Dulu, ada seorang anak kecil, perlahan-lahan ia berusaha mengejar cinta Tuhan-nya, berusaha untuk shalat lima waktu tapi tak pernah bisa, akhirnya suatu ketika keinginan itu terwujud di usianya 9 tahun. Ia begitu bahagia, sangat bahagia sekali.

Tapi alangkah kagetnya ia, usai shalat, seakan ada yang berbisik, “…., umur 20 tahun engkau meninggal…” ia begitu kaget sekali, bertahun-tahun ia hidup dihantui ketakutan, sering jatuh sakit, karena walau sakit sekecil apapun, jika difikir berat, sakit itu sesuai dengan fikiran kita.

Saat cobaan itu datang, yang ada di benaknya hanya satu, bisa menjalani hari-hari dengan baik, tidak terfikir nanti apakah bisa menikah, mengandung dan punya anak. Ia malu terus-terusan menyusahkan orang tua, terkadang jika sakit itu datang, hanya dipendamnya sendiri, airmatanya sering mengalir, sadar akan banyak dosa-dosanya, sadar akan sedikit sekali bekalnya, sadar akan sedikit sekali syukurnya.

Ketika sakit itu reda dan ia kembali sehat, betapa senangnya ia bisa menjalani hari-hari lagi, berusaha mengejar lagi ibadah-ibadahnya yang tertinggal, ia mohon pada Allah diberikan jodoh, namun sang pangeran itu tak kunjung datang.

Silih bergantinya siang dan malam, bilangan hari yang berganti tahun, begitu pun dengan kondisi kesehatannya, anak itu tumbuh menjadi wanita dewasa, dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa aku belum juga dipanggil Tuhan? Sedangkan usiaku sudah menjelang seperempat abad? Ya Allah, bukan maksud hatiku mendahului keputusanMu.

Dari pengalaman yang panjang, dari jatuh bangun kehidupan, tibalah ia pada suatu kesimpulan, “Aku harus berusaha semaksimal mungkin di dunia ini untuk kehidupanku di akhirat kelak, karena sungguh, batas usia adalah takdir Allah yang tidak boleh kita dahului.”

Jikalau kita lebih dalam merenungi hidup yang tinggal sepenggalan ini, kembali menuju Allah akan membuat kita jauh lebih tenang dan bersyukur.

Bersyukurlah kepada Allah, walau bagaimanapun adanya dirimu, karena sungguh tiada ada satu pun yang terjadi, melainkan semua itu adalah atas kehendak-Nya.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim 14 : 7). (ika_sb)

KotaSantri.com