butacerita penuh hikmah, cerpen, cerita sarat makna, kisah tauladan, kisah nyata.
Usai shalat isya’ akau berniat untuk membeli gula pasir di warung. Yah hari ini giliran kami untuk membuatkan seceret teh untuk bapak-bapak yang akan ronda malam itu. Ku pancal sepeda tuaku yang tengah berusia 18 tahun lebih menelusuri jalanan perumahan yang mewah karena memang mepet sawah. suara jangkrik dan belalang tak mau kalah dengan suara sepedaku, sambil menikmati sejuknya udara malam menuju jalanan yang mulai ramai.
Sesampai di warung yang berada tepat di pinggiran jalan yang kian ramai lalu lalang kendaraan para buruh pabrik yang lalu lalang, aku mengantri menunggu giliran si ibu penjual sembako melayaniku. Tak butuh waktu lama, “gula pasir 1 kg bu,” pintaku. “apalagi ya dik” tanyanya. “sudah bu, berapa ya?.” “gula 1 kg Rp 9.500 dik.” Segera ku sodorkan uang Rp 20.000, lalu si ibu pun memberikan kembaliannya padaku.
Ketika aku membalikkan badan dan menuju sepedaku dimana aku memarkirkannya. Belum sampai aku tempat itu, aku sempat keheranan, kaget, tapi juga kagum. Ada sosok seorang ibu yang tengah menggedong anaknya yang masih kecil. Tangan kanannya memegang tongkat dan tangan kirinya menjinjing sebuah kresek berisi belanjaan. Di samping kanannya, suami tercintanya juga tengah menggendong seorang anak yang berusia sekitar 3 tahun. Sambil kedua berjalan, sang suami menjadi penunjuk jalan baginyanya.
Aku sempat memandang mereka yang kini makin menjauh. Aku melihat betapa setianya seorang suami kepada istri tercintanya. Meski hidup sederhana terlihat dari penampilan mereka, namun seolah itu tak menjadikan mereka berdua untuk tetap romantis. Dalam hati aku pun tergagum kepada mereka, “ya Allah sungguh pelajaran luar biasa enkau berikan pelajaran kepadaku hari ini. Semoga kelak aku mendapatkan jodoh yang shalihah dan setia dalam suka maupun duka seperti merka.,” dalam benak batinku.
Segera aku tersadar dari lamunan, ku nyalakan sepedaku dan tancap gas untuk kembali ke kantor. Di tengah perjalanan aku sempat mengelus dada dan serasa malu kepada sang pencipta. “Ya Allah betapa banyak kenikmatan yang Engkau berikan kepadaku, termasuk kenikmatan bisa memandang indahnya dunia dengan mata yang sehat yang Kau karuniakan ini. Tapi betapa banyak dosa yang ku lakukan dengan penglihatan ini. Mata ini yang sulit untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang mungkin merupakan kemaksiatan, mata yang sulit menangis di depanmu, mata yang kering lantaran terlalu banyak dosa hambaMU ini.Ya Allah, ampuni dosaku dan jadikan penglihatanku untuk cenderung kepada kebaikan, mata yang menangis ketika bersimpuh di depanmu dan menangisi dosa-dosa yang telah ku lakukan.”
Seketika itu pula aku teringat dengan sindiran allah yang berulang kali diulang-ulang dalam Surat Ar-Rahman, “Fabiayyi Aalaaa irobbikumaa Tukadzdzibaan.” “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”