1. Seorang Mahasiswi meminta pada salah seorang sahabat putrinya agar menemaninya menghadap dosen laki-laki dalam mempertahankan disertasi untuk mencapai gelar (MA). Shahabat berkata : Ya tak tahukah gelar kamu bahwa kita ini hidup di abad?
  2. Seorang dokter wanita di salah satu rumah sakit, ketika ia memakai pakaian dokter hilanglah malunya, wajah dan rambutnya serta pakaiannya terbuka. Seakan menanggalkan agama dan malu adalah hal yang wajib bagi tugas kedokteran.
  3. Saya pernah berkunjung ke salah satu kerabat yang saya kenal selalu menjaga kehormatan dan hijab atau jilbab. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh masuknya sopir pribadinya ke tempat pertemuan. Seakan-akan ia salah satu anggota keluarga yang tidak perlu menutup aurat darinya.

Ukhti Al-Muslimah…
Pernahkah kamu menduga, bahwa mereka para wanita muslimah sadar, mengapa mereka berjilbab? Sesungguhnya realita menunjukkan bahwa mereka pada umumnya memandang jilbab hanya sebatas adat istiadat yang mereka warisi dari orang tua mereka yang menyuruhnya. Oleh sebab itu sebagai warisan dan adat istiadat suci, maka wajib dijaga dan dilestarikan.

Pernahkah ia bertanya, mengapa ia memakai jilbab? Dan siapa yang menyuruhnya? Bukankah itu perintah Allah : “Wahai Nabi (SAW) katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu dan wanita-wanita kaum muslim agar mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 33 : 59).

Tidakkah ia mengetahui bahwa ia mentaati perintah penciptanya, yang memberi rizqi, yang menciptakan langit dan bumi dan mengetahui mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai dengan makhluk-Nya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. 2 : 284).

Allah Yang Menciptakanmu : “Demikian itulah Allah Tuhanmu, tidak ada Tuhan yang patut di sembah selain Dia. Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” (QS. 6 : 102).

Yang memberimu nikmat : “Dan apa saja nikmat yang ada padamu maka dari Allah jualah.” (QS. 16 : 53).

Yang mematikanmu : “Dan datanglah sakaratul maut (kematian) sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS. 50 : 19).

Yang berfirman : “Pada hari (ketika) Kami berkata kepada neraka jahanam : Apakah kamu sudah penuh ? Dia menjawab : Masih adakah tambahan?” (QS. 50 : 30 – 31).

Yang berfirman : “Hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan (Yang terhormat), dan Kami menggiring orang-orang yang durhaka ke neraka jahanam dalam keadaan dahaga.” (QS. 19 : 85 – 86).

Yang Mengadili pada hari yang menakutkan : “Pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya, dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.” (QS. 22 : 1).

Ukhti Al-Muslimah…
Tidakkah kau baca firman Allah : “Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya serta tidak menampakkan perhiasannya kecuali (Yang biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka.” (QS. 24 : 31).

Yaitu tidak menampakkan sedikit pun perhiasannya kepada orang-orang asing (bukan muhrim), kecuali sesuatu yang tidak mungkin disembunyikan berupa pakaian yang tidak menyolok, dan hendaklah menjulurkan penutup kepalanya (jilbab) sampai ke dadanya sehingga tertutup. Al-Imam Bukhori meriwayatkan dari Aisyah radliyallahu ‘anha. Ia berkata : “Semoga Allah merahmati wanita-wanita pertama yang berhijrah (Muhaajiraat), yaitu ketika Allah menurunkan firman-Nya : “Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dalam mereka.” (QS. 24 : 31). (Mereka langsung merobek pakaian mereka untuk dijadikan jilbab).

Ukhti Al-Muslimah…
Janganlah berkata, “Kita bukan mereka. Bagaimana mungkin kita bisa mencapai apa yang mereka capai?” Jangan kau heran! Seorang penyair arab berkata : Contohlah mereka walaupun tidak persis. Sebab mencontoh orang yang mulia itu beruntung.

Ukhti Al-Muslimah…
Tidakkah kau baca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. 33 : 53).

Lebih suci bagi hati siapa, wahai ukhti? Lebih suci bagi hati istri-istri Nabi, (Ummahatul Mu’minin). Lebih suci bagi hati para shahabat Nabi, Umat yang terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Bagaimana dengan hati kita pada masa sekarang? Apakah Zat yang menciptakanmu, yang mengetahui cara yang terbaik untuk mensucikan hati, sama dengan orang yang tidak mengetahui hal itu?

Ukhti Al-Muslimah…
Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman : “Wahai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang-orang yang beriman : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampunan lagi Maha Penyayang.” (QS. 33 : 59).

Ibnu Abbas radliyyallahu ‘anhu berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan istri-istri orang yang beriman, apabila keluar dari rumah untuk suatu keperluan, hendaklah menutup wajahnya dari atas kepala dengan jilbabnya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan istri-istri orang yang beriman hal tersebut diatas, agar mereka dikenal dengan tertutup rapi, bersih dan suci. Dengan demikian ia tidak akan diganggu orang-orang yang jahat.

Coba kau perhatikan : Siapa yang lebih sering digoda dan diganggu lelaki di jalan? Tentu mereka yang suka tersolek ala jahiliyyah (jahiliyyah modern). Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ini : “Dan perempuan-perempuan yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin lagi, tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan dan berlaku sopan adalah lebih baik dari mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 24 : 60).

Allah memberitahukan bahwa berjilbabnya perempuan tua yang tidak ingin menikah lagi serta tidak menampakkan perhiasan itu lebih utama, walaupun diperbolehkan bagi mereka untuk buka wajah dan tangan dengan syarat berlaku sopan (Islami). Al-Qur’an telah mewajibkan wanita muslimah untuk memakai jilbab (hijab) dan mengharamkan bersolek ala jahiliyyah (tabarruj).

Ukhti Al-Muslimah…
Dengarlah kata ibunda kalian, ummul Mu’minin ketika bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Hendaklah ia turunkan satu jengkal (dari lutut).” Ummul Mu’minin berkata : “Kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda : “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Subhanallah! Ummahatul Mu’minin meminta agar diperpanjang bajunya, sedang wanita-wanita kita malah banyak yang mempersingkat (menaikkan ke lutut bahkan ada yang diatasnya) dan mereka tak peduli. Nabi dan Kitab suci kita melarang telanjang, tidak menutup aurat, maka tanyakan kepada hadits dan ayat suci Al-Qur’an Al-Karim. (Syair Arab).

Adapun hijab artinya adalah menutup badan, dan sebagai cirri dari sekumpulan peraturan social yang berhubungan dengan keadaan wanita dalam undang-undang Islam, yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjadi benteng yang kuat, yang menjaga kehormatan, kemuliaan dan keluhuran wanita. Pakaian yang memelihara masyarakat dari fitnah, dan dalam ruang lingkup yang ketat sebagai sarana bagi wanita untuk membentuk generasi Islam, merajut masa depan umat, yang pada gilirannya ikut berperan dalam perjuangan Islam dan mengokohkannya di muka bumi ini. (HaidarAgung)