“Samudera kan ku sebrangi”
“Gunung-gunung kan ku daki”
“Belantara kan ku jelajahi”
“Bara Api kan ku tapaki”
“Tuk buktikan, Cinta ini padamu jua”

eramuslim – Inikah gerangan ungkapan sosok arjuna yang sedang mabuk kepayang dengan bunga-bunga kehidupan bernama cinta?

Kekuatan cinta senantiasa menjadi misteri, karena yang lemah tiba-tiba menjadi kuat, yang penakut tiba-tiba menjadi berani, yang bercerai-berai tiba-tiba menjadi bersatu dan yang tadi-nya mahal seketika menjadi murah.

Inilah kekuatan cinta, ketika semua mata mengarah memandang, ketika suasana hati menjadi terwarnai, tidak mengenal negara dan bahasa, kekuatan cinta adalah milik semua.

Ketika Aceh bergetar dan lautan meluap, segenap cinta pun tercurah, mengundang pejuang cinta dari berbagai pelosok bumi untuk menumpah ruahkan bahasa cinta mereka di bumi rencong.

Entah muslim dari Turki, Mesir, Saudi, Eropa, Pakistan, India, Amerika, Kanada, Malaysia dan pelosok lainnya, walaupun tak fasih mereka mengucap “Aku Cinta Kamu Karena Allah” (dalam bahasa indonesia) tapi cita rasa-nya tetap terasa, rasa-nya rasa cinta!

Karena memang cinta tak melulu harus diungkapkan dengan verbal, terkadang lebih pekat rasa-nya jika cinta dibuktikan dengan amal.

Gustav Le Bon, seorang filusuf dan ahli psikologis dari perancis menyimpulkan bahwa manusia pada umum-nya kesulitan mencerna sesuatu yang abstrak dibanding sesuatu yang nyata.

Jadi, jika ungkapan verbal cinta adalah abstrak, maka amal cinta adalah nyata! Subhanallah wa Allahmdulillahi wa la Ilaha ila Allah wa Allahu Akbar!!

Di ujung barat bumi pertiwi, Allah buktikan cinta-Nya dengan nyata, disyahidkan-Nya sekian banyak mujahid dan mujahidah da’wah. Dibuktikan cinta-Nya kepada para syuhada dengan jasad tetap terjaga rapih aurat-nya hingga bersamayam ke dalam lahat, ditebarkan wangi kesturi keluar dari jasad mereka, dan dibiarkan masjid-masjid itu tetap kokoh berdiri.

Sebagai bukti cinta, bagi para pencari cinta sejati.

Namun inilah yang disebut suka duka dalam bercinta, tak selama-nya cinta bersambut, terkadang hanya bertampuh di sebelah tangan, sebuah cinta yang tak berbalas, tak berbalas oleh bukti cinta. Sebuah ironi cinta.

Entah mengapa cinta itu mudah terucap, ketika diperlihatkan kebesaran Allah, “Alhamdulillah, Subhanallah” semua bahasa verbal cinta menjadi teramat mudah terucap, namun sayang bukti cinta-nya tak kunjung ada. Hampa! layak-nya baris-baris jama’ah di masjid-masjid yang tersisa.

Entah mengapa warung-warung kopi dan kedai-kedai mie goreng itu bisa menjadi lebih menarik, padahal seumur-umur kedai-kedai tersebut tak pernah mengungkapkan cinta kepada para pengunjungnya, apalagi hingga (mampu) membuktikannya.

Rupa-nya cinta telah berlari ke lain hati, ironi cinta, cinta yang tak berbalas.

Layak-nya dialektika cinta Syaikh Abdul Mu’iz Abdus Sattar, ketika beliau diutus Al Ikhwanul Muslimin pada tahun 1946 selama 2 bulan penuh ke Palestina untuk menyadarkan bahaya zionis bagi eksistensi muslim Palestina.

Didapati oleh Syaikh Abdul Mu’iz kondisi Masjidil Aqsha yang senyap dari para pencari cinta, ketika situasi ini ditanya kepada para jama’ah, jawab mereka kepada Syaikh Abdul Mu’iz. “Sholat itu berat bagi mereka, tapi bila mereka diseru untuk berperang mereka pasti segera memenuhi seruan secepat kilat.”

***

Renungan cinta yang tak pupus oleh waktu,

“76 tahun berjalan sudah…”
“59 tahun Indonesia mengisi kemerdekaannya”
“57 tahun sejarah perjuangan Palestina”
“20 tahun lebih bunga tarbiyah bersemi”
“Aceh…. 6 tahun berjalan sudah…”
“Sayang Aceh?… 2 bulan berlalu sudah”

bagai dialektika cinta kekal Sang Khaliq kepada mahluk…

“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan sholat” (QS Al Baqarah: 45)