Oleh: Saryanto, Amd

Setelah bergulirnya musibah tsunami pada desember 2004 silam, Indonesia negeri kita tercinta ini kebanjiran bencana yang tiada terputus. Mulai dari gempa bumi, tanah longsor, angin topan, wereng yang menyerang lahan pertanian dan gunung meletus yang pada akhirnya juga mendatangkan banjir lahar dingin. Musibah ini merusak infrasutruktur baik milik umum  maupun pribadi. Mungkin jika ada pertanyaan bencana apa yang belum menimpa negeri ini kita akan bingung kira-kira apa?

Dimata manusia yang selalu mengandalkan rasional saja hal ini hanya dianggap sebagai bencana alam yang terjadi secara natural/alamiah dan faktor alam semata. Pandangan semacam ini hanyalah pandangan yang pendek dan sebelah mata saja. Tidak terbetik dalam pikiran mereka kenapa terjadi demikian? Apa sebabnya? Bagaimana solusinya?

Lain halnya dengan orang muslim dan mukmin yang pandangannya jauh kedepan. Pandangasn yang mengarah kepada mengapa negeri kita ini tertimpa bencana yang tiada kunjung habisnya? Apa dosa yang telah kita perbuat? Apakah ini azab atau teguran untuk menghapus dosa?

Penulis meminjam syair lagu Ebit Gad yang biasanya tenar ketika ada bencana, kurang lebih begini bunyi syairnya:

mungkin tuhan mulai bosan

melihat tingkah kita

yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

atau alam mulai enggan

 bersahabat dengan kita”.

Sekarang coba kita lihat bagaiaman Allah mengingatkan kita dan memperingatkan kita jauh beberpa abad yang lalu. Cobalah kita renungkan firman Allah:

!#ŒÎ)ur !$tR÷Šu‘r& br& y7Î=ök–X ºptƒös% $tRötBr& $pkŽÏùuŽøIãB (#qà)|¡xÿsù $pkŽÏù ¨,yÛsù $pköŽn=tæ ãAöqs)ø9$# $yg»tRö¨By‰sù #ZŽÏBô‰s? ÇÊÏÈ

Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. Al-Isra’:16)

Untuk mengetahui makna ayat ini, mari kita lihat dalam salah satu kitab tafsir. Dalam tafsir karimurahman karangan Abdurrahman Bin Nasyir As-Sa’di, beliau menulis:

”Allah mengabarkan bahwa apabila Dia hendak membinasakan negeri dari negeri-negeri yang zhalim dan memberikan azab bagi mereka, maka Allah perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya mentaati Allah tetapi mereka justru berbuat durhaka, maka pastilah azab itu berlaku bagi mereka. Sebagaimana yang terjadi pada kaum nabi nuh, kaum ’ad, tsamud, kaum nabi luth dan selainnya yang Allah timpakan kepada mereka azab karena keingkaran (kekufuran) mereka.[1]

Lalu kenapa bumi yang indah ini rusak? siapakah pelaku kerusakannya?

ظهر الفساد فى البرّ والبحر بما كسبت ايد الناس ليذيقهم بعض الذي عملوالعلهم يرجععون

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”. (Ar-Ruum: 41)

Lalu bagaiamana solusinya?

”Dan sekiranya penduduk negeri bariman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi……….” (al-a’raf: 96)

Dari ayat-ayat Allah diatas maka dapat kita ambil pelajaran bahwa sesungguhnya kerusakan yang ada dibumi ini adalah akibat ulah manusia sendiri dan tentunya solusinya adalah manusia itu juga sendiri. Semoga Allah menjadikan musibah-musibah tersebut sebagai panghapus dari dosa-dosa kita dan bukan laknat-Nya. Mari tingkatkan ketaqwaan dan keimanan kita sehingga Allah menjadikan negeri ini baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur. Aammiiin


[1] Abdurrahman Bin Nasyir As-Sa’di, Tafsir Karimurrahman Fi Tafsiri Kalamil Manan, darul ibnu hazm-beirut. Cet I 2003