Selama ini kita mengenal istilah manajemen itu dalam istilah business management, kemudian marketing management atau mungkin Human Resources Development Management atau mungkin finance management.

Sekarang saya akan memperkenalkan pada Anda apa yang disebut dengan mind management, manajemen pikiran.

Kenapa saya ambil judul seperti itu? Karena saya terinspirasi oleh sebuah hadits yang mengatakan bahwa Allah mengikuti sangkaan seorang hamba terhadap-Nya. Jadi, ketika kita berpikir positif, maka itulah yang akan Allah kirimkan kepada kita. Ketika seorang menganggap dirinya berhasil, menggangap dirinya gagal, menganggap dirinya kecewa, atau menganggap dirinya susah, maka Tuhan akan mengirimkan pikiran itu kepada dirinya. If you think you can, you can. If you can not, you can not. Kalau Anda berpikir bisa, Anda pasti bisa. Tapi, kalau Anda berpikir sudah tidak bisa, maka Anda tidak akan bisa. Tuhan akan menakdirkan Anda tidak bisa. Maka, mulailah cara berpikir kita yang positif sehingga Allah akan mengirimkan kepada Anda pikiran yang positif, mind management.

Para insan sejati, di dalam kehidupan mungkin Anda pernah mengalami apa yang saya sebut dengan istilah 4L: Letih, Lesu, Loyo, Lemah. Bukan hanya secara pikiran, bukan hanya secara batin, tapi juga secara fisik. Bisa secara fisik, bisa secara mental, bisa secara spiritual. Maka, kita perlu yang namanya physical fitness, mental fitness, dan spiritual fitness. Tapi, di bagian pengantar ini saya akan fokus membahas kenapa di dalam diri kita ada yang namanya 4L tadi. Kenapa itu masuk ke dalam diri kita? Menyerang kehidupan kita? Bahkan, ini tidak terjadi secara individu saja, tetapi secara konteks masyarakat pun terjadi.

Ada ketidaksemangatan dalam hidup. Kita akan melihat di sini kenapa kita menjadi tidak punya kekuatan dalam hidup ini. Why do become powerless. Kita punya power, tapi kenapa hari ini kita merasa tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita? Kita tidak bisa memecahkan masalah, bahkan masalah itu terasa lebih besar dibandingkan kemampuan kita. Kenapa ini terjadi? Itu karena powerless. Kekuatan kita tidak muncul.

Saya mengajak Anda untuk mengenal darimana powerless ini muncul, darimana kekuatan-kekuatan yang berkurang ini muncul, kenapa kita menjadi powerless dalam kehidupan kita. Apa hambatan-hambatan yang dialami oleh seseorang sehingga dirinya menjadi powerless? Apa yang menyebabkan 4L itu bisa datang? Ada 4 penyebab: 2 penyebab yang datang dari dalam diri kita sendiri, dan 2 penyebab yang datang dari luar. Ada penyebab secara internal dan ada penyebab secara eksternal.

Penyebab secara internal, pertama, adalah apa yang disebut dengan bad self image, ada satu citra diri yang negatif. Tanpa disadari oleh kita, setelah kita berpuluh-puluh tahun menjalani hidup ini, tanpa terasa di dalam kehidupan kita dihinggapi oleh apa yang disebut bad self image. Ternyata image itu bukan hanya untuk perusahaan saja, diri kita juga perlu brand image, perlu citra. Setiap orang perlu citra. Tapi, kalau citra yang sudah terbentuk dalam diri kita adalah negatif, akan sulit buat kita untuk maju ke depan.

Bad self image ini muncul dari lingkungan yang paling dekat dengan Anda, keluarga, ini yang paling dominan. Berdasarkan suatu penelitian, yang bisa mengubah dan menciptakan image seseorang adalah dari kehidupan di rumah Anda. The first school is at home and the first teacher is mother ‘sekolah pertama untuk Anda itu adalah di rumah dan guru pertama yang paling baik itu adalah ibu Anda sendiri di rumah. Keluarga inilah yang akan membentuk brand image ini positif atau negatif.

Para insan sejati, pernahkah Anda mengalami satu situasi ketika Anda masih sekolah di SD lalu Anda mendapatkan rapor dan Anda pada waktu itu agak kaget karena dari rapor Anda banyak yang merah dibandingkan yang bukan merah kemudian Anda mendapat ranking di bawah 20. Anda malu untuk menyerahkan rapor ini kepada orang tua Anda. Akhirnya Anda terpaksa menyerahkan. Apa ekspresi wajah orang tua Anda ketika melihat rapor Anda itu jelek? Tanpa disadari muncullah kata-kata, “Memang kamu ini orang yang bodoh, kamu tuh tidak pintar, tidak seperti kakak kamu.”

Masuklah kata-kata tadi ke dalam pikiran kita dan itu terjadi berulang-ulang dalam kehidupan Anda, “You are stupid, Anda bodoh. Anda tidak pintar, Anda goblok,” dan segala macam bentuk istilah-istilah yang lain. Dan, istilah yang lebih kasar daripada itu masuk ke dalam pikiran Anda. Lalu, tanpa sadar itu membentuk satu rekaman yang sangat luar biasa di dalam otak Anda. Akhirnya, ketika Anda menjadi dewasa, Anda punya satu label, maaf, seolah-olah di atas jidat Anda tertulis kata-kata, “I am a stupid, saya adalah orang yang bodoh, saya adalah orang yang tidak pandai.” Ketika Anda berusaha untuk pintar atau maju, maka Anda selalu dihinggapi oleh perasaan, “I am stupid, saya adalah orang yang bodoh.” Itu yang saya maksud dengan bad self image.

Kalau sebuah perusahaan mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk memperbaiki citra merek perusahaan, how to create brand image, bagaimana menciptakan brand image sebuah perusahaan. Saya punya beberapa kawan yang menjadi konsultan di bidang brand image, nilai proyeknya luar biasa. Ada yang 10 miliar, ada yang 20 miliar, hanya untuk mengubah logo atau untuk mengubah semboyan. Hanya untuk mengubah moto atau warna, mereka habiskan dana yang cukup besar. Tapi, apakah Anda terpikir untuk mengeluarkan selain dana, melainkan pikiran dan waktu Anda untuk mengubah self image Anda yang sudah negatif tadi? Pernahkah kita terpikir untuk investasikan waktu kita, tenaga kita, dan pikiran kita untuk mengubah image kita yang negatif di mata orang atau di mata kita sendiri?

Ini hal pertama yang menyebabkan Anda bisa mengalami lesu, letih, loyo, lemah dan sebagainya. Karena bad self image, ada citra diri yang negatif. Kita harus jauhi citra diri yang negative. Marilah kita bangun dengan self image yang positif. Itu yang pertama.

Kita lihat yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience, pengalaman buruk atau dalam dunia psikologi disebut dengan traumatic syndrome. Pernah Anda mengalami traumatic syndrome? Mungkin ada beberapa contoh kasus yang bisa saya sampaikan di sini. Salah satunya apa yang disebut dengan istilah, maaf, sexual harrasment atau sexual abussment. Pernah Anda membaca sebuah berita atau artikel di satu koran atau majalah, seorang anak gadis, maaf, diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Ketika dewasa mungkin ia akan mengalami apa yang disebut dengan traumatic syndrome. Dia merasa dirinya sudah tidak punya nilai apa-apa, “Apalah artinya saya, saya pernah mengalami sexual harassment atau sexual abussment dari orang tua saya, dari ayah kandungnya sendiri.”

Setiap orang pasti mendapatkan musibah, tinggal bagaimana kita menilai peristiwa itu, positif atau negatif, karena Tuhan berfirman dalam surah Ali Imran ayat 191, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, dan selamatkanlah kami dari api neraka.” Apa pun musibah yang menimpa kita, walaupun kita tidak siap menerima musibah itu, pada dasarnya itu tidak ada yang sia-sia, semua itu ada manfaatnya, ada hikmahnya. Kata orang bijak, ada hikmah di balik itu semua.

Jadi itu yang kedua, apa yang disebut dengan bad experience. Pernahkah Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah anak Anda mengalami situasi seperti itu? Pernahkah pasangan hidup Anda mengalami pengalaman buruk seperti itu? Kalau iya, itu akan menyebabkan 4L tadi: Letih, Lesu, Loyo, dan Lemah. Karena bad experience tadi, pengalaman buruk menimpa Anda. Dan, bentuknya pada setiap orang itu berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi, tergantung bagaimana Allah memberikan kepada dia, Karena Allah selalu mempunyai satu skenario yang beraneka ragam pada setiap manusia, that’s a miracle of life, itulah misteri kehidupan, itu hal yang sangat luar biasa.

Kita masuk kepada penyebab yang ketiga dari 4L tadi. Bad partner. Ketika Anda salah memilih teman, Anda salah memilih pasangan, maka ini akan mengakibatkan Anda mengalami powerless. Ada satu ungkapan seorang filsuf, “Sebutkan teman-teman Anda, saya akan tebak siapa diri Anda.” Ketika Anda memilih teman, itu akan menggambarkan siapa diri Anda sebenarnya. Kalau Anda terbiasa berteman dengan teman-teman yang negatif, maka Anda akan menjadi negatif juga. Ketika Anda biasa berteman dengan yang positif, maka Anda pun akan berpikir positif juga. Ini bisa menjadi penyebab Anda untuk mengalami powerless tadi, bad partner, Anda tidak pandai memilih teman.

Para insan sejati, di dalam salah satu nasihat nabi kita Muhammad saw., ada satu parameter yang membantu kita untuk bisa memilih teman yang baik itu seperti apa sih sebenarnya. Teman di sini maksudnya luas, bisa teman kehidupan, cara memilih suami atau istri. Atau teman dalam arti orang kepercayaan, kalau Anda seorang pimpinan maka Anda perlu orang kepercayaan. Bisa bermacam-macam bentuknya. Nabi Muhammad saw. memberi satu patokan bagaimana memilih teman yang baik. Kata beliau, ketika kita sudah ingin memilih seorang teman, maka engkau harus melihat pada 3 aspek. Yang pertama, sudahkah Anda bermalam di rumahnya, dalam arti positif tentu saja. Karena setiap orang itu akan berbeda penampilannya pada saat di luar rumah dan di dalam rumah. Yang kedua kata Nabi, sudahkah engkau musafir (bepergian jauh) bersamanya. Yang ketiga, sudahkah Anda mengadakan transaksi bisnis bersama dia, sudahkah Anda melakukan muamalah dengan dia. Banyak orang yang jujur dalam keseharian, tetapi begitu bicara masalah bisnis atau uang, kadang-kadang perubahan sikap itu akan terjadi.

Oke, kita lihat penyebab yang keempat dari 4L yakni bad environment, lingkungan yang buruk, al-biah assayyiah. Para insan sejati, tidak cukup hanya sekadar teman yang baik, kita membutuhkan sebuah komunitas. Katakanlah Anda sekarang memiliki satu motivasi yang kuat untuk maju, Anda optimis, Anda positive thinking, tapi kalau Anda berada dalam satu lingkungan yang negatif, lama-lama Anda akan mengalami satu kontaminasi, nilai-nilai kebaikan Anda akan luntur dan hilang. Kenapa? Terlalu banyak dominansi lingkungan terhadap diri Anda. Atau sebaliknya, kalau kita berada dalam lingkungan yang positif, walaupun kita awalnya negatif, masuk ke dalam lingkungan yang positif, kita akan terkontaminasi yang positif juga, kita akan tertular yang positif juga.

Jadi, pemilihan lingkungan sangat penting sekali. Itulah sebabnya di dalam Islam ada yang namanya konsep hijrah. Saya memahami hijrah ini bukan hanya satu aspek, tapi bagaimana kita melihat hijrah ini dalam 2 aspek. Hijrah secara fisik dan hijrah secara mental. Kita tidak hanya perlu hijrah secara fisik, tapi juga hijrah secara mental.

Untuk menjadi baik tidak cukup hanya sekadar perubahan secara spiritual, tapi kita juga harus memilih lingkungan yang baik, pilihkan anak-anak kita dengan lingkungan yang baik, sekolah yang baik, tempat tinggal yang baik, pilihkan suami atau istri kita dengan lingkungan rumah tangga yang baik. Kita bentuk suasana rumah tangga itu rumah tangga yang ideal. Pilihlah untuk masyarakat kita suatu komunitas yang baik, pilihlah untuk rakyat kita lingkungan bangsa yang baik. Kalau semua sudah dibingkai dengan lingkungan yang baik, maka insya Allah kita tidak akan terjebak terhadap penyebab terjadinya 4L (Letih, Lesu, Lelah, dan Lemah) seperti bad partner, bad self image, bad experience, dan traumatic syndrome.

Para insan sejati, saya akhiri pembahasan masalah ini dengan pepatah Nothing is impossible, everything is possible if you believe in Allah. Tidak ada yang mustahil di muka bumi ini kalau Anda percaya kepada Allah.*

sumber: bunga rampai