Tulisan selalu ada awal kejadian yang menginspirasi donk ya,, nah kali ini inspirasi datang ketika saya sedang mengejar-ngejar dosen dan harus menghentikan langkah kaki ketika bertemu dengan seorang dosen yang dulu sempat membimbing saya dalam pembuatan karya ilmiah. Dosen yang banyak berbagi pengalaman hidupnya kepada kami-kami anak didiknya…

Langkah saya terhenti dan percakapan pun terjadi. Awalnya si ibu dosen mengingatkan saya (yang sudah pernah cuti 1 semester) untuk memperhitungkan agar tidak lagi molor lulus kuliah, karna ternyata cuti terhitung masuk dalam kredit semester kuliah. Jadi walaupun sebenarnya secara hitungan semester kuliahan saya 4,5 tahun tetap saja di catatan legal universitasnya saya lulus 5 tahun >__<

Alih-alih bicara tentang pengingatan tadi, ngalor ngidul sampailah pada cerita ibu yang dulunya juga lulus cukup lama (kalo tidak salah ingat sampai 8 tahun), tapi ibu dosenku itu langsung dapat kerja tidak seperti teman2nya yang lulus lebih dulu tapi harus menunggu 2 tahun lamanya untuk bisa bekerja. Intinya beliau menyampaikan bahwa tidak apa-apa kalau memang harus terlambat lulus untuk mendapatkan sesuatu (yang positif tentunya) lainnya yang bisa membuat kita pada akhirnya menyamakan posisi.

Kebetulan saat itu saya sedang bersama seorang kakak kelas, dan si teteh (kakak kelas tadi) menjelaskan bahwa maksud ibu bisa dianalogikan ibarat sebuah papan dilaut, kalo kita taruh beban disatu sisinya maka yang satu akan tenggelam dan yang lain akan muncul lebih tinggi untuk menyeimbangkan posisi (bayangkan seperti papan jungkat-jungkit), jangan sampe seperti besi di air,, tenggelam semuanya. Jadi kalaupun memang kita terpaksa (tidak bisa menghindar) harus minus bagaimana caranya di sisi lain kita bisa lebih positif, sehingga tetap stabil dan tidak tertinggal jauh.

Bagi saya, hidup adalah kompetisi. Mungkin karna (kata seorang teman) ‘need of achievement’ saya tinggi jadi saya suka menganggap hidup sebagai sebuah perlombaan yang harus selalu diusahakan dan direncanakan strategi pemenangannya. Kalaupun memang terpaksa kalah, ya terima kekalahan itu dan perkuat potensi kita yang lain. Setiap kita pasti punya satu atau beberapa hal yang lebih dikuasai dari lainnya. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa menguasai semuanya, pasti selalu ada yang dominan, ada yang biasa-biasa saja atau malah benar-benar tidak bisa dikuasai sama sekali.

Jadi inget kemarin sempat ngobrol di telpon sama ibu, ibu bertanya

“Apa yang bisa membedakan uang dan kertas?. Kenapa kalau kertas dalam jumlah banyak terjatuh dari atas pesawat tidak ada yang terlalu peduli atau bahkan sampai berpikir untuk mengorbankan jiwa raganya untuk menyelamatkan kertas tersebut, sedangkan kalau uang (meskipun hanya 100 lembar) terjatuh dari atas pesawat maka penumpang akan langsung panik dan segera melakukan misi-misi penyelamatan???.”

Saya diam sambil menunggu jawaban dari ibu.

“Yang membedakan adalah nilainya. Uang juga sebenernya sama-sama kertas tapi karna uang sudah diberikan nilai lebih dan bisa memberikan nilai untuk hal lainnya maka uang menjadi lebih berarti daripada hanya sekedar kertas biasa. Begitu juga kita, yang membedakan kita dengan yang lain adalah nilainya. Kenapa si A bisa lebih dihargai, lebih dipandang, lebih didengar omongannya daripada si B?? Karna si A sudah bisa memberikan nilai tambah pada dirinya yang akhirnya ikut memberi nilai kepada orang lain. Dan tidak hanya sekedar nilai, tapi juga tentang berapa besar nilai yang bisa kita peroleh, bagaimana kita mendapatkan nilai tersebut, serta bagaimana memanfaatkannya sehingga bisa berlipat ganda.”

Ibu pun melanjutkan

“Ada orang yang kaya karna korupsi dan bisa memiliki semua kemewahan tapi nilainya akan kalah jauh dengan pegawai lainnya yang hanya menggunakan motor hasil dari uang gaji yang memang haknya. Nilainya akan jauh berbeda karna pegawai yang menggunakan motor tadi bisa memberikan nilai tambah bagi lingkungan sekitarnya akan keberkahan rezeki tanpa harus mengambil hak orang lain.”


Dan masih banyak contoh lain dalam obrolan yang cukup panjang itu,,, Berbeda tidak selalu menjadi pemenang, tapi pemenang pasti berbeda. Berbeda mulai dari kebiasaan dan strateginya hingga bisa memenangkan kompetisi. Kita harus memiliki modal awal berupa nilai tambah tadi untuk selalu menempatkan kita sebagai pemenang dalam setiap kompetisi. Kalau teman-teman masih ingat tulisan saya tentang definisi pemenang sejati (http://ngerumpi.com/baca/2010/04/12/the-real-winner), maka teman-teman pasti masing ingat bahwa masing-masing kita adalah pemenang.

Kembali lagi pada obrolan saya bersama dosen saya tadi yang secara tidak langsung menjelaskan bahwa terbaik bukan dalam persepsi orang memandang kelemahan dan kekalahan kita dalam parameter kemenangan relatif yang tentunya akan berbeda-beda bagi setiap orang, tapi bagaimana kita meminimalisir yang minus dan bisa menjadikannya se-positif mungkin di sisi lainnya.

Hidup adalah kompetisi.. Kompetisi untuk menjadi yang terbaik,,,
Dan setiap kita diharuskan untuk menjadi pemenang.

sumber: ngerumpi.com