Oleh: A’A.

Sebagai orang Islam yang ngaku-ngaku mengimani sang primadona sepanjang masa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita kudu melu-melu apa yang diajarkannya, baik kita menyukainya maupun kagak suka. Sebab syari’at Islam terbangun dari apa yang dibawa oleh beliau sang Pemimpin teladan plus Kekasih Allah Ta’ala, jadi tidak ada alas an yang membuat kita menimbang-nimbang toek niru orang selain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, seorang muslim ketika melakukan Ibadah sholat harus sesuai dengan tuntunannya. Sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku Shalat”

Salah satu syarat sahnya seorang shalat adalah suci dari berbagai Hadats baik yang kecil maupun yang besar, dari sinilah pembaca akan kami ajak untuk bersama-sama Mandi besar(Eh.. mempelajari mandi besar) untuk menghilangkan Hadats besar.

Bagaimana sih Hukum mandi besar en kedudukannya?

Mandi besar yaitu menyiram sekujur tubuh dengan air. Dasarnya adalah firman Allah ta’ala:

“Dan jika kamu junub maka mandilah” [Al-Maidah:6]

Dan firman Allah ta’ala:

“(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”

Mandi besar itu terbagi kepada wajib dan sunat:

1. Mandi besar yang diwajibkan, adalah mandi yang dilakukan setelah bersetubuh, baik mani keluar atau tidak keluar. Jadi tetap wajib mandi walau sekedar disebabkan masuknya(tenggelam) kepala zakar ke dalam liang vagina sesaat. Ini didasarkan kepada hadits Abu Huroiroh ia berkata, telah bersabda rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Apabila laki-laki telah duduk diantara anggota tubuhnya yang empat kemudian ia bersungguh-sungguh (memasukkan kemaluannya), maka wajiblah mandi” [riwayat Bukhori dan Muslim, ditambah Muslim: walaupun tidak keluar air mani]

Wanita dalam hal itu (wajibnya mandi setelah setubuh) seperti laki-laki.

Begitu juga, wajib mandi dikarenakan seseorang mimpi setubuh, lalu mendapati bekas mani, berdsarkan kepada hadits Ummu Salamah bahwasanya Ummu Sulaim istri Abi Thalhah, bertanya kepada Rasulullah, Ia berkata, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, apakah mandi diwajibkan atas wanita bila ia bermimpi? Beliau bersabda, “Ya, apabila mendapati air mani (air mani/basah)” [Riwayat Bukhori dan Muslim]

2. Mandi besar yang dianjurkan/disunnahkan di antaranya

Mandi hari Jum’at, mandi shalat Jum’at ini hukumnya sunah muakkadah (ditekankan), kecuali bagi orang yang punya bau yang tidak enak dan menusuk hidung, maka wajib mandi, berdasarkan hadits Samurah bin Jundub Ia berkata, telah bersabda Rasulullah:

“Barangsiapa yang wudhu pada hari jum’at itu adalah bagus, dan barangsiapa mandi, maka mandi itu adalah lebih afdhol” [Riwayat tirmidzi dan dihasankannya].

Terus gmn donk Cara Mandi Besar yang nyunnah..?

Tata cara mandi, maka ada dua macam:

1. Tata cara yang mencukupi dan diterima (sah) ialah mencuci kepala dan seluruh badannya.

2. adapun tata cara yang semupurna adalah sesuai yang tecantum dalam hadits ‘Aisyah di Bukhori dan Muslim Ia berkata:

“Adalah Rasulullah jika ia melakukan mandi junub, beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya kemudian menuangkan air dengan tangannya ke tangan kiri, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudhu, kemudian mengambil air, lalu beliau memasukkan jari jemarinya ke pangkal rambut, kemudian beliau menyiramkan air sekujur tubuhnya kemudian mencuci kedua kakinya”

Hadits ini adalah lafal ang dikeluarkan oleh Muslim. Hadits yang senada dengan ini ada dalam Bukhori dan Muslim dari hadits Maimunah.

Tata cara mandi yang sempurna itu didahului oleh wudhu, Cuma saja mencuci kedua kakinya diakhirkan saat selesai memandikan sekujur tubuh.

Adapun tata cara mandi yang sah dan di terima (minimal) tidak didahului wudhu. Kedua cara itu sah.

Tidaklah wajib bagi wanita untuk menguraikan kepang rambutnya saat mandi berdasarkan hadits Ummu Salamah di Shahih muslim ia berkata, saya adalah wanita yang kepang rambut saya tebal, apakah saya menguraikannya untuk mandi junub dan haid? Beliau menjawab “Tidak, cukuplah bagimu untuk menunaikan air ke atas kepalamu tiga kali tuangan”.