Sikap menentukan sukses atau tidaknya kita. Menurut manajemen IBM kualitas manusia ditentukan oleh 90 persen sikapnya (attitude) dalam menghadapi masalah. Sedangkan sisanya 10 persen ditentukan oleh kemampuan ilmunya (knowledge). Artinya, kesuksesan itu seringkali diawali dari sikap hidup yang benar dan tepat dalam menghadapi suatu peristiwa.

Bukan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi bagaimana menyikapi apa yang terjadi. Bukan karena kita ditakdirkan bernasib jelek, tapi bagaimana kita menggunakan segala potensi terbaik yang dimiliki untuk merespon suatu kondisi yang buruk menjadi lebih baik.

Jadi jika saat ini kita masih dalam keadaan kekurangan harta, ilmu, atau apapun, maka tidak cukup dengan hanya meratapi dan menyesalinya, selamanya hal itu tidak akan mengubah nasib. Namun, ketika kita menyikapinya dengan terus menerus memikirkan peluang yang bisa dikerjakan dan terus menerussekuat tenaga memperbaiki diri, maka kita akan mampu mengubah keadaannya. Jika nasi sudah jadi bubur, ya kita tambahkan kacang, kerupuk, bawang goreng dan ayam goreng. Maka bubur nasi bisa kita ubah menjadi bubur ayam yang nikmat. Jika terlanjur basah, ya sudah ambil sabun, sampo lalu kita mandi, biar bersih sekalian. Jadi sekali lagi bukan keadaan yang buruk yang harus disesali, tetapi bagaimana mengubah keadaan buruk menjadi keadaan yang baik.

Lantas timbul pertanyaan bagaimana seharusnya mulai membangun attitude? Kebanyakan orang adalah produk zaman alias cuma jadi pengekor apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya. Mereka memilih menjadi orang yang tidak melahirkan sikap yang asli. Apapun yang mereka pilih, pakaian, pekerjaan, makanan, pikiran, semuanya hanya mengikuti apa yang sudah lebih dahulu ada. Jadi mereka kehilangan diri yang sebenarnya.

Handphone yang dipakai, sepatu yang dibeli, gaya hidup yang dipilih bahkan sampai agama yang dianut bukan merupakan pilihan yang kontemplatif, tapi lebih dikarenakan orang lain telah memakainya terlebih dahulu. Singkatnya mereka menjadi orang-orang yang dipenjara oleh masa lalu, dan memilih menjadi manusia-manusia pengekor.

Akibatnya jika ada penilaian dengan kacamata lain terhadap nilai-nilai yang sudah dianut maka yang terjadi adalah penolakan. Pada saat seorang direktur eksekutif mengajukan suatu langkah yang tidak populer dalam menentukan kebijakan perusahaan, maka yang terjadi adalah penolakan bukan apresiasi terhadap langkahnya. Ini akibat mereka terbiasa membenarkan sesuatu yang sudah lazim.

Sikap penolakan yang timbul disebabkan orang tidak memandang sesuatu itu dengan bersih dan jernih. Sikap memandang sesuatu dengan bersih dan jernih hanya dimiliki oleh orang yang berhati bersih dan berpikiran jernih. Atau dengan kata lain dirinya terbebas dari nilai yang sudah umum dan dia memiliki cara pandang, berpikir, bertindak dan membuat pilihan dengan melihatnya dari akar dan dasar permasalahan. Dia memulainya dengan menempatkan dirinya pada titik nol sehingga pikiran menjadi lebih jernih dan baginya segala sesuatu menjadi mungkin.

Dan Ramadhan adalah bulan yang dipersiapkan oleh sang Khalik untuk membina kita umat-Nya agar bisa kembali ke titik nol. Nol bisa juga berarti kosong. Bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milik-Nya. We have nothing, zero, nol, kosong, nggak ada apa-apanya. Perut kita diperintahkan untuk dikosongkan selama bulan ini, maksudnya agar kita jadi lebih mampu mengosongkan juga otak kita dari pikiran-pikiran kotor dan menahan keinginan duniawi kita sehingga makin mendekatkan diri kepada Allah. Kosong juga berarti khusyu, terbebas dari ikatan materi keduniaan, yang ada hanya Allah sang Maha.

Allah telah mempersiapkan kita semua umat Islam yang beriman untuk menjadi sukses melalui puasa Ramadhan sehingga dengannya kita menjadi bersih hati, jernih pikiran dan mampu mengubah keadaan kita menjadi lebih baik. Mari kita manfaatkan momentum Ramadhan sebagai media kontemplatif kita dan meraih kesuksesan dunia akhirat.