Sejak dari kecil kita sering kali dijejali berbagai keutamaan bulan Ramadhan (baik melalui nasehat orang tua, guru, ustadz/ustadzah saat ceramah dsb). Tapi ya namanya anak kecil yang masih lugu, polos, lucu; dari berbagai inputan informasi tersebut, justru “keutamaan lainlah” yang justru dinanti-nantikan. Saya contohnya, di masa kecil Ramadhan saat yang ditunggu karena bisa bermain bersama teman-teman di malam hari dan setelah sahur. Umpet-umpetan, perang-perangan, ninja-ninja-an (pakai sarung sebagai kostum ninja), main meriam bambu, adalah beberapa diantara nostalgia di bulan Ramadhan yang jarang dilewatkan. Selain itu, ada juga keliling untuk mencari “pabukoan” (makanan kecil untuk berbuka) ke pasar-pasar tradisional yang sudah mulai beroperasi sekitar 2-3 jam sebelum berbuka. Sensasi akan memiliki baju baru dan menyambut Idhul Fitri karena akan mendapat THR dari sanak saudara, dan lain sebagainya.
Waktu berlalu, umur bertambah, kesadaran akan keistimewaan Ramadhan mulai sedikit demi sedikit tumbuh, sampai akhirnya tahun lalu saya memilih momen Ramadhan sebagai titik untuk be-resolusi. Setidaknya ada tiga alasan terkait pertanyaan kenapa: pertama, karena Ramadhan adalah bulan peneguhan visi, kedua Ramadhan adalah puncak proyek akselerasi dan ketiga Ramadhan melatih ketahanan fisik dan mental. (Note: ini semua kesimpulan pribadi saya)
Bulan peneguhan visi
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS 2:183)
Menjadi orang bertakwa dan ujungnya berharap masuk surga adalah tujuan hidup, visi bagi setiap muslim! Apalagi yang lebih tinggi dan lebih istimewa dari itu untuk dijadikan visi? Tidak ada! Dan puasa seperti diterangkan ayat di atas merupakan salah satu jalan yang akan membawa kita menuju taqwa dan semoga pada akhirnya beroleh surga.
Ramadhan sebagai puncak proyek akselerasi
Umat dengan rata-rata masa hidup tersingkat adalah umat Nabi Muhammad SAW. Lalu lantas kenapa? Ya gak kenapa-napa juga sih, memang segitu takdirnya, hehe becanda…🙂 Ada pertanyaan semestinya?! Kalau dilihat dari sisi peluang jumlahnya amal yang dapat dilakukan, kita umat Nabi Muhammad bisa “kalah” duluan dengan umat-umat sebelumnya, wong umurnya singkat? Ternyata Allah yang Maha Teliti sudah mengantisipasi itu semua, dengan ke-Maha Penyayangan-Nya, kita umat Nabi Muhammad diberi peluang beramal dengan imbalan pahala yang berlipat ganda jika dibandingkan dengan beramal pada hari-hari diluar Ramadhan. Plus satu momen yang paling spesial, apalagi kalau bukan malam Lailatul Qadr, malam dimana apa pun amal kebajikan yang kita lakukan bernilai sama dengan amal kebajikan yang dilakukan dalam 1000 bulan. Wow, akselerasi amal yang luar biasa!
Ramadhan melatih ketahanan fisik dan mental
Jika hanya tidak makan dan minum serta tidak berhubungan badan suami dan istri –bagi yang sudah menikah– mulai dari waktu terbit fajar sampai terbenam matahari, mungkin kewajiban berpuasa kita terbayar. Lantas, apakah cukup demikian saja? Tidak, tidak sama sekali. Bisa jadi kita tidak mendapatkan imbalan pahala apa-apa dari Allah SWT atau bahkan justru mendapat dosa, karena saat berpuasa, kita masih saja melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat mengurangi nilai dari puasa itu sendiri. Jadi disini kita tidak hanya menahan lapar, haus, nafsu birahi, tapi hampir semua aspek, misalkan menguasai emosi, manahan prasangka buruk atau membicarakan keburukan orang lain, menjaga pandangan, pendengaran dari hal-hal yang tak bermanfaat lagi buruk, serta banyak hal lain lagi. Di Ramadhan kita juga secara sadar dilatih untuk ber-empati, bagi sebagian kita yang beruntung dalam kondisi ekonomi harus merasakan pula suasana lapar atau haus seperti yang dirasakan oleh orang-orang yang kurang mampu. Selain itu, kita sangat dianjurkan untuk melakukan berbagai amalan lain setiap hari, misalkan sholat tarawih, witir. Dan pastinya, ini bukan latihan satu hari dua hari, tapi satu bulan penuh!
***
Dengan peran yang bermacam-macam kita miliki dalam hidup di dunia apakah itu sebagai anak, orang tua, pemimpin, bawahan, murid, guru, pengusaha, pegawai dan lain sebagainya, tapi insyaAllah cita-cita kita tetap satu, masuk surga! Dalam mencapai visi besar tersebut ada banyak hal yang mesti dilakukan. Dan untuk menjaga agar kita bisa selalu tetap pada track yang benar, butuh evaluasi-evaluasi, perumusan kembali hal-hal yang mungkin harus dilakukan atau ditinggalkan. Butuh akselerasi kualitas dan kuantitas dalam beramal dan meninggalkan keburukan. Dan tentunya dibutuhkan ketahanan yang luar biasa dalam menjalani semua hal tersebut agar tidak “terkapar” di tengah perjalanan mencapai tujuan utama. Apakah kita masih di track yang benar? Sudah sejauh mana berusaha? Seberapa kuatkah kita dalam melalui perjalanan yang tidak diketahui kapan berakhirnya? InsyaAllah, Ramadhan adalah momen yang tepat untuk kembali me-refresh semuanya.
Pada akhirnya dengan resolusi yang bukan hanya kita tetapkan tapi juga berusaha untuk diaplikasikan, semoga lahir banyak amalan kebajikan yang dengannya Allah ridha terhadap diri kita. Aamiin.
***
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1432 H, sukses!
sumber: ildenabineri.blogspot.com (dengan beberapa perubahan)