Bagaimana kita menanamkan pendidikan sebagai fondasi untuk mewujudkan masyarakat yang berperadaban?

Pertama dan yang utama adalah usaha tak kenal lelah untuk menanamkan pentingnya “nilai” ilmu pengetahuan dan bahayanya kebodohan. Ada sebuah syair Arab sering disenandungkan:

Dalam kebodohan, adalah mati sebelum mati.
Jasad mereka menjadi kubur sebelum dikubur

Kedua, mendorong terciptanya cinta ilmu, gairah belajar, dan sungguh-sungguh. Termasuk di antaranya memotivasi masyarakat agar cinta prestasi, lulus dan sukses. Seperti para sahabat Nabi berjalan siang-malam selama berbulan-bulan hanya untuk mempelajari satu hadis saja. Bahkan Ibnu Abdil Barr menyebutkan, di antara para sahabat nabi ada yang rela bepergian ke luar negeri hanya untuk mengetahui satu huruf saja. Sekarang situasinya jauh berbeda, institusi pendidikan menjamur dan majelis taklim ada di mana-mana. Rasulullah saw pernah menyuruh Zaid bin Tsabit agar belajar bahasa Suryaniah dan bahasa Ibrani. Zaid langsung mempelajari dua bahasa tersebut hanya dengan rentang waktu 17 hari.

Ketiga, mengefektifkan kembali peran kaum terpelajar untuk mengisi pembelajaran masyarakat. Ini penting untuk mensinergikan antara pendidik dan “pembudayaan” pendidikan di masyarakat.

Keempat, merehabilitasi pemahaman yang keliru tentang pendidikan kaum wanita. Sebagian masyarakat cenderung beranggapan bahwa wanita tak perlu sekolah tinggi-tinggi karena toh pada akhirnya suamilah yang yang akan menentukan masa depannya kelak. Sehingga berkembang stigma negatif bahwa wanita cukup berada di kasur, sumur dan dapur. Ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Islam yang menegaskan bahwa setiap manusia berkewajiban memenuhi kebutuhan nalarnya dengan cara menuntut ilmu. Islam yang menjunjung tinggi keseimbangan logika, fitrah, hati secara khusus dan humanisme secara umum menetapkan wanita sebagai tiang negara. Sehingga mereka sangat dimuliakan dengan menempatkan wanita (an-nisaa’) sebagai nama surat dalam Al-Qur’an.

Rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi Muslim laki-laki dan Muslim perempuan.” Diriwayatkan oleh Bukhari, bahwa pada zaman Nabi kaum wanita meminta waktu khusus kepada Nabi untuk belajar. Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha (isteri baginda Nabi) sangat rajin membaca, menulis dan bahkan mengajari kaum wanita. Sampai-sampai Urwah bin Zubair, keponakan Aisyah ra, berkata, “Tidak ada yang lebih ahli di bidang fiqh, syair dan kedokteran daripada Aisyah.”

Sayyidah Nafisah adalah contoh lain. Saking tekun dan cerdasnya, beliau dinamakan “Nafisah al-Ilmi” (permata ilmu). Kendati demikian ia tidak pernah menganggap remeh peran pendidikan bagi wanita, dan itu dibuktikannya dengan mendidik mereka dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Sayyidah Nafisah sadar bahwa wanita tidak akan pernah tahu aktifitas perannya terhadap anak, keluarga dan masyarakat apabila sang ibu buta huruf. Karena itu mereka wajib menuntut ilmu sebagaimana halnya laki-laki.

Kelima, penyadaran penuh terhadap urgensi pendidikan melalui media massa sehingga mendorong masyarakat “sadar baca” dan memotivasi para terpelajar untuk menciptakan gerakan pendidikan bagi mereka yang kurang mampu.

Dan yang terakhir, tentu saja peran serta pemerintah untuk mendukung dan memberikan subsidi pendidikan yang “manusiawi.”

bunga rampai