Mungkin tak asing di telinga kita, mendengar sebuah ungkapan bahwa dibalik seorang tokoh besar pasti ada seorang wanita yang sangat berpengaruh terhadap dirinya. Ungkapan itu mengingatkan kita pada sebuah kisah Khalifah Harun Ar-Rasyid tidak banyak yang tahu dan tidak banyak sejarah yang mencatat siapa orang yang ada di balik seorang Khalifah ini.

Dia adalah seorang budak yang sangat cerdas, cantik, menarik juga sangat puitis, dan istimewanya dia adalah seorang budak yang punya tekad kuat untuk belajar. Sejalan waktu yang terus bergulir, ternyata Allah pun Maha Adil, terhadap hambanya yang bersungguh-sungguh, Allah benar-benar mewujudkan Surat Al-Mujaadilah Ayat 11, bahwa “Allah akan meninggikan derajat orang beriman dan orang–orang yang berilmu.“ Khoizuron dibebaskan dari status budak dan dinikahi oleh Khalifah Al-Mahdi di masa Bani Abbasiyah. Khoizuron seorang wanita yang indah tutur katanya mulia akhlaknya dari ibu yang cerdas inilah lahir dua orang khalifah yang diantaranya Harun Ar-Rasyid.

Walaupun Khoizuron bekas seorang budak namun tidak ada tindakan yang diskriminatif baik dari suami maupun anak-anaknya karena kecerdasan, kemuliaan dan bijaksananya Khoizuron sebagai istri dan Ibu. Khoizuron juga diberikan ruang khusus dalam memutuskan beberapa permasalahan kekhalifahan. Bahkan dimasa Harun Ar-Rasyid seorang mentri, tidak boleh mengambil keputusan tanpa bermusyawarah dengan ibunya ini sebuah bukti kecerdikan dan Kebijaksanaan Khoizuron teruji dalam mengambil keputusan.

Begitulah Khoizuron, sosok seorang istri dan ibu yang bijaksana dalam proporsinya sebagai muslimah yang berperan aktif dalam mengatur rakyat, walaupun secara formal tidak menduduki suatu jabatan tertentu. Namun kecerdasan dan akhlaknya yang luhur mampu menjadikannya sebagai wanita yang dipercaya dalam kebijakan negara. kehadirannya senantiasa dirindukan baik oleh suami maupun oleh anak-anaknya pribadinya yang wara’ dan dermawan membuat cintanya tak tergantikan tatkala beliau meninggal diusianya ke 50 tahun.

Itulah satu potret wujud riil keadilan dalam islam dimana tak ada tindakan pembedaan karena statusnya sebagai mantan budak atau sebagai perempuan yang konon lemah kemampuan otaknya, yang terpenting adalah terciptanya sebuah sinergitas yang berorientasi pada amar ma’ruf nahi munkar, tanpa menafikan kemampuan masing-masing.

Setiap laki-laki dan juga siapapun pasti membutuhkan perempuan, bahkan Nabi sekalipun butuh perempuan. Nabi Muhammad selalu mencari Khadijah dikala merasakan gundah dan gulananya hati, tatkala mendapat amanah kerasulan, Nabi adam butuh Siti Hawa sebagai teman dalam mengarungi hidup didunia, Masyarakat manapun butuh peremuan, karena perempuan adalah “Rahim Peradaban”. Rahim dari sebuah peradaban baik ataupun buruk. Terlepas dari lebel baik atau buruk, tetap saja ada “Pahlawan” di atas “Pahlawan”, jasa seorang perempuan yang tak tergantikan posisinya oleh laki-laki manapun, karena perannya yang unik namun strategis.

Ayyuhal Akhawat… posisi “tak tergantikan” akan muncul jika kita mampu menyadari fungsi kita, membekali dengan ilmu, mempoposisikan diri secara proporsional dan maksimal, terlebih punya daya manfaat bagi orang disekitar kita tentunya. Menjadi seorang “Pahlawan” dibalik seorang “Pahlawan” bukan pekerjaan kecil dan sepele, karena perannya tak terlihat tapi justru sebuah pekerjaan yang besar karena belum tentu semua perempuan mampu melakukannya. Wallahua’lam bis Showab.

Daarul Muslimah Daarut Tauhiid