trafficAda pemandangan yang berbeda tadi pagi di lampu merah kota boyolali. Ibu tua itu……
Seperti biasa, aku mudik bolak-balik solo Magelang menyusuri jalan SSB yang diwarnai dengan pemandangan yang begitu menyejukkan mata. Jalan ini mungkin juga tak asing buat kamu yang hobi naik gunung merapi atau merbabi via selo.
Aku melaju dengan sepeda tuaku yang tengah berumur hampir 20 tahun.  Meski begitu sepeda buntutku ini masih bisa melaju 120 km/jam. Entahlah aku suka banget  ngebut pake motor, kata peneliti mesin otak dengan finger aku masuk golongan insting yang katanya berbakat jadi pembalap haha….. eits kok jadi nggak nyambung yah ceritanya???!!!…..
Baiklah kembali ke ceritaku sobat, di tengah sepedaku yang melaju dengan kencang, pandangan jauh di depan lampu merah telah menyala. Aku pun mengurangi laju kecepatan motorku dengan setengah kopling plus rem sedikit demi sedikit.
Shit…shit…..shit……dengan gesit ku coba berada di barisan terdepan tepat di belakang zebra cross. Ada pemandangan yang membuatku termenung. Di samping lampu merah itu, sosok ibu tua dengan rambutnya yang hampir semua telah beruban dan badannya pun telah bungkuk, tengah menggendong rambak (krupuk). Di tangan kanan kirinya pun ia menenteng rentetan rambak.
Ku lihat ia berjalan sembari menawarkan kepada seorang wanita muda yang ada di depannya. Namun sang wanita itu enggan membeli. Ibu tua itu pun mencoba beberapa kali untuk menawarkannya, hingga akhirnya wanita itu pergi. Ibu tua itu pun berjalan sembari mencoba menawarkan daganyannya kembali.
Pe4mandangan yang tidak biasa menurutku. Luar biasa, di tengah usianya yang makin tua, ku tebak sekitar 70 tahun, ia masih begitu semangat mencari rezeki allah dengan berdagang, bukan minta-minta atau menyodorkan tangan di lampu merah.
Kontras sekali dengan pemandangan para remaja atau pemuda di kota, meski semangatnya lagi menggebu-gebu, jalannya masih panjang, tapi ia justru menengadahkan tangannya/ngamen di lampu merah ataupun angkutan umum. Apa nggak malu ya dengan si ibu tua ini. gumamku dalam hati.
Lampu hijau pun telah menyala, dan kembali ku tancap gas poll sembari berpikir, “Bersemangatlah untuk meraih apapun yang bermanfaat. Kejarlah cita-cita sekencang laju sepeda. Jangan pernah letih sebagaimana ibu tua itu terus berusaha tanpa kenal lelah, letih, dan putus asa.”
Written By: Mahmud Ryan