Oleh   : Saryanto

Merupakan suatu kesyukuran yang amat besar allah masih memberikan umur yang panjang sehingga kita masih dipertemukan dengan bulan yang amat mulia yaitu ramadhan. Sebagaiman rosulullah saw. Bersabda:

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (HR. Ath Thabrani, dan  para  periwayatnya terpercaya).,

Allah telah berfirman:

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.[1]

Dalam tafsir as-sa’di dijelaskan makna ayat ini:

”dan barangsiapa berlomba lomba dalam kebaikan di dunia maka ia termasuk berlomba-lomba kebaikan untuk akhirat yaitu surga. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan yang mencakup semua hal baik yang fardhu maupun yang sunah seperti sholat, puasa, zakat, haji umroh, jihad, dll.”[2]

Dan firman-Nya:

”sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu”[3]

Dalam mengoptimalisasikan bulan yang amalan dilipatgandakan dan kekhususan bagi allah ini mari kita berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan. Namun kebaikan yang dimaksud disini adalah dalam perspektif dan timbangan syariat karena disebut sebagai amal kebaikan yang akan diterima allah adalah dengan adanya dua syarat:

  1. الإخــلاص  (ikhlas)

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.[4]

  1. الصواب \الإتباع (Benar/mengikuti)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.[5]

Kompetisi dalam beramal pun juga membutuhkan kejelian kita dalam memilah dan memilihnya sehingga kompetisi yang kita lakukan ini benar-benar mampu menjadi bekal dan goalnya suatu kebahagiaan yang abadi. Untuk itulah penulis mengajak kepada semua pembaca makalah ini untuk mencanangkan akselerasi (percepatan) amal.

Ciri amal akselerasi

  1. Beramal sedikit hasilnya banyak.

Contoh:

a)      Umroh

Umrah di bulan Ramadhan memiliki pahala yang amat besar, bahkan sama dengan pahala haji. Dalam Shahih nya,  Imam Al-Bukhari meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji, atau beliau bersabda, haji bersamaku.” Tetapi wajib diketahui, meskipun umrah di bulan Ramadhan berpahala menyamai haji, tetapi ia tidak bisa menggugurkan kewajiban haji bagi orang yang wajib melakukannya

b)      Sholat di 3 masjid utama

Shalat di Masjidil Haram Makkah dan di Masjid Nabawi Madinah pahalanya dilipatgandakan, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih : “Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu (kali) shalat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram.” Dalam riwayat lain disebutkan : “Sesungguhnya ia lebih utama. “ (HR, Al- Bukhari, Muslim dan lainnya)

c)      Menggapai lailatul qodar

Dalam hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda :
“Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

  1. Bersifat investasi di hari akhir,passive in come. Contoh amal jariyah, anak sholeh, dan ilmu yang bermanfaat.

Sebagaimana hadits nabi:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ». صحيح مسلم – مكنز – (ج 11 / ص 68)

Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali tiga yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya.(HR.muslim)[6]

  1. Mendatangkan manfaat untuk orang banyak. Belajar mengajar, mendakwahkan agama. Berjihad di jalan Allah.

[1] Al-baqarah: 148

[2] Tafsir as-sa’di hal 75

[3] Al-maidah: 48

[4] Al-bayinah: 5

[5] Al-hasyr: 7

[6] Sohih muslim: 11/68