nikah ayonikah, nikah yuk, nikah siapa takut, sudah siap nikah?

Pagi itu aku dikejutkan oleh pertanyaan salah satu sobatku, “sudah pengen nikah belum mas? Ada akhwat yang sudah siap nikah, kalau mau saya bilangin dech.” Kurang lebih begitu ucap temanku ketika kami mulai beraktivitas seperti biasa, menulis, yah itu karena memang kami adalah jurnalis.
Mendengar pertanyaan semacam ini sebenarnya sich sudah sering banget, temen-temen seangkatanku dulu ketika SMK maupun di pesantren juga tak luput menanyakan hal yang sama ketika ngobrol via telfon. Tapi entah kenapa perasaanku kali ini beda dengan sebelumnya. Serasa dislamber gledek dan jatuh dalam keheningan. Tapi aku tak mau kelihatan canggung, dengan pede aku jawab aja, “wah saya yang belum siap mas hehehehe…..” itulah jawaban yang juga sering aku katakan sama temen-temen yang sudah nikah maupun belum.
Menikah tentu merupakan impian kita-kita yang masih bujang, apalagi kita yang lagi nginjak usia 20-an keatas. Memang sering terbetik dalam hatiku, gimana yah kalau aku nikah di usia muda. Sempat terbayang dalam benakku, istriku berjilbab besar seperti akhwat-akwat lain yang menjaga kesuciannya dan ia seorang dokter. Ah pikiran ini kenapa musti menghampiriku. Bukannya aku punya tekad untuk mengejar mimpiku melanjutkan studi S2 dulu and punya usaha sendiri baru nikah? Aduh jangan-jangan aku mulai kenai virus cinta nih….. what???
nikah yuk“Ya allah, izinkan aku menaruh cinta hanya kepada yang khalal kelak. Kini nggak tahu siapa jodohku kelak, karuniakan kepadaku istri yang shalihah yang menyejukkan hati dan menundukkan pandanganku kecuali hanya kepadanya.”
Kenapa aku mesti takut menikah hanya karena membayangkan begitu beratnya tanggung jawab yang harus ku pikul nanti. Kenapa musti takut miskin? Bukannya menikah bikin kaya? Belum yakin nih sama janji sang pencipta:
“dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.”
Astagfirullah, ya allah perteballah imanku untuk selalu yakin dengan janji-Mu. Engkaulah yang memberiku rizki, kenapa aku musti takut, bukankah Engkau telah berjanji demikian?
Izinkan Aku Berpacaran….
Hampir setiap minggu aku pulang balik dari solo ke Magelang buat pulang kampung dan bantu kedua orangtuaku. Kalau sobat pengen tahu nih, aku menempuh perjalanan selama hampir dua jam mendaki gunung merapi dan merbabu dengan sepeda tuaku, Honda grand 96. dialah yang setia menemani selama setahun ini.
Dalam perjalanan di tepi jalan SSB banyak banget muda-mudi yang berpasang-pasangan, bergandengan tangan eh ada juga yang berpelukan. Aku sempat ngelus dada, bukan karena iri lho! Tapi aku sedih sekali, kenapa sih remaja zaman ini mesti pamer maksiat, bukannya mereka nggak ada ikatan sah yang syar’i? klo ikatan pacar itu kan haram, nggak ada dalam kamus islam yang namanya pacaran.
Seketika itu juga terbayang dalam fikiranku, ya allah alangkah indahnya jika telah menikah, aku bisa pacaran sama istriku, so izinkan aku berpacaran setelah menikah. Mesra banget dech kalau dah punya pendamping hidup, bisa jalan berdua, trus ketika ada masalah ada yang setia menjadi tempat curhat and mendukung kita. Ih kenapa ingat nikah lagi….???!!
nikah kapanSemoga calon bidadari yang entah di bumi mana dia sekarang membaca curhatku ini, yang merindukan dia setelah kami khalal. Semoga allah mengirimkan akhwat dokter, kalaupun tidak dokter yang penting ia adalah wanita shalihah karena dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah…….
Salam rindu buat pujaan hatiku dimanapun ia berada………
Solo, 7 maret 2013
Written by: ryan