Bukan sulap bukan sihir, kalo kamu pernah denger lantunan saxophonenya Kenny G atau Dave Kozz, memang suara terompet tahun baru kalah juauh. Tapi yang ngikuti lebih banyak dibandingkan dua pemain terompet tadi. Mulai dari Indonesia hingga Amerika, semua orang berpesta menyambut tahun baru. Nggak jelas apa tujuannya. Yang pasti bukan kenduri atau selamatan sunatannya anak tetangga sebelah. He..he…

Sepertinya nggak bosen-bosen, saudara kita yang lagi ‘in’ bertahun baruan ngikuti dengan khusyuk acara yang ada. Dijamin, nggak kalah khusyuknya dengan orang lapar yang lagi makan. Lahap amat…ngeliatin aja udah kenyang. Glek!! Klop pula ama sobat kita tadi. Nggak peduli berapa lembar doku yang bakal dia keluarkan dari dompet, bensin motor yang dihabiskan, angin dingin menusuk diri, keringat yang bercucuran, darah yang mengalir, asal bisa ikut acara tahun baru. Berkorban nih ye….

Sayangnya, jiwa berkorban yang dia miliki tadi nggak lagi matching ama kebesaran jiwa yang dia punyai. Banyak diantara sobat kita yang dengan asyiknya mengikuti perayaan tahun baru alias new year dengan sebuah ritual yang aneh menurut akal sehat manusia. Kecuali, memang yang ikutan pikirannya lagi konsleting. Padahal, acara yang sama digelar tiap tahunnya. Umpama seseorang nggak bisa join ama acara itu tahun ini, dia bisa join dengan tajuk yang nggak jauh berbeda tahun depan. Artinya, acara tahun baru dari tahun ke tahun selalu tetep sama. Nggak punya format lain. Paling banter kumpul-kumpul lihatin jam dinding, kalo udah pas jam 12 tengah malam, maka semua orang yang ada di forum itu bakal bersorak kegirangan. Tuh aneh kan, liat jam bunyi aja senengnya bukan main.

 

Bercermin dari masa lalu

Sobat, pasti kamu udah seringkali bercermin di depan kaca. Misalnya, sebelum kalian berangkat sekolah. Kaca pasti udah jadi sobat sejati kita. Miring ke kanan, ke kiri, ngeliatin bagian mana yang perlu dipermak dan mana yang bakal dikurangi. Kaca nggak akan bohong. Hidung kamu kalo udah melesat ke dalam, ya emang segitu, nggak akan berbeda dengan aslinya. Nah…bukankah itu kudu jadi sebuah pelajaran berharga. Kita berkaca agar terlihat bagian mana dari kerapian diri kita yang kurang, agar diperbaiki dan siap menghadapi even selanjutnya. Demikian pula dengan bergantinya tahun. Jangan kita anggap hal itu sebuah perayaan hura-hura, gone with the wind tanpa berkaca pada tahun yang lalu. Mungkin tahun 2010 udah berlalu, tapi inget fren, hasil kita di tahun itu adalah modal kita di tahun selanjutnya. Kalo pas generasi muda kita di tahun 2010 udah sekelas Al Capone (mafia Amrik asal Chicago yang untouchable), bisa-bisa generasi kita tahun 2011 bakal menjadi generasi biang selevel tentara Amerika yang ngebom Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II. Aduh biyung….

Ternyata, setelah rapor pergantian tahun diserahkan ke negeri kita. Kita cukup kaget. Masyarakat yang bersuka ria dengan perayaan tahun baru, dan punya keinginan happy ending, eh.. ujung-ujungnya nggak cocok dengan segudang nilai merah di rapor. Inilah yang harus bikin kita menundukkan kepala.

Di bidang ekonomi, slogan yang pernah nampang di televisi dan diobral kemana-mana, menyuarakan bahwa tahun 2003 adalah tahun dimana negeri kita ini bangkit dari keterpurukan ekonominya. Slogan hanyalah slogan. Memang sih, menurut catatan akhir dari Lembaga Pengkajian Ekonomi dan Keuangan Indef, ekonomi kita mengalami pertumbuhan sekitar 3,1% pada tahun 2003. Tapi, nggak perlu bangga dengan pertumbuhan ekonomi negeri yang menganut teori kapitalisnya Adam Smith dan Malthus. Why? Sebuah anomali terjadi. Seharusnya dengan pertumbuhan ekonomi itu, jumlah kemiskinan di negeri ini berkurang, dari 17% (sekitar 37,4 juta, tahun 2002), menjadi 15%. Namun yang terjadi sebaliknya, kemiskinan malah bertambah 4 juta orang, menjadi sekitar 40,5 juta orang atau sekitar 18% di tahun 2003. Waduh, salah itung atau salah orang.

Masih dari sisi ekonomi, kemiskinan yang bertambah seiring dengan berjalannya waktu, juga semakin membesarkan balon jumlah pengangguran yang sewaktu-waktu dapat meledak. Dari sumber yang sama, tingkat pengangguran terbuka (atau yang ngaku nganggur beneran) di negeri ini naik dari 5% menjadi 5,3%, dan jumlah pengangguran terselubung (atau setengah nganggur) meningkat dari 26,1% menjadi 28,4% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia. Weleh-weleh…

Ibarat udah jatuh ketimpa tangga dan genteng. Malang bener nasib negeri kita. Maraknya perayaan tahun baru nggak sebanding dengan penderitaan generasi baru yang akan melanjutkan pembangunan negeri ini. Dari data terakhir sensus BPS tahun 2000, sebelum terjadinya peningkatan jumlah penduduk miskin, dari 17,9 juta balita, setidaknya 1,35 juta anak (7,54%) bergizi buruk, ada 3,07 juta anak (17,15%) bergizi kurang. Sehingga nggak heran jika dari data BPS sedikitnya 51,9% ibu hamil di Indonesia menderita anemia. Di tingkat selanjutnya, yaitu anak-anak sekolah, penderitaannya nggak kalah tragis. Semakin dibelit erat dengan tingginya biaya sekolah yang luar biasa dan kurikulum yang nggak jelas, memaksa mereka untuk lepas dari bangku pendidikan. Bahkan nggak jarang diantaranya menjadi anjal (anak jalanan) dan terjun ke dunia hitam. Tercatat sedikitnya ada 6,6 juta anak tidak bisa sekolah, dan ada sekitar 7,2 juta siswa SD dan SLTP yang terancam putus sekolah. Masih dari BPS, berdasar sensus tahun 2000, dari 26,17 juta anak berusia 0 – 6 tahun, baru sekitar 7,16 juta (27%) yang terlayani pendidikannya dengan baik.

UNICEF, badan PBB yang mengurusi masalah anak-anak menginformasikan, kalo pada tahun 2003 ini jumlah anak-anak di bawah umur yang bekerja (termasuk anjal, pengemis, pengamen dan sebagainya) di Indonesia sekitar 8 juta anak. Hingga tahun 2001 ada sekitar 1,3 juta anjal di Indonesia, dimana sangat rentan terhadap kekerasan fisik dan seksual. Sungguh menyedihkan, pada tahun 1999 saja hasil survey dari Yayasan Setara memperlihatkan bahwa 64,29% anak jalanan perempuan (10 sampai 16 tahun) pernah berhubungan seksual. Bahkan di Semarang, sekitar 46% anak jalanannya dilacurkan alias dijadikan barang komoditi seksual. Sehingga bukan lagi sebuah rahasia bila di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam dengan jumlah terbesar di dunia, sekitar 30% Pekerja Seks Komersial (PSK) yang beroperasi berusia di bawah 18 tahun. Sedikit tambahan, bahwa laporan ILO alias organisasi buruh internasional PBB, mencatat dua tahun terakhir dari tahun 2002 sekitar 1500 anak gadis di daerah Indramayu dikirim ke Jepang sebagai wanita penghibur berkedok misi kebudayaan.

Nggak cukup anak-anak saja, tetapi remaja dan para ABG juga kebagian jatah penderitaan, Country Programme Adviser Joint United Nation Programme on HIV/AIDS, menunjukkan bahwa sekitar 43.000 pengguna narkoba di Indonesia telah terjangkit HIV. Sebagian besar (lebih dari 50%) dari mereka berusia di bawah 25 tahun, dan di Jakarta sendiri pria pengguna narkoba di kota tersebut 53,3% memiliki banyak pasangan seks alias lebih dari 3 orang. Ampun deh.

 

Lupa diri, lupa daratan

Kita semua udah pada ngerti kalo acara tahun baru dan segala macam formalitasnya, hanyalah acara rutin yang nggak punya tujuan. Bukan perintah dari Allah lewat Al Qur’an dan juga bukan ajaran Rasulullah lewat haditsnya. Tapi asal muasalnya nggak ngerti siapa yang memerintahkan. Yang pasti bukan dari golongan umat Islam dan secara benarnya itu bukan acara yang Islami. Tentunya, yang membikin acara nggak karuan tadi adalah orang-orang yang nggak seneng sama Islam dan ummatnya. Nggak suka kalo aturan Islam tegak, dan benci kalo ummat Islam cinta pada Allah dan Rasul-Nya.

Sebenarnya, kalo kita mau jujur, kita udah 100% bosen dengan acara tahun baru yang sama setiap tahunnya. Tapi herannya, para pengikut budaya tahun baru dan perayaannya semakin bertambah dari waktu ke waktu. Padahal nggak jarang diantara mereka yang muslim, ketika ditanya mengenai ibadah sholat, puasa dan sebagainya, mereka pasti udah bilang bosen. Boring ama ceramah-ceramah agama dan suntuk dengan segala tetek bengek ritualitas Islam. Alasannya, ritual Islam bikin jutek dan bete. Menyedihkan. Sedangkan ritual tahun baru dianggap sebagai hal yang bisa bikin diri gembira dan ceria. Kumpul bareng temen, jalan-jalan keliling kota, sejatinya hanyalah sebuah perbuatan kesenangan yang semu.

Nggak ngerti sampe dimana sih kita mampu berpikir jernih. Di sekeliling kita udah jelas fakta-fakta kelam yang akan membuat kita geleng-geleng kepala. Remaja kita nggak punya pegangan hidup, mungkin punyanya cuma pegangan pintu. Tapi aneh bin ajaib, seakan akan dengan perayaan tahun baru itu hatinya jadi tentram, dan semua masalahnya hilang. Habis minum obat tidur atau apa, kita nggak ngerti, yang jelas tantangan yang mereka hadapi serasa lenyap dari pandangan. Walau sebenarnya masalah itu tetap menggunung di depan wajah kita, dan butuh penyelesaian bukannya perayaan tahun baru. Gitu lo Mas…

 

Belajar dan bertindak

Budaya tahun baru udah jadi tradisi bagai nasi tanpa lauk. Hingar-bingar tahun baru bukanlah sebuah ukuran kalo kita udah lepas dari setiap masalah. Tahun baru adalah momen untuk berubah dan memperbaiki diri. Selayaknya kita sebagai muslim memperingatinya dengan mengoreksi alias muhasabah atas segala sesuatu yang kita perbuat tahun lalu. Udah beres atau nggak, udah fix atau tidak. Kalo nggak, saatnya berbenah sebelum semuanya telat. Dan kalo sudah, jangan cepet berbangga karena mempertahankan lebih susah daripada memperbaiki. Gimana caranya? Kita punya sedikit masukan, mungkin singkat tapi berharga:

1. Nggak akan melakukan kesalahan yang sama

Orang yang pintar nggak akan terjerumus ke lubang yang sama dua kali. Nggak tahu kalo 6 kali…ups nggak kok. Artinya selama kita punya akal dan mampu berpikir, kita kudu mikir dikitlah sebelum berbuat. Contohnya kita ikut terus-terusan acara tahun baruan, padahal di sisi-sisinya nampak jelas kemaksiatan. Jangan sampai kesalahan yang udah pernah kita lakukan, kita lakukan lagi untuk kedua kalinya, di tempat yang sama pula. Ingat lho semua perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan. “Siapa saja yang berbuat kejahatan sekalipun sebesar zarrah (biji sawi), dia akan dimintai pertanggungjawaban.” (TQS. Al Zalzalah 7-8).

2. Kembali kepada Islam dan aturannya

“Sesungguhnya tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (TQS. Adz Dzariyat: 56). Kalo kita udah ngerti ayat tadi, kita kudu merubah pandangan kita selama ini tentang Islam. Rubah semua yang juteg-juteg itu menjadi menyenangkan. Kalo kita selama ini memahami Islam hanya sebatas ibadah ritual, itu kudu dibuang jauh-jauh melewati angkasa. Islam mampu ngatasi masalah seperti yang muncul dan diungkapkan tadi di atas. Kongkrit, nggak nambah dan nggak kurang. Why? Karena Islam adalah aturan yang diberikan Allah, yang menciptakan kita, dan Allah ngerti apa yang terbaik buat kita. So…go on.

 

3. Berusaha memperbaiki keadaan yang ada

Bukan lagi waktunya bagi kita untuk bertopang dagu. Malas bergerak. Tidur terkulai. Lemah gemuali dan semacamnya. Generasi muda identik dengan semangat. Kalo nggak semangat bukan generasi muda. Tentunya Islamuda juga semangat pol…ciee. Bila kita udah mampu memahami Islam dengan mengkajinya secara benar, maka harus kita dakwahkan dan sampaikan. Jadikan itu aktivitas yang mulia, nggak usah ragu pasti Allah membalasnya dengan sebaik-baiknya (dony

Wallahu ‘alam