Genap sudah satu dasa warsa aku meninggalkan kampungku tercinta (merantau) demi menuntut ilmu di kota. Kampungku nun jauh disana di kaki gunung merbabu dan merapi, tepatnya di sebuah desa yang kata kepala sekolahku dulu IDT alias impres desa tertinggal. Yah barangkali karena terlalu ndeso dan pelosok.

Aku sebagai putra desa pun termasuk orang yang culun ketika itu. Maklumlah aku tak pernah mengenyam teknologi modern. Peganganku bukan buku, komputer atau laptop melainkan sabit, cangkul dan bendo. Wah mau perang ya??? Kayaknya serem banget tu?? Hehehe…. Bukan begitu kawan tapi mainanku adalah sabit yang dengannya aku mencari rumput, cangkul untuk merekahkan bumi, dan bendo untuk memenggal kayu. Yah walau begitu semua menyimpan kenangan indah yang tak pernah bisa ku lupakan dalam hidupku. Its great story in my live.

Mau cerita darimana nih jadi bingung, sudahlah yang penting aku nulis seingatku saja ya. Meski cerita hidupku pernah ku muat adalam majalah tapi nggak apa-apa lah ini cerita yang agak berbeda. Baiklah langsung aja dech nggak pakai lama.

Aku dibesarkan orangtuaku dengan didikan yang keras tapi tidak melalui fisik lho. Orang tuaku mendidikku agar punya semangat kerja keras, bisa mandiri dan tak mudah menyerah. Aku masih ingat saat itu sarapanku adalah nasi jagung, katanya makanan khas orang gunung. Yah itu semua setelah irigasi jebol jadi nggak bisa nyawah lagi. Akhirnya semua penduduk desa menjadikan lahan sawah di gunung menjadi ladang pertanian sayuran. Jagung adalah tanaman yang nantinya dijadikan simpanan untuk kebutuhan sehari-hari. Tak ada beras jagung pun jadi.

Ibuku setiap tiga hari sekalai mengayunkan alu dan menghujamkannya dilubang lumpang, sebuah batu besar yang dilubangi untuk menumbuk jagung maupun padi. Aku pun menghampiri ibuku, meski ini kebanakan adalah pekerjaan anak putri dan ibu-ibu tapi aku tak pernah malu untuk membantu ibuku menumbuk jagung. Suara musik yang khas keluatr adari lubang batu itu. Barangkali orang sekampung bisa mendengarkan alunan indah dari lumpang. Walaupun akhirnya tanganku jadi lecet atau minimal berair trus jadi kapalen karenanya.

Sambil menayunkan alu sering sekali aku bercerita sama ibu tentang prestasi di sekolah. Ibuku pun bangga karena anaknya selalu dapat rangking satu. Tapi ketika berbicara aku mulai bertanya tentang kelanjutan sekolahku, ibuku tersenyum dengan raut sedih. Aku bilang bu kelak aku ingin jadi mahasiswa, sekarang kan dapet beasiswa pasti besok kel;ak aku akan jadi mahasiswa ya bu? Kuliah itu bayarnya mahal le, jadi jangan terlalu mengangan-angan.

Yups tapi tak kusangka hari ini aku telah menjadi mahasiswa dan sebentar lagi diwisuda jadi sarjana. Aku ingin sekali pulang membangun desa bersama adikku yang kini juga sedang kuliah di Magelang sana. Yah setelah perjuangan kami sekolah dengan modal beasiswa dan memeras keringat siang dan malam tentu ingin sekali aku bisa mewujudkan impianku menjadikan desaku tercinta menjadi desa yang maju meski berada di pelosok negeri. Aku dan adikku kini telah menyusun proposal meski itu harusnya tuga kepala desa alias lurah namun kayaknya nggak mungkin kalau lurahnya mikir sampai kesana. Maklum orang sedaku bilang lurah kenthir alias gila. Paling kalau ada proyek yah tak ubahnya seperti pejabat di pemerintah yang suka korupsi. Hehehe….barangkali ide bagus aku nyalon jadi lurah, tapi aku tak mau jadi lurah karena ingin memiliki jabatan semata. Aku Cuma ingin memajukan desa, itupun kalau nggak pakai uang. Aku malas berhubungan and mendapatkan jabatan dengan uang. Maklum aku anak petani yang notabenenya ekonomi kelas bawah hanya saja kami punya harga diri. Kami benci koruptor dan korupsi. Kalau awal sudah pakai uang pasti kelak ketika menjabat akan mengejar uang, nah itulah jeleknya sistem di indonesia.

Yups kembali aku jadi sarjana. Aku tertarik dengan iklan kementerian pertanian yang mengajak mahasiswa menjadi penggerak desa. Yuk balek ndeso mbangun deso………(to be continued)