ulang tahun

ulang tahun

Selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur, makin sukses, sehat selalu dan cepet ketemu jodoh….. (Wah kalo yang terakhir ini kayaknya nyindir banget hehehehe……)
Hari ulang tahun seringkali membuat kita lupa? Yah lupa bahwa makin bertambah umur sejatinya jatah hidup kita makin berkurang. Itu saja kalo umur kita sampai 60 tahun sebagaimana kata tauladan kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam,
أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah: 4236, Syaikh Al Albani mengatakan: hasan shahih)
Tapi adakah diantara kita yang bisa menjamin kalo umur kita bakalan sampai 60 tahun???? Kalo angan-angan mungkin, karena manusia memang punya angan-angan yang panjang. Karenanya sudah semestinya kita sadar, mana kala umur kian bertambah mari bermuhasabah (introspeksi diri), bukan malah hura-hura/foya-foya merayakan ualang tahun.
Berapa umurmu sekarang? Cobalah menengok ke belakang, apa yang telah kita perbuat dengan umur kita. Antara kebaikan dan keburukan, mana yang lebih banyak kita lakukan? Sudahkah kita bisa membahagiakan orangtua? Sudahkah kita bermanfaat untuk masyarakat? Atau justru sebaliknya????
Pertanyaan besar untuk kita semua? Sudahkah kita siap andai hari ini malaikat maut menjemput ajal??? Sudah berapa banyak bekal yang kita sipakan untuk menghadap Sang Pencipta Allah Ta’ala??? Sudah siapkah kita dimintai pertanggung jawaban atas umur yang Dia karuniakan pada kita????

Nasehat Imam Fudhail bin Iyadh
Nasehat ini kami ambil dari konsultasisyariah.com. Dikisahkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Imam Fudhail bin Iyadh – ulama besar di masa Tabi’ Tabiin – (w. 187 H) pernah bertemu dengan seorang yang sudah tua.
“Berapa usia anda?”, tanya Fudhail.
“60 tahun.”, Jawab orang itu.
“Anda selama 60 tahun berjalan menuju Tuhan anda, dan sebentar lagi anda akan sampai.” Komentar Fudhail
“Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un.” Orang itu keheranan.
“Anda paham makna kalimat itu? Anda paham tafsirnya?” tanya Fudhail.
“Tolong jelaskan tafsirnya?” Orang itu balik tanya.
“Anda menyatakan: innaa lillaah (kita milik Allah), artinya kita adalah hamba Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Siapa yang yakin bahwa dia hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, seharusnya dia menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah. Dan siapa yang meyakini hal ini, dia harus sadar bahwa dia akan ditanya. Dan siapa yang yakin hal ini, dia harus menyiapkan jawabannya.” Jelas Fudhail.
“Lalu bagaimana jalan keluarnya?” tanya orang itu.
“Caranya mudah.” Tegas Fudhail.
Kemudia Imam Fudhail menyebutkan sebuah teori bertaubat, yang layak dicatat dengan tinta emas,
تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ
“Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang.” (Hilyah Al Awliya’, 8/113)

Solo, 15 maret 2016. Catan pagi nan cerah dengan semangat pantang menyerah.
Alfaqir ila maghfirati rabbihi, Abdullah Saryanto