Oleh: Majdi As-Sayid Ibrahim
“Dari Ibnu Abbas bahwa Juwairiyah, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam keluar dari tempatnya pada waktu pagi dini hari tatkala hendak shalat
shubuh sedangkan Juwairiyah berada di tempat shalatnya. Kemudian setelah
waktu dhuha beliau pulang dan ternyata Juwairiyah masih tetap duduk. Lalu
beliau bertanya, “Jadi engkau masih seperti keadaan tatkala aku
meninggalkanmu?” Dia menjawab, “Benar.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
berkata, “Telah kukatakan sesudahmu empat ucapan sebanyak tiga kali, jika ia
ditimbang dengan apa yang engkau katakan sesudah hal ini, tentu ia akan
memberatkan timbangannya, yaitu ‘Subhanallah, wabihamdihi ‘adada
khalqihi, waridha nafsihi, wazinata ‘arsyihi, wa midada kalimatihi (Maha suci
Allah, dengan puji-Nya sebanyak makhluk-Nya dan seberat ‘Arsy-Nya dan seluas
kalimat-kalimat-Nya)’”1
Berlomba-lomba dalam kebaikan merupakan hal yang amat menyenangkan. Al-
Qur’an telah memberitahukan kepada kita tentang hal ini serta menyeru agar
melaksanakannya dengan segenap kemampuan. Firman Allah:
“Dan, bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya,
maka berlomba-lombalah kamu berbuat kebaikan.” (Al-Baqarah:148)
Hal ini harus dilakukan karena kehidupan tidak selamanya dalam keadaan aman,
sedangkan ajal tidak diketahui dan bagaimana kesudahannya juga masih samar.
Apa yang mungkin pada hari ini, boleh jadi tidak mungkin besoknya. Pada hari
ini ada amal dan tidak ada hisab, namun besoknya ada hisab dan tidak ada amal.
Berangkat dari sini para wanita Muslimah harus menyelaraskan amal-amalnya,
meneliti hal-hal yang bisa membangkitkan ketaatan dan menyempurnakan
ibadah, lalu dia berusaha menyempurnakan amal ibadahnya.
Dalam wasiat ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan
beberapa ucapan, andaikata diucapankan wanita Muslimah maka dia akan
memperoleh pahala yang melimpah. Marilah kita amati wasiat Nabawy ini dan
kita pelajari bersama.
Perkataan Ibnu Abbas: “Wahiya Fi masjidiha,” yaitu tempat shalat Juwairiyah
yang ada di rumahnya. Juwairiyah adalah putri Al-Harits Al-Khuza’iyah dari bani
Al-Musththaliq.
1 Hadits Shahih ditakhrij Muslim, 17/44, Abu Daud, hadits nomor 1503, At-Tirmidzy, hadits nomor 3626, An-
Nasa’y, 3/77, Ahmad, 1/258
http://www.ummusalma.wordpress.com
Maktabah Ummu Salma al-Atsariyah
Ummu Salma 2 dari 2 23/03/2007
Dia adalah ummul mukmin. Dulu namanya Barrah, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam merubahnya kemudian menikahinya. Dia meninggal dunia pada
tahun ke-50 sesudah hijrah menurut riwayat yang shahih.
Perkataan beliau: “Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi”, artinya
sebanyak masing-masing dari makhluk-Nya. Menurut Imam Asy-Syuyuthy,
artinya sebanyak semua makhluk-Nya. Perkataan beliau: “Waridha nafsihi” ,
yakni aku bertasbih seperti yang diridhai-Nya. Menurut Imam Asy-Syuyuthy,
artinya seperti ridha dzat-Nya yang mulia, atau dengan sebab yang menjadi
perubahannya atau dengan ukuran yang diridhai dzat-Nya serta yang dipilihnya.
Perkataan beliau: “Wazinata ‘arsyhihi”, maksudnya aku bertasbih laksana
seberat ‘arsynya. Padahal tidak ada yang mengetahui beratnya kecuali Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Perkataan beliau: “Midada kalimatihi”, maknanya
seperti itulah dalam hal bilangannya. Adapula yang berpendapat dalam hal
pahala. Al-Mida, di sini merupakan mashdar dengan pengertian al-madadu,
yang berarti sesuatu yang banyak. Menurut para ulama, penggunaannya di sini
sebagai kiasan, sebab kalimat-kalimat Allah tidak bisa dibatasi dengan suatu
bilangan atau pun yang lainnya. Jadi yang dimaksudkan adalah penyangatan
dalam jumlah yang banyak. Sebab pada awal mula disebutkan dengan
pembatasan bilangan yang banyak, yaitu bilangan-bilangan makhluk-Nya,
kemudian ‘Arsy-Nya, kemudian dengan lebih sehinga tidak bisa dibatasi dengan
suatu bilangan, sebagai yang terjadi pada kalimat-kalimat Allah.
Hadits ini merupakan dalil keutamaan kalimat-kalimat tersebut. Orang yang
mengucapkannya tentu akan mengetahui fadhilah pengulangan sebagaimana
yang disebutkan dalam riwayat At-Tirnidzi dan An-Nasa’y.
Hal ini tidak dimaksudkan agar dikatakan bahwa keberatan orang yang
mengucapkan kalimat-kalimat itu lebih ringan daripada orang yang mengulangi
lafazh dzikir sehingga sampai pada bilangan-bilangan tersebut. Ini merupakan
masalah yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada hambahamba
Allah sebagai perantara bagi mereka dan untuk memperbanyak pahala
tanpa harus berbuat yang meletihkan.
Menurut Izzudin bin Abdus-Salam Rahimahullah di dalam Al-Fatawa, boleh jadi
sebagian dzikir lebih utama dari sebagian yang lain karena keumumannya dan
pencakupannya terhadap semua sifat-sifat dzatiyah dan Fi’liyah. Sehingga yang
sedikit seperti kalimat-kalimat ini justeru lebih utama daripada yang lain yang
banyak.
Wahai Ukhti Muslimah! Jika engkau menghendaki pahala yang melimpah dan
ganjaran yang agung, maka engkau harus melakukan dzikir secara terusmenerus
dan bergaul dengan orang-orang yang baik. Kesudahannya, tentu
engkau akan masuk surga dengan selamat.
Di ketik ulang dari: 50 Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi Wanita, Majdi As-
Sayyid Ibrahim. Penerjemah: Kathur Suhardi. Pustaka Al-Kautsar, cet. keempat, Pebruari
1999, hal.230-234