci sukses berada pada jiwa/ruh manusia, dan inilah sesungguhnya jatidirimu. Jatidirimu mengambil alih setelah kamu meninggalkan kehidupanmu. Kamu harus memelihara jiwa/ruh yang kuat dan sehat, dan bersandar pada kedekatanmu kepada Allah. Keberhasilan kita dapat diukur oleh tingkat keselarasan hidup kita dengan fitrah kita. Keberhasilan kita dapat diukur oleh tingkat keselarasan jasmani, pikiran, dan rohani kita. Keselarasan ini hanya bisa di capai ketika kita hidup di jalan Allah yang telah Dia tentukan untuk kita.

Setiap manusia ada keinginan untuk berbagi apabila mendapati suatu masalah. Setiap manusia hidup konsekwen dengan perbuatan dan kata-katanya. Adakah orang yang terus terang percaya bahwa mereka mampu mengatakan atau melakukan apapun yang mereka sukai dan tidak ada kensekwensinya? Kita semua yakin, bahwa apabila kita melempar batu kerikil ke kolom air, maka ada dampak yang mempengaruhi bagian kolam yang tidak terkena batu kerikil itu. Gelombang air yang diakibatkan jatuhnya batu kerikil pada kolam air akan mempengaruhi bagian lain dari air yang ada di kolom itu. Demikian pula yang terjadi pada diri kita. Apabila yang kita lakukan dan katakan itu salah, maka ketika itu pula kita memposisikan diri dengan menanggung konsekwensi kesalahan besar dari apa yang telah kita lakukan, kecuali kita kembali kepada Allah dengan menyesali dan menutupi perbuatan kita dangan kebajikan.

Bahkan orang yang menyakiti kamu, menganiaya kamu, dzolim kepadamu, atau berusaha membawa kesulitan bagimu, akan menerima konsekuwensi dari apa yang sudah dia lakukan dan katakan kepadamu, kecuali dia menyesali dan kamu memaafkannya. Yang bisa kamu lakukan adalah menasehati dan memaafkan dan berdo’a untuk orang tersebut.

Andaikan kamu merasa tidak bahagia pada suatu waktu. Kamu sering merasakan tidak puas dengan orang-orang yang kamu temui di sekitarmu, termasuk keluarga dan temanmu. Kamu tidak merasa berhasil. Kadang-kadang kamu merasa terjebak ke dalam suatu tempat yang bukan pilihanmu. Apabila keadaan semacam itu yang kamu rasakan saat ini, berarti kamu memiliki kekurangan (cacat) dalam hidupmu, bisa jadi adalah cacat fisik, mental, atau bisa jadi cacat oleh karena situasi atau orang lain.

Lalu apa yang akan kamu lakukan?
Memaki-maki kehidupanmu?
Menyalahkan semua orang di sekitarmu?
Menyerah dan membiarkan dirimu ditelan kesedihan/keputusasaan?
Dan ketika gagal, akhirnya menyalahkan kondisi, orang tuamu, atau apapun?

Langkah terbaik yang harus kamu lakukan adalah berjalan dan berdirilah di depan cermin dan jujurlah pada diri sendiri. Menerima apa yang ada pada dirimu – pahami jauh yang ada dalam dirimu, pahami potensi yang kamu miliki, bahwa kamu memiliki kekuatan dan kebijaksanaan untuk berinteraksi dengan apapun juga yang mengganggumu. Berkonsentrasi dan mencoba untuk memahami bahwa orang-orang yang sudah menyakiti kamu adalah manusia juga.

Mereka syarat dengan kekeliruan, penyesalan, ketakutan, dan kelemahan, dan Allah akan menghadapi mereka dan menilai atas perbuatan mereka. Oleh karena itu lepaskan dendam dalam hatimu dan fokuskan pada kenyataan – apa yang ada pada dirimu dan apa yang sudah kamu dapatkan. Kemudian tinggalkan cermin dan kembalilah kepada Allah dengan sholat dan do’amu, dan yakinlah bahwa jika kamu melakukan dengan sungguh-sungguh Dia akan membimbingmu, dan suatu hari nanti problema hari ini akan pergi, kemudian tengoklah ke belakang dan perhatikan, kamu akan melihat jalan kesuksesan, kebahagiaan, dan kebajikan yang baru saja kamu lewati.