Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Saudaraku yang berbahagia, ternyata rahasia ramah itupun terletak dari kesanggupan berlapang dada dalam menyikapi orang lain. Ada sebuah ungkapan hikmah yang menarik. Bunyinya kurang lebih begini, “ditanah lapang yang luas, walau disana banyak binatang buas, tetap saja orang bisa tenang. Tapi di ruangan yang sempit, walau hanya berdua dengan seekor kecoa, itu bisa menjadi sumber keributan.” Bisa dimaknai dari hikmah di atas bahwa bergaul yang menyenangkan dan penuh kehormatan hanyalah milik orang-orang yang berlapang dada. Bagi mereka yang sempit hati, perkara kecil saja cukup membuatnya tersinggung dan sangat mungkin akan direspon negatif hingga hal itu kemudian menjadi masalah besar.

Ada persiapan-persiapan yang harus kita lakukan agar kita berlapang-dada menghadapi setiap masalah, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Persiapkanlah mental kita bahwa kita harus siap menghadapi orang yang kurang menyenangkan, orang yang kurang menghargai atau bahkan orang yang hendak meremehkan diri kita. Semua itu tidak membuat kerugian buat kita, bahkan bisa menjadi sarana kemuliaan. Inilah sarana untuk melatih kesabaran, sarana memaafkan, dan sarana membalas keburukan dengan kebaikan. Coba renungkan, bukankah istilah pahlawan itu ada karena ada penjahat? Maka pilihlah sikap pahlawan.
  2. Belajarlah untuk memaklumi dan memahami bahwa latar belakang seseorang amat beragam, sering berbeda-beda. Mungkin saja kita sudah sangat ingin berbuat baik namun tata nilainya berbeda, atau belum sesuai dengan standar yang diharapkan. Atau mungkin seseorang bersikap minus 2, padahal dia sebelumnya dia minus 5. Artinya, disini ada kemajuan 3 poin walaupun masih ada nilai negatifnya. Lihatlah pada perubahannya dengan memahami kondisi sebelumnya.
  3. Berbaik sangkalah kepada siapapun karena Allah. Jangan biasakan mengawali sesuatu dengan perasangka buruk, karena itu akan sangat mempengaruhi cara berpikir, cara bersikap dan bertutur kata.

    Alkisah, ada seseorang yang mencurigai teman sebangkunya mencuri pulpen miliknya. Setiap waktu dia mencari jalan yang membuat perasaannya kian yakin bahwa temannya itulah yang mencuri. Semakin lama semakin cocok prasangka-perasangkannya. Dari diamnya, dari sikap yang agak menghindar, dari menyembunyikan kotak pensilnya, dan lain sebagainnya. Tapi sikap curiga itu tiba-tiba sirna dan semua kawannya dianggap normal seperti sedia kala ketika dia tahu bahwa pulpennya itu ternyata hanya tertinggal di rumahnya sendiri.

  4. Mengalahlah jika sekirannya akan menjadi kebaikan bagi semua. Sikap saling ngotot apalagi terhadap hal sepele benar-benar akan merusak suasana. Hindari berdebat, berikan hak kita untuk orang lain andaikata semua itu akan membawa manfaat yang besar walaupun sepertinya kita rugi. Padahal sudah beruntung menanam amal dan mengokohkan nama baik, percayalah akan ada kenikmatan yang jauh lebih besar dengan mengalah terhadap saudara sendiri, dari pada kenikmatan semu akibat sikap egois dan serakah.
  5. Maafkanlah, dan janganlah mata ini terpejam sebelum berikrar untuk memaafkan orang lain. Nikmat sekali hidup tanpa kedendaman, hidup menjadi membuat hati ini lega dan lapang.

Saudaraku, mudah sebenarnya untuk mengatakan konsep-konsep islam, tapi menjalankannya yang butuh kesabaran, ketenangan dan kesungguhan. Semoga kita mempunyai jiwa lapang dada, Amiin.

sumber: http://www.cybermq.com