Assalamualaikum Wr. Wb.
Ustaz Yth., Seiring bekembangnya pengetahuan dan informasi, sehingga dunia ini menjadi sempit, kita dapat mengetahui suatu invensi/penemuan yang baru di mana saja dengan mudah. Atas temuan-temuan baru tersebut kita hanya bisa melihat dan membaca tetapi tidak bisa memanfaatkan. Hal ini disebabkan karena temuan-temuan tersebut telah dilindungi oleh oleh suatu suatu sistem yang disebut “Sistim Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual”. Saya hanya ingin menanyakan bagaimana pandangan Hukum Islam terhadap Hak Kekayaan Intelektual? Terimakasih atas jawabannya.
Wassalamualikum wr. wb.
Ahmad Muniri

Jawaba

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du
Secara umum, hak atas suatu karya ilmiyah, hak atas merek dagang dan logo dagang merupakan hak milik yang keabsahaannya dilindungi oleh syariat Islam. Dan merupakan kekayaan yang menghasilkan pemasukan bagi pemiliknya. Dan khususnya di masa kini merupakan ‘urf yang diakui sebagai jenis dari suatu kekayaan di mana pemiliknya berhak atas semua itu. Boleh diperjual-belikan dan merupakan komoditi.

Maka Qarar Majma’ Al-Fiqh Al-Islami no. 5 pada Muktamar kelima 10-15 Desember 1988 di Kuwait menetapkan bahwa hak cipta itu adalah hak milik kekayaan seseorang yang harus dijaga dan dilindungi. Dan haram hukumnya melakukan tindakan yang melanggar hak cipta itu.

Memang di masa lalu syariat Islam belum mengenal hak kekayaan intelektual. Dan Undang-undang Hak Cipta secara sejarah Islam awalnya memang belum ada, karena umumnya filosofi para penemu dan pencipta termasuk pengarang karya-karya besar dalam Islam hanya bertujuan untuk mendapat ridha dan pahala dari Allah semata. Sama sekali jauh dari tujuan materi dan kekayaan.

Karena itu dalam literatur klasik fiqih Islam, kita tidak mengenal hak cipta sebagai sebuah hak milik yang terkait dengan kekayaan finansial. Justru semakin dibajak atau ditiru akan semakin banggalah dia dan semakin banyak pahalanya. Selain itu juga ada rasa kepuasan tersendiri dari segi psikologisnya. Apa yang mereka lakukan atas karya-karya itu jauh dari motivasi materi/uang. Sedangkan untuk penghasilan, para ulama dan ilmuwan bekerja memeras keringat. Ada yang jadi pedagang, petani, penjahit dan seterusnya. Mereka tidak menjadikan karya mereka sebagai tambang uang.

Karena itu kita tidak pernah mendengar bahwa Imam Bukhori menuntut seseorang karena dianggap menjiplak hasil keringatnya selama bertahun-tahun mengembara keliling dunia. Bila ada orang yang menyalin kitab shohihnya, maka beliau malah berbahagia. Begitu juga bila Jabir Al-Hayyan melihat orang-orang meniru/menjiplak hasil penemuan ilmiyahnya, maka beliau akan semakin bangga karena telah menjadi orang yang bermanfaat buat sesamanya.

Hak cipta barulah ditetapkan dalam masyarakat barat yang mengukur segala sesuatu dengan ukuran materi. Dan didirikan lembaga untuk mematenkan sebuah penemuan dimana orang yang mendaftarkan akan berhak mendapatkan royalti dari siapa pun yang meniru/membuat sebuah formula yang dianggap menjiplak.

Kemudian hal itu menjalar pula di tengah masyarakat Islam dan akhirnya di masa ini, kita mengenalnya sebagai bagian dari kekayaan intelektual yang dimiliki haknya sepenuhnya oleh penemunya. Maka berdasarkan ‘urf yang dikenal masyarakat saat ini, maka para ulama pada hari ini ikut pula mengabsahkan kepemilikan hak cipta itu sebagaimana Ketetapan (Qarar) dari Majelis Majma’ Al-Fiqh Al-Islami, sebuah forum yang terdiri dari para ulama kontemporer yang bermarkaz di Jeddah Saudi Arabia.

sumber: pustaka islam