refleksi_akhir_tahunkey: muhasabah tahun baru, refleksi akhir tahun, tahun baru 2015, bencana

Akhir tahun 2014 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Genap satu dasawarsa tsunami Aceh mengingatkan kita pada bencana yang maha dahsyat, bahkan bisa dibilang bencana terbesar yang melanda negeri ini setelah kemerdekaannya. Namun ada noktah bencana baru, tanah longsor di Banjarnegara dan hilangnya pesawat air asia QZ8501 menjadi pewarna duka di penghujung tahun 2014.
Tiada hujan yang tak berarti. Setiap peristiwa pasti ada hikmah yang harus kita petik. Hanya saja sedikit sekali manusia yang mau mengambil pelajaran dari rentetan bencana yang melanda. Semua berbondong-bondong mengadakan acara peringatan sepuluh tahun peristiwa tsunami namun sedikit yang mengambil pelajaran darinya.
Sepuluh tahun lalu ketika tsunami menerpa serambi mekah, hanya satu bangunan yang kokoh tegak berdiri yaitu masjid Banda Aceh. Di penghujung tahun 2014, ketika tanah longsor meluluh lantakkan desa Jemblung di Banjarnegara, hanya satu rumah milik guru ngaji yang masih utuh. Tentu hal-hal ganjil seperti ini seharusnya bisa menjadi peringatan bagi mereka yang mau merenung, berpikir menggunakan mata hatinya.
Seharusnya dari rentetan peristiwa ini, kita bisa mengambil pelajaran. Betapa kuasanya Allah ketika ia hendak menguji hambanya melalui hambanya. Mereka yang mengalami bencana ini tak sedikit yang telah terengut nyawanya, hanya segelintir saja yang masih selamat. Maka tugas kita yang masih hidup inilah yang memetik hikmahnya.
Betapa banyak ayat dalam qur’an yang telah memperingatkan manusia dengan peristiwa-peristiwa yang menimpa menimpa kaum-kaum terdahulu. Mulai dari umat nabi nuh, kaum ad, kaum tsamud, dan kaum lainnya. Allah pun menyindir manusia dibanyak penghujung ayat-ayatnya, “tidakkah kalian berpikir?”, “sedikit sekali diatara kalian yang mau mengambil pelajaran.”
Oleh karenanya jadikan akhir tahun ini sebagai sebuah refleksi diri untuk berkaca, sudah baikkah kita msapai detik ini? Berapa dosa yang telah kita koleksi? Dan berapa bekal yang telah kita siapkan untuk kematian yang bisa datang tiba-tiba?
Ini bukan berarti penulis adalah orang yang alim dan bebas dari dosa, boroknya penulis mungkin lebih banyak dari para pembaca. Maka mari kita sama-sama mengakhiri tahun ini sekaligus menutup celah-celah kemasiatan yang telah kita lakukan, bukan justru hura-hura merayakan tahun baru dengan kemaksiatan baru. Buka lembaran baru di tahun baru.
Bagi engkau muslimah yang belum berpakaian syar’i, masih enggan memakai jilbab, masih suka berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram maka hapus semua kebiasaan itu. Mulailah lembaran baru dengan penampilan syar’i, berjilbab lebar yang benar-benar menutup auratmu secara sempurna, putuslah hubungan dengan lawan jenis yang bukan mahram, jika engkau telah siap menikah maka menikahlah segera itu lebih menyelamatkanmu dari fitnah. Siapkan dirimu sejak dini untuk menjadi ibu bagi anak-anakmu kelak, pendidik mereka, dan suri tauladan mereka.
Bagi kita kaum adam, marilah kita perbaiki akhlak kita, siapkan diri kita untuk menjadi pemimpin masa depan, pemimpin bagi keluarga, pendidik bagi anak-anak kita kelak, dan menjadi contoh bagi mereka. Mari tundukkan pandangan meski memang sulit di negeri yang kemaksiatan selalu ada meski baru membuka pintu rumah saja.
Tidaklah aku menginginkan kecuali untuk memperbaiki diriku dan saudara-saudariku sesama muslim. Hidayah sepenuhnya di tangan Allah. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang istiqamah dalam kebaikan mulai detik ini hingga tahun depan dan seterusnya hingga ajal tiba._Akhukum Fillah Saryanto